Kenapa Keputusan Trump Buka Suaka Margasatwa Arktik untuk Pengeboran Minyak Tuai Kontroversi?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:56 WIB
Kenapa Keputusan Trump Buka Suaka Margasatwa Arktik untuk Pengeboran Minyak Tuai Kontroversi?
Lapisan es Arktik di Kutub Utara. (NASA)
    • Pemerintah Trump membuka lebih dari 630 ribu hektar Suaka Margasatwa Arktik untuk eksplorasi minyak, termasuk wilayah suci Suku Gwich’in.
    • Suku Gwich’in menolak karena khawatir habitat rusa Porcupine rusak, sedangkan sebagian Iñupiaq mendukung demi ekonomi lokal.
    • Aktivis lingkungan menilai kebijakan ini mengutamakan bisnis daripada alam dan hak adat, serta berencana menggugat ke pengadilan.

Suara.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perdebatan besar karena baru-baru ini Trump telah menyetujui rencana membuka kawasan Suaka Margasatwa Arktik Nasional (Arctic National Wildlife Refuge) untuk pengeboran minyak dan gas

Keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat, Doug Burgum, pada Kamis (23/10).

Ia menjelaskan bahwa langkah itu membuka peluang ekonomi melalui penjualan izin sewa bagi perusahaan energi di dataran pantai arktik dengan luas 631.309 hektar. Dimana sebagian area tersebut termasuk wilayah yang dianggap suci oleh Suku Adat Gwich’in.

Donald Trump [Instagram/realDonaldTrump]
Donald Trump [Instagram/realDonaldTrump]

Menurutnya, Kebijakan ini merupakan bagian dari janji politik lama Partai Republik untuk mendorong kembali eksplorasi minyak di Alaska. Bahkan, aturan pajak yang disahkan semasa kepemimpinan Trump juga menyertakan mandat agar pemerintah melakukan sedikitnya empat kali penjualan izin sewa di kawasan itu dalam waktu sepuluh tahun.

Namun, langkah tersebut langsung menuai penolakan keras, terutama dari masyarakat adat dan aktivis lingkungan.

Suku Gwich’in yang tinggal di sekitar kawasan itu menilai dataran pantai Arktik sebagai tempat spiritual yang harus dijaga. Mereka khawatir, jika pengeboran dilakukan, rusa kutub Porcupine yang menjadi sumber pangan dan bagian penting dari tradisi mereka akan terusir dan mengancam keberlangsungan hidupnya.

Sebaliknya, Para pemimpin Kaktovik atau suku Iñupiaq yang juga tinggal di dalam kawasan tersebut, justru mendukung langkah pemerintah AS. Mereka berpendapat bahwa eksploitasi minyak jika dilakukan secara bertanggung jawab dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah tersebut yang selama ini terisolasi.

"Sangat menggembirakan melihat para pengambil keputusan di Washington memajukan kebijakan yang menghormati suara kami dan mendukung kesuksesan jangka panjang Kaktovik," ujar Presiden Kaktovik Iñupiat Corp., Charles “CC” Lampe, dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari The Wilderness Society, Meda DeWitt, menilai pemerintah menempatkan kepentingan bisnis di atas kehidupan masyarakat adat, budaya, tanggung jawab spiritual masyarakat, dan kesehatan Arctic Refuge.

Selain membuka peluang pengeboran minyak, pemerintah Trump juga ingin mempercepat proyek pembangunan jalan penghubung antara King Cove dan Cold Bay di Alaska bagian selatan. Jalan ini direncanakan melintasi Suaka Margasatwa Nasional Izembek, yang menjadi rumah bagi ribuan burung migrasi dari seluruh dunia.

Pemerintah berdalih, membangun proyek jalan tersebut penting untuk alasan kemanusiaan, karena akan memudahkan warga King Cove menuju bandara di Cold Bay untuk akses medis darurat.

Namun, kelompok konservasi dan beberapa komunitas adat Yup’ik menolak keras. Mereka khawatir pembangunan jalan akan merusak habitat unggas air dan ekosistem lahan basah yang dilindungi secara internasional.

Organisasi lingkungan Center for Biological Diversity menilai perjanjian pertukaran lahan yang dilakukan untuk proyek jalan itu berisiko tinggi. Mereka menyebut pemerintah menukar sekitar 200 hektar kawasan alami yang tak tergantikan dengan 700 hektar tanah di luar suaka yang nilai ekologisnya jauh lebih rendah.

