Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home

Bangun Santoso | Suara.com

Rabu, 07 Januari 2026 | 15:50 WIB
Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home
Ilustrasi kriminalitas (freepik)
  • Densus 88 Polri mengungkap 70 anak usia 11-18 tahun terpapar konten kekerasan ekstrem dalam grup *true crime community* di 19 provinsi.
  • Mayoritas anggota grup tersebut bergabung karena mengalami perundungan atau kondisi keluarga yang tidak utuh sebagai pencarian penerimaan.
  • Komunitas ini menyebar secara organik melalui konten digital seperti video dan meme, bukan merupakan organisasi terstruktur.

Suara.com - Sebuah fenomena mengkhawatirkan terungkap dari balik layar dunia digital anak-anak Indonesia. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri membongkar keberadaan sebuah grup true crime community yang ternyata menjadi 'rumah' bagi 70 anak, di mana mereka terpapar konten kekerasan ekstrem.

Temuan ini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan masyarakat, menunjukkan sisi gelap dari komunitas yang seringkali dianggap sekadar hobi membahas kasus-kasus kriminal.

Kenyataannya, grup ini telah menjadi wadah bagi paham berbahaya yang menyasar anak-anak rentan.

Juru Bicara Densus 88, Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana, memaparkan skala masalah yang ternyata sudah cukup meluas. Puluhan anak yang teridentifikasi ini tersebar di 19 provinsi di seluruh Indonesia.

"Di mana provinsi yang terbanyak, yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Setelah itu menyebar di beberapa daerah," katanya dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Profil usia para anggota grup ini pun semakin menambah keprihatinan. Mereka berada pada rentang usia yang sangat krusial, yakni 11 hingga 18 tahun, fase di mana pencarian jati diri sedang gencar-gencarnya terjadi.

"Didominasi oleh umur 15 tahun. Jadi, transisi antara SMP ke SMA," ucap Mayndra sebagaimana dilansir Antara.

Dari total 70 anak yang ditemukan, Densus 88 bergerak cepat dengan melakukan intervensi terhadap 67 di antaranya.

Langkah-langkah seperti asesmen psikologis, pemetaan jaringan, hingga konseling intensif dilakukan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memutus rantai paparan ekstremisme.

Mengapa Mereka Bergabung? Pemicunya Bikin Miris

Lebih dalam, hasil asesmen Densus 88 mengidentifikasi sejumlah luka batin dan masalah sosial yang menjadi pintu masuk bagi anak-anak ini ke dalam komunitas berbahaya tersebut.

Pemicu pertama dan yang paling umum adalah perundungan atau bullying. Mayoritas dari mereka adalah korban yang kerap diintimidasi, baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, membuat mereka merasa terasing dan tidak berdaya.

Faktor kedua adalah kondisi keluarga yang tidak utuh atau broken home. Latar belakang seperti orang tua bercerai, meninggal dunia, kurangnya perhatian, hingga trauma akibat menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi benang merah yang kuat.

Grup ini kemudian menawarkan apa yang tidak mereka dapatkan di rumah, yakni penerimaan dan rasa memiliki.

"Di sini (grup true crime community), mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini, aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," kata Mayndra.

Selain itu, akses gawai (gadget) yang berlebihan tanpa pengawasan orang tua serta paparan konten kekerasan dan pornografi secara terus-menerus menjadi faktor pendorong lainnya yang mempercepat mereka terjerumus.

Bukan Organisasi, Tapi Propaganda Digital

Mayndra menegaskan bahwa true crime community ini bukanlah sebuah organisasi terstruktur dengan tokoh pendiri. Sebaliknya, ia tumbuh secara sporadis, liar, dan organik di tengah derasnya arus informasi digital.

"Komunitas yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional," katanya.

Propaganda mereka disebar melalui format yang sangat akrab dengan generasi muda: video pendek, animasi, meme, hingga musik. Semua dikemas secara menarik untuk membangkitkan semangat dan menjadikan paham ekstremisme sebagai sebuah inspirasi atau solusi.

Kondisi psikologis anak pada fase pencarian identitas, yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis dan haus akan pengakuan, menjadi sasaran empuk.

Akibatnya, paparan paham kekerasan di media sosial dapat dengan sangat cepat memengaruhi perilaku, emosi, dan pola pikir mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara

Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 14:49 WIB

Densus 88: Ideologi Neo Nazi dan White Supremacy Menyasar Anak Lewat Game Online!

Densus 88: Ideologi Neo Nazi dan White Supremacy Menyasar Anak Lewat Game Online!

