Berkaca dari Tragedi Alvaro, Kenapa Dendam Orang Dewasa Anak Jadi Pelampiasan?

Dwi Bowo Raharjo | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 28 November 2025 | 18:57 WIB
Berkaca dari Tragedi Alvaro, Kenapa Dendam Orang Dewasa Anak Jadi Pelampiasan?
Alvaro Kiano Nugroho, bocah 6 tahun tewas setelah diculik dan dibunuh oleh ayah tirinya. (Suara.com/ dok. Ist)
  • Penemuan kerangka Alvaro (6) mengakhiri pencarian delapan bulan dan memicu kesedihan mendalam ibunya, Arum.
  • Data Kemen PPPA 2025 menunjukkan lebih dari 60 persen kasus kekerasan anak terjadi di lingkungan rumah tangga.
  • Seto Mulyadi menyebut konflik orang dewasa seringkali membuat anak menjadi sasaran pelampiasan emosi yang tidak berdaya.

Suara.com - Harapan Arum untuk memeluk kembali putranya, Alvaro Kiano Nugroho (6), dalam keadaan selamat, musnah seketika.

Senin (24/11) malam, suasana rumah duka di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, berubah menjadi 'lautan' air mata saat sang ibu tiba.

Delapan bulan lamanya Arum bertahan dalam ketidakpastian. Namun, takdir berkata lain. Malam itu bukan pertemuan yang ia impikan, melainkan kenyataan pahit yang harus ia telan.

Di hadapan awak media, pertahanan Arum runtuh. Suaranya tercekat, nyaris tak terdengar saat mencoba merespons pertanyaan wartawan di tengah duka yang mendalam.

“Enggak (menyangka) sama sekali (akhirnya begini). Belum bisa banyak jawab,” ujarnya.

Penemuan kerangka manusia yang diduga kuat sebagai jasad Alvaro tak hanya mengakhiri pencarian panjang ini, tetapi juga menguak kembali luka lama akibat keretakan rumah tangga.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bagaimana konflik orang dewasa kerap menempatkan anak-anak sebagai korban yang paling tidak berdaya.

Krnologo kasus Alvaro Kiano Nugroho, bocah 6 tahun yang dibunuh ayah tirinya. (Suara.com)
Krnologo kasus Alvaro Kiano Nugroho, bocah 6 tahun yang dibunuh ayah tirinya. (Suara.com)

Anak-anak itu menjadi korban yang tak punya pilihan, tak punya suara, dan tak punya ruang untuk melindungi dirinya sendiri.

Ancaman yang Mengintai di Dalam Rumah

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) tahun 2025 memperlihatkan fakta yang mencemaskan: 58,75 persen kasus kekerasan terjadi di lingkungan rumah tangga.

Sementara itu, data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) Kemen PPPA menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Oktober 2025 terdapat 25.180 kasus kekerasan dengan 26.861 korban. Dari jumlah itu, 14.795 kasus terjadi di rumah, dengan 15.657 korban, dan lebih dari 60 persen di antaranya adalah anak-anak.

Angka-angka ini menegaskan satu hal: bagi banyak anak Indonesia, rumah justru menjadi ruang paling rentan. Kekerasan tidak selalu datang dari orang asing; seringkali dari figur yang seharusnya memberikan perlindungan—orang tua, pasangan baru, atau anggota keluarga dekat.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Desy Andriani, menyoroti fenomena berulang di balik banyak kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kasus Alvaro: lemahnya kehati-hatian dalam memilih pasangan baru setelah berpisah.

"Kita juga ini melihat suatu fenomena Pasangannya keliru, salah. Keliru dalam memiliki pasangan, apalagi pasangan yang berlanjut, pasangan yang sambung istilahnya, dampaknya kepada anak," kata Desy.

Ia menegaskan bahwa keputusan untuk menikah lagi harus menempatkan keamanan dan tumbuh kembang anak sebagai pertimbangan utama.

Banyak kekerasan terjadi karena orang dewasa terlalu fokus pada hubungan barunya, tanpa menilai apakah pasangan tersebut benar-benar aman bagi anak.

"Hati-hati bagi yang pernah selesai satu tahap pernikahan, menyambung lagi, butuh kehati-hatian. Yang kita pertimbangkan adalah keberlanjutan kehidupan si anak, tumbuh kembanganan," pesannya.

Ketika Konflik Orang Dewasa Dilampiaskan ke Anak

Psikolog anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto, melihat pola yang menguat dalam sejumlah kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan pasangan orang tua: anak dijadikan pelampiasan emosi orang dewasa.

“Dia begitu dendamnya, begitu marahnya, akhirnya agresivitasnya disalurkan dengan cara membalas yang lebih menyakitkan. Ini banyak kasus begitu, anak mengalami kekerasan sampai meninggal,” kata Kak Seto.

Seto Mulyadi atau Kak Seto di Rumah Sakit (RS) Medistra, Jakarta, Kamis (10/4/2025). [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]
Seto Mulyadi atau Kak Seto. [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]

Motifnya bisa bermacam-macam, kecemburuan, perselingkuhan, masalah ekonomi, relasi rumah tangga yang tidak sehat, tetapi ujungnya sama, anak dijadikan sasaran.

