- Rhenald Kasali menekankan algoritma digital harus dikelola sadar, bukan menjadi pengontrol utama pembuat konten.
- Engagement publik sangat penting, sebab konten sederhana sering menarik perhatian audiens lebih besar daripada konten serius.
- Media perlu memfasilitasi diskusi publik digital karena interaksi ini berpotensi memengaruhi pengambilan keputusan atau kebijakan.
Suara.com - Founder Deep Intelligence Research (DIR) Rhenald Kasali menyoroti peran algoritma dan engagement dalam ekosistem media digital saat ini. Menurut dia, algoritma seharusnya tidak menjadi pengendali manusia, melainkan alat yang dipahami dan dikelola secara sadar oleh media dan pembuat konten.
Hal itu disampaikan Rhenald dalam acara diskusi bulanan bersama Suara.com. Ia menekankan pentingnya memahami cara kerja algoritma, mulai dari pemilihan kata kunci, hashtag, hingga dampak judul berita terhadap respons publik.
“Hari ini algoritma kita harus lihat, kata kuncinya apa, hashtagnya apa, pengaruhnya bagaimana. Terus di-observe dengan judul ini bagaimana, kira-kira seperti apa, masyarakat berpengaruh bagaimana. Itu mesti dibaca semua,” ujar Rhenald.
Meski demikian, ia mengingatkan agar media tidak terjebak dan sepenuhnya dikontrol oleh algoritma. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah bagaimana manusia tetap memegang kendali atas algoritma, bukan sebaliknya.
“Jangan sampai algoritma mengontrol manusia. Tetapi bagaimana kita bisa perhatikan itu,” kata dia.
Selain algoritma, Rhenald menyoroti peran engagement yang kini menjadi kunci dalam penyebaran informasi. Ia menyebut hampir semua orang memainkan engagement, termasuk dirinya sendiri saat membuat konten.
Ia mengakui, konten yang dianggap “receh” atau sederhana justru kerap mendapatkan respons paling besar dari publik. Fenomena ini, menurut Rhenald, menunjukkan adanya jarak antara penilaian pembuat konten dan kebutuhan audiens.
“Saya sendiri kalau bikin konten kadang-kadang tidak pikir ini konten receh, kecil, gampang. Tapi justru kayak gitu malah yang viral. Bagi kita receh, tapi bagi publik itu bukan receh,” ujarnya.
Rhenald menilai, engagement harus dibangun secara sadar karena masyarakat hari ini ingin didengar dan dilibatkan dalam percakapan publik. Keinginan untuk berpartisipasi menjadi faktor penting dalam dinamika media digital.
Baca Juga: AMSI Gandeng Deep Intelligence Research Gelar Diskusi Mengupas Masa Depan Media
Dalam konteks jurnalistik, ia mempertanyakan sejauh mana wartawan dan media memberi ruang pada partisipasi tersebut. Menurutnya, kerja jurnalistik tidak semestinya berhenti setelah berita ditulis dan diterbitkan.
“Apakah setelah menulis berita, selesai isu, dan tugas saya kan hanya menulis, kasih ke editor, editor potong, satukan nama yang lain, sudah selesai. Padahal di situ netizen masih panjang lebar berdiskusi dan sebagainya, pengen didengar,” kata Rhenald.
Ia menambahkan, diskusi publik yang berkembang di ruang digital berpotensi memengaruhi kebijakan jika dikelola dengan baik. Dalam hal ini, media memiliki peran strategis untuk menjembatani percakapan publik dengan pengambil kebijakan.
“Kalau itu viral, kita sudah bisa juga berpengaruh pada kebijakan. Pasti berpengaruh pada kebijakan. Nah media itu perannya juga ternyata seperti itu,” pungkasnya.