-
Oknum ASN Kota Pasuruan (BE, 39) ditangkap Polres Probolinggo Kota karena memperkosa keponakannya (16) hingga tiga kali.
-
Pelaku menggunakan bujuk rayu, janji, dan iming-iming untuk memperdaya korban.
-
Pelaku dijerat UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Suara.com - Kepolisian Resor (Polres) Probolinggo Kota berhasil menangkap oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Pasuruan berinisial BE (39) terkait kasus tindakan asusila dan persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang tak lain adalah keponakannya sendiri.
Penangkapan tersangka yang berdomisili di Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, ini dilakukan pada akhir Oktober 2025.
Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Rico Yumasri, dalam keterangannya, Kamis, mengonfirmasi penangkapan BE, yang merupakan paman kandung korban.
Kasus ini mencuat ke publik setelah keluarga korban melaporkan kejadian tersebut pada 19 September 2025.
Berikut adalah 5 Fakta Kunci terkait kasus asusila yang melibatkan paman dan keponakan ini:
1. Korban Mengalami Depresi Setelah Tiga Kali Dicabuli
Korban, yang diidentifikasi dengan inisial M (16), dilaporkan mengalami perubahan perilaku drastis, menjadi murung, dan sering mengurung diri di kamar setelah kejadian.
Perubahan inilah yang memicu kecurigaan sang ibu. Setelah dibujuk, korban akhirnya berterus terang telah diperdayai dan dicabuli oleh pamannya sendiri.
Dari pengakuan korban dan hasil penyidikan, aksi bejat ini diduga dilakukan tiga kali di rumah pelaku di kawasan Kedopok dalam waktu yang berbeda.
2. Modus Operandi Menggunakan Bujuk Rayu dan Iming-Iming
Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota, Iptu Zainal Arifin, menjelaskan bahwa dalam melancarkan aksinya, pelaku menggunakan bujuk rayu dan iming-iming.
Pelaku merayu keponakannya untuk berhubungan layaknya suami istri dengan menjanjikan sejumlah hadiah, uang, dan janji manis.
Polisi kini masih mendalami apakah tersangka memiliki kelainan perilaku seksual tertentu.
3. Tersangka ASN Aktif Kota Pasuruan
Identitas pelaku, BE (atau BHN dalam beberapa keterangan), dikonfirmasi sebagai ASN aktif di Pemerintah Kota Pasuruan.
Statusnya sebagai paman kandung korban menjadi faktor yang memudahkan pelaku melancarkan aksinya karena adanya hubungan kepercayaan keluarga.
Penetapan tersangka dilakukan pada 28 Oktober 2025 setelah polisi mengumpulkan dua alat bukti kuat, melakukan pemeriksaan saksi, dan visum et repertum terhadap korban.
4. Polisi Sita Bukti Kunci dan Bantah Isu Video Asusila
Selain mengamankan pelaku, penyidik juga menyita sejumlah barang bukti penting, termasuk pakaian korban dan dua unit telepon genggam milik pelaku dan korban.
Terkait isu yang sempat beredar di media sosial mengenai adanya video mesum yang menampilkan keduanya, pihak kepolisian membantah tegas.
5. Pelaku Dijerat UU Perlindungan Anak dengan Ancaman 15 Tahun Penjara
Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) subsider Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang ini mengatur sanksi pidana yang berat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Kota Probolinggo untuk penanganan dan perlindungan korban.