- UU DKJ menetapkan budaya Betawi sebagai budaya utama, namun implementasinya perlu direspon aktif oleh pemuda.
- Pelestarian budaya Betawi saat ini terhambat karena minimnya penetrasi konten di algoritma media sosial.
- Para tokoh Betawi menekankan pentingnya literasi digital dan persatuan kolektif untuk menjaga eksistensi sosial budaya.
Menurut Abdullah, tantangan utama justru terletak pada eksistensi sosial budaya itu sendiri. Jika adat tidak lagi hidup dalam praktik keseharian, maka regulasi akan kehilangan objeknya.
Sebagai penutup, ia mengajak para senior dan junior Betawi untuk bersatu (guyub) demi menjaga marwah kaum di tengah arus modernisasi.
“Tidak ada senjata yang lebih tajam dan sempurna selain perjuangan. Semoga perjuangan kita adalah perjuangan yang diridai Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkas Abdullah.
Melalui momentum transisi Jakarta menjadi pusat bisnis global, pemuda Betawi diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap ornamen gedung-gedung tinggi melalui gigi balang, tetapi menjadi solusi nyata bagi tantangan masa depan kota ini.
Reporter: Dinda Pramesti K