- Aksi balas dendam kelompok debt collector di Kalibata, Jakarta Selatan, dipicu kematian dua anggota mereka akibat pengeroyokan polisi.
- Kerugian material akibat pembakaran kios, tujuh motor, dan empat mobil ditaksir Polda Metro Jaya mencapai hampir Rp1,2 miliar.
- Polda Metro Jaya menunggu laporan resmi korban trauma sambil mempertimbangkan revitalisasi kawasan bersama pemerintah daerah.
Suara.com - Aksi balas dendam kelompok debt collector atau mata elang (matel) yang dipicu pengeroyokan maut oleh anggota polisi di Kalibata, Jakarta Selatan, meninggalkan luka panjang bagi pedagang dan warga sekitar.
Polda Metro Jaya mengungkapkan, total kerugian akibat pembakaran dan perusakan kios pedagang itu ditaksir mencapai hampir Rp1,2 miliar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto bahkan mengatakan, kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menyasar kios pedagang, tetapi juga kendaraan dan rumah warga di sekitar lokasi kejadian.
“Terkait pengrusakan dan pembakaran terhadap korban-korban, baik itu warung tenda, ada kemarin disampaikan tujuh sepeda motor dan empat unit mobil,” ujar Budi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (13/12/2025).
Menurutnya, hingga kini aparat masih menunggu laporan resmi dari warga.
Trauma yang dialami korban membuat sebagian belum berani melapor, padahal dampak kerusakan sangat besar karena menyangkut sumber mata pencarian.
“Kita masih mencoba menunggu karena memang ada rasa trauma dari warga sekitar, termasuk rumah yang kacanya dipecahkan, warung yang dibakar. Ini merupakan mata pencarian bagi warga kita,” ucapnya.
Budi menyebut, berdasarkan estimasi awal, nilai kerugian material akibat amukan massa mencapai angka signifikan.
“Secara umum sudah dilakukan estimasi penghitungan lebih kurang hampir Rp1,2 miliar dari total kerugian warung, sepeda motor, mobil, serta kaca rumah warga,” katanya.
Polda Metro Jaya, kata Budi, kekinian juga tengah membuka opsi untuk melakukan revitalisasi kawasan terdampak bersama pemerintah daerah, termasuk skema bantuan bagi para korban.
“Ini yang akan kami coba bahas apakah Polda Metro Jaya bersama pemerintah akan melakukan revitalisasi, termasuk memberikan bantuan dan mungkin penghitungan terhadap korban,” jelasnya.
Meski demikian, proses hukum tetap berjalan. Budi menegaskan, begitu laporan polisi masuk, penyidik akan segera bertindak untuk memburu para pelaku pembakaran dan perusakan.
“Kalau laporan polisi itu sudah masuk, pasti penyidik Polda Metro akan turun dan melakukan proses upaya paksa terhadap pelaku-pelaku pembakaran tersebut,” tegasnya.
Aksi Balas Dendam
Seperti diberitakan sebelumnya, kerusuhan di Kalibata dipicu pengeroyokan yang menewaskan dua debt collector berinisial MET (41) dan NAT (32).
Insiden bermula saat keduanya menghentikan sepeda motor milik anggota Polri dan mencabut paksa kunci kontak kendaraan tersebut.
Cekcok di lokasi berujung pengeroyokan hingga kedua matel tewas. Peristiwa itu kemudian memicu aksi balas dendam kelompok debt collector lain yang berujung pembakaran puluhan kios pedagang, kendaraan, dan perusakan rumah warga.
Andi, pegawai lapak Selera Sambal Mentah, salah satu yang merasakan langsung kengerian aksi balas dendamkelompok debt collector tersebut.
![Petugas pemadam kebakaran memadamkan api yang membakar kios pedagang usai dibakar massa saat kericuhan di kawasan Kalibata, Jakarta, Kamis (11/12/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/rwa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/12/75457-kerusuhan-di-kalibata-kericuhan-di-kalibata.jpg)
Saat kejadian ia mengaku sempat diperingatkan untuk bersembunyi di dalam ruko. Namun, keputusan itu justru nyaris merenggut nyawanya.
“Begitu saya tutup malah warung saya yang dibakar. Kalau saya diam aja di sini ya mungkin saya sama teman-teman jadi sate di dalam,” katanya saat ditemui di lokasi, Jumat (12/12/2025).
Ia dan tiga rekannya lalu berhasil selamat setelah nekat menjebol atap dan melompat ke tempat aman.
Sementara Chef Henny Maria, pemilik Steak Together, saat ditemui Suara.com hanya bisa menatap nanar rukonya yang hanya menyisakan sebuah kulkas.
“Habis semua barang-barang,” ungkapnya pilu.
Ia memperkirakan kerugian renovasi saja mencapai Rp100 juta.
“Ya saya sih berharap dari pemerintah atau mungkin UMKM kami bisa mendapatkan bantuan," ucapnya.