- Ayatollah Ali Khamenei gugur akibat serangan bom Israel dan AS pada Sabtu (28/2/2026) di kantor Jalan Pasteur.
- Mossad melacak pola rutinitas pejabat Iran melalui peretasan CCTV dan menara seluler selama bertahun-tahun.
- Israel mengonfirmasi lokasi target melalui data intelijen sinyal dan informan lapangan sebelum melancarkan serangan.
Hitung-hitungan Israel dan Amerika Serikat, akan lebih sukar membunuh Khamenei jika dilakukan setelah perang berlangsung. Khamenei dipastikan akan berlindung di bunker-bunker bawah tanah yang tak bisa dijangkau rudal-rudal modern.
Tapi satu yang juga sudah diketahui intelijen Israel dan AS. Khamenei tidak seperti Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Hizbullah yang jarang tampil di hadapan publik dan selalu bersembunyi. Nasrallah tewas pada September 2024 lalu akibat terkena ledakan 80 bom Israel saat berlindung di dalam bunker di Beirut, Lebanon.
Khamenei dalam beberapa kesempatan mengatakan kepada publik bahwa ia siap gugur sebagai martir. Menurutnya hidupnya tidak lebih penting dari keberlansungan Republik Islam Iran.
Tetapi beberapa sumber mengatakan, selama kegentingan menjelang perang, Khamenei memang lebih berhati-hati.
"Tidak biasanya ia tidak berada di dalam bunker. Ia memiliki dua bunker," kata sumber tersebut.
Sebelum memutuskan untuk mengebom kantor Khamenei, Israel perlu benar-benar memastikan ia berada di dalamnya. Untuk itu, militer Israel memiliki mekanisme khusus: dua perwira senior yang bekerja secara terpisah harus bisa memastikan target berada di lokasi yang akan diserang.
Dalam hal ini, intelijen Israel berhasil mendapatkan konfirmasi dari unit intelijen sinyal berupa kamera CCTV lalu-lintas dan data dari menara seluler di sekitar Jalan Pasteur.
Data-data itu menunjukkan bahwa pertemuan dengan Khamenei akan digelar tepat waktu dan para pejabat senior Iran bergerak menuju lokasi tersebut.
Konfirmai kedua datang dari informan Amerika Serikat yang berada di lapangan dan melihat langsung Khomenei di lokasi.