- Zurich pada Januari menampilkan suasana tenang, dengan lalu lintas tertib mengikuti aturan perlintasan trem dan minim kebisingan.
- Area ikonik seperti Opernhaus Zürich, Sechseläutenplatz, dan Hauptbahnhof mencerminkan aktivitas penting kota tersebut.
- Meskipun menawarkan gaya hidup tenang, penduduk Swiss sangat menghargai efisiensi, ketepatan waktu, dan disiplin aturan ketat.
Suara.com - Rasanya, hidup tidak pernah berjalan sesantai seperti di Zurich. Cuaca dingin bulan Januari, tanpa bunyi klakson dan suara bising, kesibukan di jantung ekonomi Swiss berjalan seperti dalam kesunyian.
Bukan berarti tidak ramai. Lalu lalang kendaraan masih melintas di antara trem yang melaju di tengah jalan. Lampu lalu lintas yang menyala bergantian: hijau di sisi kanan, dan merah di sisi satunya, membuat Kota Zurich penuh dengan persimpangan.
Hampir di setiap persimpangan, kendaraan roda empat dan roda dua tidak pernah berbelok ke tengah jalan. Mobil hanya belok ke kanan mengikuti lajur atau lurus. Sebabnya, lajur tengah merupakan perlintasan rel tempat trem membawa pergi-pulang penumpang.
Tampak anjing yang dibawa pemiliknya mengitari jalan pedestrian Zurich, menyapa pria bersepeda yang menunggu lampu penyeberangan berganti warna. Sapaan berbalas, pria tersebut mengusap-usap kepala anjing hitam. Pemilik sampai menengok, mengajak peliharaannya kembali berjalan menyusuri trotoar.
Pagi sudah menjelang, namun matahari belum sepenuhnya datang, sebab waktu terbit di Zurich tiba pukul 08.00.
Jalan pedestrian menuju Opernhaus Zürich masih sepi. Tidak banyak masyarakat asli yang berkegiatan. Hanya terlihat merpati-merpati yang terbang ke sana ke mari di Lapangan Sechseläutenplatz, yang tepat berada si antata Opernhaus dan Danau Zurich.
Opernhaus Zürich tampak megah di lihat dari tengah lapangan. Gedung bergaya arsitektur Neo-Baroque itu masih memperlihatkan fasad-fasad yang kokoh, meski usianya sudah lebih dari satu abad.

Sedangkan di depannya ada Sechseläutenplatz, ruang terbuka atau alun-alun serbaguna. Berdiri di tengah sini, bisa melihat dua pemandangan: Danau Zurich di sisi kanan dan Opernhaus Zürich tepat di hadapan.
Menjauh sedikit, ke arah luar Danau Zurich, ada Limmat, yakni sungai yang membelah Altstadt, kota tua di Swiss. Biasanya, turis kerap mendatangi wilayah ini untuk mengabadikan momen foto atau video.
Baca Juga: Tuntaskan Kunjungan di Swiss, Prabowo Lanjut Bertemu Macron di Paris
Sayangnya waktu datang, mentari belum begitu meninggi, cuaca dingin masih mengigit sehingga belum ramai dengan masyarakat atau turis yang berkunjung.
Keramaian justru sudah mulai tumbuh, tidak jauh dari sana. Masih di sekitar Limmat, ada Hauptbahnhof atau HB Zurich yang merupakan stasiun kereta utama di jantung kota. Di sini, masyarakat sudah mulai aktivitas sekitar pukul 10.00.
Mereka tampak bergantian mengantre di loket tiket. Tidak hanya melayani rute domestik, stasium tersibuk di Swiss yang dibuka sejak 1847 ini turut melayani rute internasional ke negara tetangga. Selain untuk berpergian, pengunjung juga bisa datang bila hanya untuk berbelanja atau sekadar mencari makan di dalam area stasiun.
Sekitar 1 km dengan berjalan kaki dari stasiun utama, terdapat Münsterbrücke. Ialah jembatan bersejarah yang berdiri dinatas Limmat dan menghubungkan dua Gereja ikonik: Fraumünster dan Grossmünster.
Saat ke sana, Selasa pekan lalu, Gereja Grossmünster tengah dalam perawatan.

Di jalan sekitarnya, terdapat toko pernak pernik yang menjual cindera mata khas Zurich, mulai dari postcard, gantungan kunci, hingga hiasan lainnya yang bksa dibeli mhlai harga 2 chf.