- Zurich pada Januari menampilkan suasana tenang, dengan lalu lintas tertib mengikuti aturan perlintasan trem dan minim kebisingan.
- Area ikonik seperti Opernhaus Zürich, Sechseläutenplatz, dan Hauptbahnhof mencerminkan aktivitas penting kota tersebut.
- Meskipun menawarkan gaya hidup tenang, penduduk Swiss sangat menghargai efisiensi, ketepatan waktu, dan disiplin aturan ketat.
Sedangkan di sungai di bawah Münsterbrücke, angsa bisu yang berenang dan camar kepala hitam yang mondar-mandir terbang di antara dua Gererja menjadi pemandangan cuma-cuma yang bisa diambil lewat jepretan.
Kembali ke jalan-jala di Zurich, mayoritas mobil made in Jerman menghiasi setiap aspal, terlebih merk Mercedes-Benz. Walau begitu, ada juga mobil buatan Jepang.
Kendaraan memang cukup banyak yang melintas, tetapi penumpang yang menunggu di halte trem lebih ramai. Penduduk di sana lebih condong menggunkan transportasi umum, atau jalan kaki dan bersepeda sampai ke tempat tujuan.
Pengalaman menumpang kendaraan roda empat di Zurich cukup menenangkan. Pasalnya kemacetan terjadi sebatas karena bergantian melewati lampu lalu lintas. Selebihnya, jalan begitu lengan dan tenang tanpa ada suara klakson di setiap persimpangan.
Negara dengan populasi penduduk sekitar 9 juta dan luas wilayah 41 km persegi dan dikelilingi Pegunungan Alpen ini terbilang negara yang aman dan nyaman, cocok untuk orang yang mendambakan hidup tenang atau slow living.
Meski begitu, slow living bukan berarti bermalas-malasan atau sekadar nihil terhadap kebisingan. Penduduk Swiss mengutamakan efisiensi tinggi dan ketepatan waktu, mereka mengutamakan kualitas dan benar-benar sibuk saat jam kerja. Rata-rata mereka bekerja selama 42 jam dalam satu pekan. Toko-toko bahkan tutup mulai pukul 18.00 waktu setempat.
Seorang diaspora yang tinggal, menyampaikan bahwa penduduk asli Swiss justru lebih memilih menghabiskan waktu di rumah usai bekerja, ketimbang nongkrong.

Walau begitu, di sebagian area Zurich yang menjadi pusat kota, ramai bercampur penduduk untuk menghabiskan malam dengan datang ke pusat perbelanjaan maupun toko dan restoran yang masih buka.
Meski terkesan hidup tenang atau slow living, Swiss menerapkan aturan yang membuat masyarakat baik penduduk asli atau pendatang harus disiplin. Contohnya saja soal berlalu lintas, di setiap jalan yang dilewati terdapat rambu-rambu batas kecepatan maksimum, semisal 30 km.
Baca Juga: Tuntaskan Kunjungan di Swiss, Prabowo Lanjut Bertemu Macron di Paris
Jadi, meski di depan jalan terlihat kosong, pengemudi tetap harus patuh, alih-alih terkena sanksi denda bila berkendara melebihi kecepatan dari batas yang ditentukan.
Bukan hanya regulasi yang ketat. Biaya hidup di Swisa juga sangat tinggi sehingga perlu merogoh kocek lebih dalam untuk berkunjunga dan menikmati hidup slow living di sana. Kekinian satu Franc Swiss (CHF) setara dengan Rp21 ribu lebih. Bagaimana? Tertarik merasakan hidup slow living di Swiss?