Korupsi Kuota Haji: KPK Endus Aliran Duit Haram Sampai ke Meja Dirjen, Hilman Latief Dicecar 11 Jam

Bangun Santoso

Jum'at, 19 September 2025 | 14:22 WIB
Korupsi Kuota Haji: KPK Endus Aliran Duit Haram Sampai ke Meja Dirjen, Hilman Latief Dicecar 11 Jam
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Hilman Latief usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK
baca 10 detik
  • KPK secara serius menduga Direktur Jenderal PHU Kemenag, Hilman Latief, menerima aliran dana dalam kasus korupsi kuota haji 
  • Akar masalah korupsi ini adalah perubahan ilegal alokasi 20.000 kuota haji tambahan dari seharusnya 92% reguler dan 8% khusus, menjadi 50:50
  • KPK telah mengantongi bukti kuat adanya praktik jual beli kuota dengan modus "uang percepatan" hingga 7.000 Dolar AS per jemaah

Suara.com - Sengkarut dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji memasuki babak baru yang semakin genting. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini secara terbuka menduga adanya aliran dana haram yang mengalir hingga ke pejabat eselon satu di Kementerian Agama.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Hilman Latief, menjadi pusat perhatian setelah diperiksa secara maraton selama lebih dari 11 jam di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (18/9/2025).

Hilman, yang tiba sekitar pukul 10.22 WIB dan baru keluar pada pukul 21.53 WIB, dicecar penyidik terkait perannya dalam skandal pembagian kuota haji tambahan. KPK tak main-main, mereka meyakini ada uang panas yang mampir ke meja sang Direktur Jenderal.

"Ya, kami penyidik memiliki dugaan bahwa ada aliran uang ke Dirjen sehingga itu yang menjadi utama. Kita berupaya untuk mendapatkan informasi dari yang bersangkutan," ujar Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (18/9) malam.

Menurut Asep, posisi Dirjen PHU sangat sentral dalam seluruh proses penyelenggaraan haji, termasuk dalam pengelolaan kuota tambahan sebanyak 20.000 jemaah yang menjadi sumber masalah.

Kuota itu merupakan hasil lobi Presiden Joko Widodo dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al-Saud, pada Oktober 2023 lalu.

Akal-akalan Pembagian Kuota yang Jadi Pintu Korupsi

KPK telah menemukan adanya Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dalam distribusi kuota tambahan tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019, pembagian kuota haji seharusnya 92% untuk jemaah reguler dan 8% untuk haji khusus. Artinya, dari 20.000 kuota tambahan, 18.400 semestinya untuk jemaah reguler dan 1.600 untuk haji khusus.

Namun, yang terjadi justru pembagiannya dibagi rata 50:50, yakni 10.000 untuk reguler dan 10.000 untuk khusus. Kebijakan janggal ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Nomor 130 Tahun 2024 yang ditandatangani oleh Menteri Agama saat itu, Yaqut Cholil Qoumas, pada 15 Januari 2024.

baca juga

"Jadi, dua-duanya. Ketika tadi alur perintahnya penerbitan SK tersebut, kita juga menanyakan tentang itu, menggali tentang itu, dari alur perintahnya menggali tentang itu. Bagaimana sampai SK ini terbit yang menjadi dasar kemudian terjadinya masalah ini," ucap Asep.

Modus 'Uang Percepatan' dan Ketakutan Oknum Kemenag

Skandal ini semakin terang benderang dengan munculnya kesaksian terkait modus "uang percepatan". KPK mengungkap ada oknum di Kemenag yang meminta uang pelicin antara 2.400 hingga 7.000 Dolar AS per orang untuk bisa langsung berangkat haji khusus tanpa antre. Salah satu yang menjadi korban adalah rombongan jemaah Ustaz Khalid Zeed Abdullah Basalamah.

Ironisnya, uang hasil pemerasan itu sempat dikembalikan oleh oknum Kemenag tersebut karena panik.

"Ada Pansus di DPR yang untuk melihat pembagian kuota haji ini. Dibuatlah pansusnya. Karena takut, karena ada ketakutan dari si oknum ini, kemudian dikembalikanlah uang itu," kata Asep.

Uang yang dikembalikan itulah yang kini disita KPK sebagai barang bukti kuat adanya praktik jual beli kuota.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nama PBNU Terseret Kasus Haji, KPK Buka Suara: Benarkah Hanya Incar Orangnya, Bukan Organisasinya?

