Beda dengan SBY saat Tsunami Aceh, Butuh Nyali Besar Presiden Tetapkan Status Bencana Nasional

Dwi Bowo Raharjo

Rabu, 17 Desember 2025 | 17:57 WIB
Beda dengan SBY saat Tsunami Aceh, Butuh Nyali Besar Presiden Tetapkan Status Bencana Nasional
Saat banjir bandang di Sumatera. [Antara]
baca 10 detik
  • Pemerintah Pusat belum menetapkan status Bencana Nasional pasca banjir dan longsor di Sumatera meski kerusakannya dinilai parah.
  • Pengamat menilai keterlambatan ini indikasi keraguan pemimpin karena status nasional membuka pintu bantuan asing dan tanggung jawab rehabilitasi alam.
  • Tanpa status nasional, sumber daya negara tidak dapat dikerahkan maksimal dan memengaruhi kemudahan masuknya bantuan asing krusial.

Suara.com - Hampir satu bulan berlalu sejak banjir bandang dan longsor menerjang Sumatera, namun Pemerintah Pusat belum juga menetapkan status Bencana Nasional.

Padahal, skala kerusakan bencana ini dinilai jauh lebih dahsyat dibandingkan Tsunami Aceh 2004, baik dari sisi cakupan wilayah maupun kompleksitas dampaknya.

Arsitek sekaligus pengamat tata kota, Marco Kusumawijaya, menilai keterlambatan ini bukan sekadar persoalan administrasi.

Lebih dari itu, hal ini mengindikasikan adanya keraguan di level pimpinan tertinggi. Bagi Marco, penetapan status darurat nasional saat ini adalah ujian keberanian seorang pemimpin.

"Untuk menetapkan status darurat bencana nasional itu perlu nyali besar. Karena Anda harus berani membuka negara Anda," ujar Marco saat berbincang di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, dikutip Rabu (17/12/2025).

Dalam analisisnya, Marco menyebut penetapan status nasional membawa konsekuensi berat yang menuntut mental baja Presiden.

Negara harus siap membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan asing dan menaruh kepercayaan penuh pada pihak luar jika status tersebut diterapkan.

“Anda harus punya kepercayaan kepada orang bahwa orang datang untuk membantu bukan untuk aneh-aneh gitu. Kemudian Anda mungkin harus percaya kepada tim yang Anda bisa tunjuk untuk menangani ini. Nah itu perlu nyali besar menurut saya,” ungkapnya.

Ia membandingkan situasi ini dengan respons cepat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Tsunami Aceh. Kala itu, hanya dalam 2-3 hari pasca-kejadian, status bencana nasional langsung ditetapkan.

baca juga

Respons cepat ini krusial karena menyangkut penyelamatan nyawa di masa kritis (golden time).

Sebaliknya, respons pemerintah saat ini dinilai terlambat dan tidak terkoordinasi di hari-hari pertama yang sangat menentukan.

Tanpa label "Bencana Nasional", Marco menyoroti dampak fatal di lapangan: sumber daya negara tidak bisa dikerahkan secara full power.

"Konsekuensinya, sumber daya nasional tidak bisa sepenuhnya dikerahkan. Kemudahan untuk bantuan asing juga agak tertunda. Yang jelas misalnya militer enggak bisa masuk. Padahal, bantuan asing itu seringkali melalui bantuan militer karena tentara lah yang bisa bergerak cepat," paparnya.

Selain itu Marco juga menepis kekhawatiran berlebihan soal kehadiran militer asing. Berkaca dari pengalaman Aceh, kehadiran mereka murni kemanusiaan dan bersifat sementara.

Seorang warga berjalan di depan rumah yang luluh lantak pascabanjir di Desa Bundar, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (9/12/2025). [ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/mrh/foc]
Seorang warga berjalan di depan rumah yang luluh lantak pascabanjir di Desa Bundar, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (9/12/2025). [ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso]

“Tapi waktu zaman tsunami Aceh juga kan kemudian tentara asing dibatasi dan fine-fine aja. Karena memang tentara tidak perlu lama. Karena yang menentukan itu adalah di hari-hari pertama. Karena di hari-hari pertama kita bisa menyelamatkan manusia. Kalau sudah lewat dari 3 hari sebetulnya sedikit kemungkinan untuk menyelamatkan manusia misalnya masih terjebak,” lanjut Marco.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rencana Sawit di Papua Dikritik, Prabowo Dinilai Siapkan Bencana Ekologis Baru

Rencana Sawit di Papua Dikritik, Prabowo Dinilai Siapkan Bencana Ekologis Baru

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 17:10 WIB

Prabowo Mau Tanam Sawit di Papua, Anggota Komisi IV DPR Ingatkan Pengalaman Pahit di Berbagai Daerah

Prabowo Mau Tanam Sawit di Papua, Anggota Komisi IV DPR Ingatkan Pengalaman Pahit di Berbagai Daerah

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 16:13 WIB

Prabowo Ingin Papua Ditanami Sawit, Demi Hemat Impor BBM Rp 520 Triliun?

Prabowo Ingin Papua Ditanami Sawit, Demi Hemat Impor BBM Rp 520 Triliun?

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 15:18 WIB

Prabowo Larang Pejabat ke Daerah Cuma Buat Foto: Jangan Wisata Bencana

Prabowo Larang Pejabat ke Daerah Cuma Buat Foto: Jangan Wisata Bencana

Video | Rabu, 17 Desember 2025 | 15:16 WIB

Prabowo Mau Tanam Sawit di Papua, DPR Beri Catatan: Harus Dipastikan Agar Tak Jadi Malapetaka

Prabowo Mau Tanam Sawit di Papua, DPR Beri Catatan: Harus Dipastikan Agar Tak Jadi Malapetaka

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 13:39 WIB

Terkini

Sosok Ini Disebut Sari yang Berikan Almamater UBSI di Acara Bersama Raffi Ahmad

Sosok Ini Disebut Sari yang Berikan Almamater UBSI di Acara Bersama Raffi Ahmad

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:55 WIB

Waketum Golkar Soal Suket Gibran: Urusan Hukum Hampir Final, Kini Masuk Politik Negara

Waketum Golkar Soal Suket Gibran: Urusan Hukum Hampir Final, Kini Masuk Politik Negara

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:49 WIB

Jay Idzes Cedera Parah, Terancam Absen di Ajang FIFA Matchday November?

Jay Idzes Cedera Parah, Terancam Absen di Ajang FIFA Matchday November?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:40 WIB

IHSG Ambruk 7% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp721 Triliun

IHSG Ambruk 7% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp721 Triliun

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:40 WIB

Respons Kapolresta Sleman Buntut Tudingan Mobilisasi Massa Rans Carnival yang Diboikot Warga

Respons Kapolresta Sleman Buntut Tudingan Mobilisasi Massa Rans Carnival yang Diboikot Warga

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:35 WIB

Kerja Keras Saja Tidak Cukup! Alasan Mengapa Keluar dari Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Usaha

Kerja Keras Saja Tidak Cukup! Alasan Mengapa Keluar dari Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Usaha

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:35 WIB

Bagaimana Cara Daftar Nikah Online? Ini Dokumen yang Perlu Disiapkan

Bagaimana Cara Daftar Nikah Online? Ini Dokumen yang Perlu Disiapkan

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:35 WIB

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:07 WIB

×