Namun Senator Republik asal Alaska, Lisa Murkowski, yang sejak lama mendukung proyek jalan ini, mengatakan bahwa rencana itu telah melalui proses pertimbangan yang panjang.Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak akan dilakukan secara besar-besaran.

“Ini bukan jalan besar untuk truk atau kegiatan industri. Hanya jalan kecil sepanjang 18 kilometer yang akan dipakai warga untuk keadaan darurat,” ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menteri PPPA Resmikan Playground Inklusif, Dorong Lingkungan Kerja Ramah Keluarga

Menteri PPPA Resmikan Playground Inklusif, Dorong Lingkungan Kerja Ramah Keluarga

Lifestyle | Senin, 27 Oktober 2025 | 17:29 WIB

Misteri Lawatan Trump ke Asia: Sinyal Kejutan dari Korut, Kim Jong Un Sudah Menanti?

Misteri Lawatan Trump ke Asia: Sinyal Kejutan dari Korut, Kim Jong Un Sudah Menanti?

News | Sabtu, 25 Oktober 2025 | 14:54 WIB

Momen Langka di Kuala Lumpur, Donald Trump dan Prabowo Subianto Hadiri KTT ASEAN

Momen Langka di Kuala Lumpur, Donald Trump dan Prabowo Subianto Hadiri KTT ASEAN

News | Sabtu, 25 Oktober 2025 | 14:18 WIB

Terkini

Usut Tragedi KRL Bekasi: Polisi Periksa Bos Taksi Green SM hingga Ditjen Perkeretaapian Hari Ini

Usut Tragedi KRL Bekasi: Polisi Periksa Bos Taksi Green SM hingga Ditjen Perkeretaapian Hari Ini

News | Senin, 04 Mei 2026 | 09:17 WIB

Mahasiswa Kepung Jakarta Hari Ini: 3.225 Polisi Siaga di Titik Demo DPR, Kemendikti, hingga Gambir

Mahasiswa Kepung Jakarta Hari Ini: 3.225 Polisi Siaga di Titik Demo DPR, Kemendikti, hingga Gambir

News | Senin, 04 Mei 2026 | 08:54 WIB

Anggaran Pendidikan Tembus Rp19,75 Triliun, DPRD: Tak Boleh Ada Lagi Anak Putus Sekolah di Jakarta!

Anggaran Pendidikan Tembus Rp19,75 Triliun, DPRD: Tak Boleh Ada Lagi Anak Putus Sekolah di Jakarta!

News | Senin, 04 Mei 2026 | 08:32 WIB

Remaja 17 Tahun di Cipondoh Dicekoki Miras Lalu Diperkosa, Pelaku Utama Masih Buron!

Remaja 17 Tahun di Cipondoh Dicekoki Miras Lalu Diperkosa, Pelaku Utama Masih Buron!

News | Senin, 04 Mei 2026 | 08:14 WIB

Maut di Balik Salaman Terakhir: Eks Menantu Dalangi Perampokan Sadis Lansia di Pekanbaru

Maut di Balik Salaman Terakhir: Eks Menantu Dalangi Perampokan Sadis Lansia di Pekanbaru

News | Senin, 04 Mei 2026 | 07:40 WIB

Oknum Guru di Bengkayang Ditangkap, Polisi Dalami Kasus Kekerasan Seksual Anak

Oknum Guru di Bengkayang Ditangkap, Polisi Dalami Kasus Kekerasan Seksual Anak

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 22:29 WIB

5 Hari Pencarian, Pemancing Tenggelam di Payangan Ditemukan Meninggal

5 Hari Pencarian, Pemancing Tenggelam di Payangan Ditemukan Meninggal

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 21:36 WIB

Prabowo Bahas Pengawasan Aliran Dana Bersama PPATK di Hambalang

Prabowo Bahas Pengawasan Aliran Dana Bersama PPATK di Hambalang

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 21:14 WIB

Rencana Awal Berubah Jadi Pembunuhan Sekeluarga, Fakta Baru Kasus Rumbai Terungkap

Rencana Awal Berubah Jadi Pembunuhan Sekeluarga, Fakta Baru Kasus Rumbai Terungkap

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 21:08 WIB

Pembunuhan di Rumbai Terungkap, Menantu Korban Diduga Jadi Otak Pelaku

Pembunuhan di Rumbai Terungkap, Menantu Korban Diduga Jadi Otak Pelaku

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 21:00 WIB