- Geopolitik 2026 menunjukkan perdamaian memerlukan empati dan penghormatan terhadap perbedaan budaya dan keyakinan.
- Rendahnya literasi budaya memperburuk risiko konflik global yang dipicu oleh kesenjangan teknologi dan ujaran kebencian digital.
- Redea Institute menyelenggarakan program rutin tahunan PTR sejak 2004 untuk menanamkan toleransi bagi siswa SD hingga SMA.
Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan membawa dampak positif bagi seluruh umat beragama dalam masyarakat.
Program PTR merupakan manifestasi nyata upaya mempromosikan kehidupan madani melalui internalisasi sikap toleransi serta apresiasi terhadap kontribusi luhur setiap agama bagi kemanusiaan.
Sejak 2004, PTR diselenggarakan secara konsisten setiap bulan Ramadhan dengan merangkul keberagaman dan melibatkan seluruh siswa, baik Muslim maupun pemeluk agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Melalui pendekatan yang inklusif, kurikulum kegiatan ini dirancang secara proporsional dengan menggabungkan aktivitas pendalaman iman sesuai latar belakang masing-masing serta sesi kolaborasi lintas keyakinan yang bertujuan mempererat persaudaraan universal.
Rangkaian kegiatan PTR ini diselenggarakan di seluruh jaringan sekolah, dimulai dari siswa kelas 4 (empat) Sekolah Dasar hingga tingkat Sekolah Menengah Atas.
Sekolah mewajibkan siswa sekolah dasar dan menengah pertama untuk mengikuti kegiatan ini selama 2 (dua) hari 1 (satu) malam di sekolah.
Sementara itu, siswa Sekolah Menengah Atas mengikuti PTR selama satu hari penuh, dimulai dari pagi hingga setelah pelaksanaan shalat tarawih.
Implementasi PTR terbagi menjadi dua rangkaian acara. Dalam sesi lintas agama, siswa dipertemukan untuk menggali nilai-nilai universal yang menjadi benang merah seluruh keyakinan—seperti manifestasi ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui penghormatan terhadap harkat sesama makhluk hidup.
Setelahnya, siswa beralih ke sesi agama masing-masing untuk penguatan spiritual yang lebih spesifik. Sebagai gambaran, saat siswa Muslim melaksanakan ibadah salat Isya dan Tarawih berjamaah, siswa beragama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha mengikuti sesi pendalaman iman di ruang terpisah bersama pemuka agama masing-masing.
Baca Juga: Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan
Di sini, diskusi difokuskan pada pengamalan nilai keimanan dalam tindakan nyata, terutama dalam merawat semangat toleransi dan solidaritas di tengah kompleksitas interaksi digital saat ini.
Kegiatan PTR di Sekolah HighScope Indonesia diadakan secara bertahap selama bulan Ramadhan, sesuai dengan jadwal masing-masing sekolah.
Di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang, kegiatan PTR dibuka dengan sesi Opening, Hopes & Dreams, dan Ice Breaking yang diikuti oleh seluruh siswa.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi talkshow dengan Rizkiana Alba M.Ed (Wahid Foundation), KH. Julian Lukman Lc (Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Selatan), dan Suraji (Jaringan Gusdurian).
Pembicara tamu lainnya meliputi Founder Yayasan Angel Heart, Linda Anugrah (Sekolah HighScope Indonesia Denpasar), Wakil Ketua Baznas Kota Palembang, Muhammad Syukri Soha, S.Ag, S.H, M.H (Sekolah HighScope Indonesia Palembang).
PTR juga menjadi kesempatan bagi para siswa untuk berbagi dengan komunitas di sekitar sekolah. Di Sekolah HighScope Indonesia Medan dan Denpasar, siswa kelas 4–9 bekerja sama mempersiapkan takjil dan membagikannya kepada warga sekitar.