Kak Seto juga melihat kalau kekinian banyak orang dewasa yang seolah tidak menghargai hak hidup anak. Sayangnya, sulit mendapatkan angka pasti soal tren kekerasan terhadap anak karena banyak kasus tidak terdeteksi.

“Fenomena gunung es,” sebutnya.

Banyak kekerasan yang tidak dilaporkan atau tidak diketahui publik.

Membangun Teman Aman untuk Anak

Selain peran keluarga dan masyarakat, sekolah pun disebut punya andil penting. Menurut Kak Seto, anak harus dibekali pemahaman dasar tentang apa yang harus mereka lakukan jika merasa tidak aman di rumah.

“Anak-anak sebaiknya cepat minta perlindungan. Kalau ada apa-apa, datang ke RT, datang ke tetangga sebelah, cepat mengadu,” jelasnya.

Anak perlu tahu bahwa mereka berhak mendapatkan pertolongan—baik dari guru, tetangga, keluarga besar, maupun layanan perlindungan anak. Pengetahuan ini sederhana, tetapi bisa menyelamatkan nyawa.

Kasus Alvaro menunjukkan betapa berat konsekuensi ketika anak tidak memiliki ruang aman untuk berlindung.

Tragedi ini mengingatkan bahwa keretakan hubungan orang dewasa tidak boleh menjadikan anak sebagai korban.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Babak Baru Kasus Alvaro Kiano: Polisi Dalami Keterlibatan Pihak Lain, Siapa Komplotan Alex?

Babak Baru Kasus Alvaro Kiano: Polisi Dalami Keterlibatan Pihak Lain, Siapa Komplotan Alex?

News | Jum'at, 28 November 2025 | 15:08 WIB

Francine PSI Tagih Janji Pramono: kalau Saja Ada CCTV yang Memadai, Mungkin Nasib Alvaro Beda

Francine PSI Tagih Janji Pramono: kalau Saja Ada CCTV yang Memadai, Mungkin Nasib Alvaro Beda

News | Jum'at, 28 November 2025 | 10:36 WIB

86 Korban Ledakan SMAN 72 Dapat Perlindungan LPSK, Namun Restitusi Tak Berlaku bagi Pelaku Anak

86 Korban Ledakan SMAN 72 Dapat Perlindungan LPSK, Namun Restitusi Tak Berlaku bagi Pelaku Anak

News | Kamis, 27 November 2025 | 20:04 WIB

Terungkap! Rangkaian Kekejaman Alex, Bocah Alvaro Kiano Dibekap Handuk, Dicekik, Jasad Dibuang

Terungkap! Rangkaian Kekejaman Alex, Bocah Alvaro Kiano Dibekap Handuk, Dicekik, Jasad Dibuang

News | Kamis, 27 November 2025 | 22:10 WIB

Terkini

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

News | Senin, 13 April 2026 | 18:00 WIB

Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal

Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal

News | Senin, 13 April 2026 | 17:55 WIB

Jejak Gelap Aep Saepudin: Sosok Pendiam di Rancaekek yang Jadi Broker Senpi Ilegal Ki Bedil

Jejak Gelap Aep Saepudin: Sosok Pendiam di Rancaekek yang Jadi Broker Senpi Ilegal Ki Bedil

News | Senin, 13 April 2026 | 17:53 WIB

Esra Erkomay: Deteksi Dini Harus Jadi Budaya Agar Kanker di Indonesia Bukan Lagi Vonis Mati

Esra Erkomay: Deteksi Dini Harus Jadi Budaya Agar Kanker di Indonesia Bukan Lagi Vonis Mati

News | Senin, 13 April 2026 | 17:50 WIB

Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia

Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia

News | Senin, 13 April 2026 | 17:40 WIB

Nekat Foto di Jalur Maut Sitinjau Lauik, Rombongan Arteria Dahlan Bikin Polisi Kena Getahnya!

Nekat Foto di Jalur Maut Sitinjau Lauik, Rombongan Arteria Dahlan Bikin Polisi Kena Getahnya!

News | Senin, 13 April 2026 | 17:26 WIB

Operasi Imigrasi Sapu Bersih, 346 WNA Diciduk dalam 5 Hari

Operasi Imigrasi Sapu Bersih, 346 WNA Diciduk dalam 5 Hari

News | Senin, 13 April 2026 | 17:15 WIB

Tolak 'War Tiket Haji', Maman DPR: Ibadah Bukan Ajang Kompetisi Klik Internet!

Tolak 'War Tiket Haji', Maman DPR: Ibadah Bukan Ajang Kompetisi Klik Internet!

News | Senin, 13 April 2026 | 17:10 WIB

1,5 Tahun Menjabat, Kepercayaan Publik pada Prabowo Tembus 75,1 Persen, MBG Jadi Faktor Utama

1,5 Tahun Menjabat, Kepercayaan Publik pada Prabowo Tembus 75,1 Persen, MBG Jadi Faktor Utama

News | Senin, 13 April 2026 | 17:05 WIB

Kepuasan Publik ke Prabowo-Gibran Tembus 74,1 Persen, Program MBG Jadi Faktor Utama

Kepuasan Publik ke Prabowo-Gibran Tembus 74,1 Persen, Program MBG Jadi Faktor Utama

News | Senin, 13 April 2026 | 17:03 WIB