Nama PBNU Terseret Kasus Haji, KPK Buka Suara: Benarkah Hanya Incar Orangnya, Bukan Organisasinya?

News | Jum'at, 19 September 2025 | 12:03 WIB

KPK Ungkap Kasus Korupsi Kuota Haji, Libatkan Hampir 400 Biro Perjalanan

KPK Ungkap Kasus Korupsi Kuota Haji, Libatkan Hampir 400 Biro Perjalanan

News | Jum'at, 19 September 2025 | 11:44 WIB

KPK Sita Uang Hingga Mobil dan Tanah dari Dirut BPR Jepara Artha dalam Kasus Kredit Fiktif

KPK Sita Uang Hingga Mobil dan Tanah dari Dirut BPR Jepara Artha dalam Kasus Kredit Fiktif

News | Jum'at, 19 September 2025 | 11:33 WIB

Terungkap! Modus Oknum Kemenag Peras Ustaz Khalid Basalamah dalam Kasus Kuota Haji

Terungkap! Modus Oknum Kemenag Peras Ustaz Khalid Basalamah dalam Kasus Kuota Haji

News | Jum'at, 19 September 2025 | 11:33 WIB

Diungkap KPK, Ustaz Khalid Basalamah Beralih dari Haji Furoda ke Khusus Gegara Dihasut Oknum Kemenag

Diungkap KPK, Ustaz Khalid Basalamah Beralih dari Haji Furoda ke Khusus Gegara Dihasut Oknum Kemenag

News | Jum'at, 19 September 2025 | 11:11 WIB

KPK Ungkap Modus 'Pecah Kuota' Biro Haji: Sengaja Ciptakan Kelangkaan Demi Harga Mahal

KPK Ungkap Modus 'Pecah Kuota' Biro Haji: Sengaja Ciptakan Kelangkaan Demi Harga Mahal

News | Jum'at, 19 September 2025 | 11:06 WIB

Terkini

Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku: Memahami Bahasa Tubuh Manusia

Membaca Pikiran Orang Seperti Membaca Buku: Memahami Bahasa Tubuh Manusia

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 18:35 WIB

Dari Cabut Izin hingga Kompensasi Korban, Ini 5 Tuntutan Koalisi soal Karhutla

Dari Cabut Izin hingga Kompensasi Korban, Ini 5 Tuntutan Koalisi soal Karhutla

News | Selasa, 03 November 2026 | 18:34 WIB

Dekan FEB Unair: Ekonomi Kuartal III-2026 Tumbuh 5,3 Persen, Investasi dan Manufaktur Menguat

Dekan FEB Unair: Ekonomi Kuartal III-2026 Tumbuh 5,3 Persen, Investasi dan Manufaktur Menguat

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 18:30 WIB

Sinopsis Love and Wifi in the Palace, Cinta Beda Zaman Lewat Smartphone

Sinopsis Love and Wifi in the Palace, Cinta Beda Zaman Lewat Smartphone

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 18:30 WIB

Bukan Hanya Warga Miskin, Desil 7-8 Juga Diusulkan Dapat BPJS PBI

Bukan Hanya Warga Miskin, Desil 7-8 Juga Diusulkan Dapat BPJS PBI

News | Selasa, 03 November 2026 | 18:28 WIB

Lip Balm Tinted untuk Apa? Intip Manfaat dan 3 Rekomendasinya

Lip Balm Tinted untuk Apa? Intip Manfaat dan 3 Rekomendasinya

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 18:25 WIB

Bermain di Teras Saat Hujan, Bocah 12 Tahun di Gandus Palembang Tewas Tersengat Listrik

Bermain di Teras Saat Hujan, Bocah 12 Tahun di Gandus Palembang Tewas Tersengat Listrik

Sumsel | Selasa, 03 November 2026 | 18:21 WIB

MA Batalkan Suket SMA Gibran, Ada Apa dengan Syarat Cawapres 2024?

MA Batalkan Suket SMA Gibran, Ada Apa dengan Syarat Cawapres 2024?

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 18:15 WIB

5 Toner Lokal untuk Menyamarkan Pori-pori dan Mengontrol Minyak Berlebih

5 Toner Lokal untuk Menyamarkan Pori-pori dan Mengontrol Minyak Berlebih

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 18:15 WIB

Pramono Anung Sebut Obligasi Jakarta Belum Direstui Pemerintah Pusat

Pramono Anung Sebut Obligasi Jakarta Belum Direstui Pemerintah Pusat

News | Selasa, 03 November 2026 | 18:14 WIB

×