News | Rabu, 31 Desember 2025 | 12:31 WIB

Anak SD Diduga Bunuh Ibu di Medan: Kejanggalan Kasus dan Mengapa Polisi Sangat Berhati-hati

Anak SD Diduga Bunuh Ibu di Medan: Kejanggalan Kasus dan Mengapa Polisi Sangat Berhati-hati

News | Jum'at, 19 Desember 2025 | 15:30 WIB

Han So Hee dan Jeon Jong Seo Lakukan Aksi Kriminal Penuh Risiko di Project Y

Han So Hee dan Jeon Jong Seo Lakukan Aksi Kriminal Penuh Risiko di Project Y

Your Say | Selasa, 16 Desember 2025 | 12:10 WIB

Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga

Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga

Foto | Kamis, 04 Desember 2025 | 18:23 WIB

3 Film Kriminal di Netlix Cocok untuk Gen Z yang Suka Menyelidiki Seperti Detektif

3 Film Kriminal di Netlix Cocok untuk Gen Z yang Suka Menyelidiki Seperti Detektif

Entertainment | Selasa, 18 November 2025 | 19:40 WIB

110 Anak Direkrut Teroris Lewat Medsos dan Game, Densus 88 Ungkap Fakta Baru

110 Anak Direkrut Teroris Lewat Medsos dan Game, Densus 88 Ungkap Fakta Baru

News | Selasa, 18 November 2025 | 15:35 WIB

Terkini

Nus Kei Dibunuh karena Dendam Lama, Dua Pelaku Terancam Hukuman Mati

Nus Kei Dibunuh karena Dendam Lama, Dua Pelaku Terancam Hukuman Mati

News | Senin, 20 April 2026 | 19:53 WIB

Bareskrim Siap Miskinkan Mafia Haji dan Umrah, Aset Disita Pakai Pasal TPPU

Bareskrim Siap Miskinkan Mafia Haji dan Umrah, Aset Disita Pakai Pasal TPPU

News | Senin, 20 April 2026 | 19:44 WIB

Jangan Tergiur Promo Medsos, 20 Laporan Penipuan Haji dan Umrah Masuk Kemenhaj Tiap Hari

Jangan Tergiur Promo Medsos, 20 Laporan Penipuan Haji dan Umrah Masuk Kemenhaj Tiap Hari

News | Senin, 20 April 2026 | 19:36 WIB

Eks Kadis LH DKI Jadi Tersangka Longsor Maut Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang

Eks Kadis LH DKI Jadi Tersangka Longsor Maut Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang

News | Senin, 20 April 2026 | 19:21 WIB

Pigai Ungkap 15 Warga Tewas di Papua, Minta Pelaku Segera Diungkap

Pigai Ungkap 15 Warga Tewas di Papua, Minta Pelaku Segera Diungkap

News | Senin, 20 April 2026 | 19:15 WIB

Proyek Giant Sea Wall Dimulai dari Pantura, Pemerintah Siapkan Pembangunan Bertahap

Proyek Giant Sea Wall Dimulai dari Pantura, Pemerintah Siapkan Pembangunan Bertahap

News | Senin, 20 April 2026 | 19:12 WIB

15 warga Sipil Tewas di Kembru Papua, Menteri HAM Pigai: Pelaku Sudah Diketahui, Jangan Sembunyi!

15 warga Sipil Tewas di Kembru Papua, Menteri HAM Pigai: Pelaku Sudah Diketahui, Jangan Sembunyi!

News | Senin, 20 April 2026 | 19:10 WIB

Prabowo Minta Ahli Kampus Ikut Garap Tanggul Laut Raksasa, Pantura Jadi Titik Awal

Prabowo Minta Ahli Kampus Ikut Garap Tanggul Laut Raksasa, Pantura Jadi Titik Awal

News | Senin, 20 April 2026 | 19:06 WIB

Menkes Sebut Isu Halal-Haram dan Dampak Pandemi Jadi Pemicu Tingginya Kasus Campak

Menkes Sebut Isu Halal-Haram dan Dampak Pandemi Jadi Pemicu Tingginya Kasus Campak

News | Senin, 20 April 2026 | 19:05 WIB

Irvian Bobby Sultan Kemnaker Klaim Keluarganya Terima Intimidasi dari Istri Noel

Irvian Bobby Sultan Kemnaker Klaim Keluarganya Terima Intimidasi dari Istri Noel

News | Senin, 20 April 2026 | 18:59 WIB