Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an

Rabu, 28 Januari 2026 | 07:00 WIB
Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono di acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Lilis]
Baca 10 detik
  • Wakil Menteri Kesehatan menyoroti tren kanker serviks ditemukan pada perempuan usia lebih muda, terutama usia 30-an.
  • Beban kanker serviks di Indonesia masih tinggi, dengan 36.964 kasus dan 21.000 kematian tercatat pada tahun 2023.
  • Penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan DNA HPV sangat krusial untuk mencapai target eliminasi kanker serviks WHO 2030.

Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti tren kanker leher rahim atau kanker serviks yang kini semakin banyak ditemukan pada perempuan usia lebih muda. Temuan ini menjadi tantangan serius dalam upaya pengendalian kanker serviks di Indonesia.

“Tren itu ada ditemukan lebih muda pada usia 30-an ya, mereka yang sudah menikah dan terutama mereka yang mempunyai pasangan lebih dari satu,” kata Dante usai acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Menurut Dante, kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam upaya eradikasi kanker serviks secara nasional.

“Itu menjadi hambatan kita untuk melakukan eradikasi kanker serviks,” ucap Dante.

Kemenkes mencatat kalau beban kanker leher rahim di Indonesia masih tinggi. Pada 2023, tercatat ada 36.964 perempuan didiagnosis kanker leher rahim dengan lebih dari 21.000 kematian. 

Tanpa penguatan intervensi, insidensi diproyeksikan meningkat lebih dari 60 persen pada 2040. Penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan DNA HPV menjadi krusial untuk mencapai target WHO 90–70–90 Eliminasi Kanker Leher Rahim di tahun 2030.

Saat ini, kanker serviks menempati posisi kanker terbanyak kedua pada perempuan, dengan mayoritas kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

Dante menyebut keterlambatan deteksi berdampak langsung pada tingginya angka kematian akibat kanker serviks. Ia mengungkapkan, sekitar separuh dari pasien kanker serviks meninggal dunia karena tidak menjalani skrining sejak dini.

“Jadi 50 persen di antaranya meninggal dunia karena tidak melakukan skrining. Maka kita harus melakukan skrining,” ujarnya.

Baca Juga: Sosok Benjamin Paulus Octavianus, Dokter Spesialis Paru yang Jadi Wamenkes

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI