Pertanyakan Status Siaga 1 TNI, Peneliti UGM Soroti Potensi Pelemahan Demokrasi

Bella | Hiskia Andika Weadcaksana | Suara.com

Senin, 09 Maret 2026 | 20:16 WIB
Pertanyakan Status Siaga 1 TNI, Peneliti UGM Soroti Potensi Pelemahan Demokrasi
Ilustrasi TNI. [Ist]
  • Achmad Munjid dari PSKP UGM mempertanyakan urgensi status Siaga 1 TNI terkait konflik Timur Tengah tanpa ancaman nyata.
  • Kebijakan pengerahan militer dianggap respons berlebihan dan berpotensi melemahkan demokrasi dalam konteks politik domestik.
  • Munjid meminta TNI memberikan klarifikasi dasar intelijen penetapan Siaga 1 karena menimbulkan keresahan publik.

Suara.com - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (PSKP UGM), Achmad Munjid, mempertanyakan urgensi penetapan status Siaga 1 oleh TNI.

Menurutnya, instruksi yang disebut sebagai respons atas eskalasi konflik di Timur Tengah itu tidak memiliki dasar ancaman yang nyata terhadap keamanan nasional Indonesia.

"Kalau alasannya adalah keamanan yang itu terkait dengan konflik di Timur Tengah, persisnya apa?" kata Munjid saat dihubungi, Senin (9/3/2026).

Munjid menilai kebijakan menyiagakan seluruh personel dan persenjataan di semua angkatan merupakan respons yang berlebihan. Ia berpendapat bahwa secara geografis maupun dari sisi dinamika politik, Indonesia berada cukup jauh dari episentrum konflik.

Karena itu, ia tidak melihat adanya alasan logis untuk melakukan mobilisasi militer secara besar-besaran di ruang publik.

Menurut Munjid, kebijakan tersebut justru perlu dilihat dalam konteks politik domestik saat ini. Ia mengingatkan bahwa peningkatan peran militer di ruang publik berpotensi mempengaruhi kondisi demokrasi apabila tidak disertai penjelasan yang jelas kepada publik.

"Konteks politik kita hari ini adalah militerisme sedang naik, kemudian kebebasan bicara sedang dibungkam, tiba-tiba ada telegram seperti itu, yang artinya kehadiran militer di ruang publik menjadi lebih kuat, dan itu berpotensi makin melemahkan demokrasi yang sudah lemah," paparnya.

Secara konstitusional, kewenangan untuk memobilisasi kekuatan militer berada di tangan Presiden sebagai panglima tertinggi dengan persetujuan DPR RI.

Karena itu, Munjid menilai langkah sepihak dari pimpinan TNI terkait status Siaga 1 berpotensi melangkahi prosedur ketatanegaraan dan dapat memperkuat kecenderungan militerisme yang seharusnya terus direformasi.

"Negara yang merasa terancam itu mestinya adalah negara yang sekarang ini secara politik berseberangan dengan Iran," ucapnya.

Ia juga membandingkan posisi Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura yang dinilai memiliki alasan lebih logis untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat banyaknya aset Amerika Serikat maupun Israel di sana.

Sebaliknya, di Indonesia mayoritas masyarakat justru memiliki simpati terhadap Iran. Karena itu, identifikasi ancaman fisik terhadap wilayah kedaulatan Indonesia dinilai hampir tidak ada.

"Ini saya kira kalau tujuannya untuk melindungi masyarakat supaya masyarakat merasa aman, yang sekarang ini terjadi sebetulnya malah sebaliknya. Masyarakat jadi bertanya-tanya, masyarakat bahkan jadi resah," tandasnya.

Ia meminta TNI segera memberikan klarifikasi menyeluruh terkait dasar intelijen yang digunakan untuk menetapkan status Siaga 1 tersebut.

Menurut Munjid, penjelasan mengenai urgensi patroli di objek-objek strategis seperti bandara dan pelabuhan sangat diperlukan agar kebijakan ini tidak disalahartikan atau bahkan dibelokkan menjadi upaya pembungkaman terhadap suara-suara kritis masyarakat sipil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Palestina Merdeka Harus Jadi Jangkar Diplomasi, Maksimalkan Peluang di Board of Peace

Palestina Merdeka Harus Jadi Jangkar Diplomasi, Maksimalkan Peluang di Board of Peace

Entertainment | Senin, 09 Maret 2026 | 19:58 WIB

Prabowo: Indonesia Aman Pangan Meski Dunia Hadapi Krisis

Prabowo: Indonesia Aman Pangan Meski Dunia Hadapi Krisis

News | Senin, 09 Maret 2026 | 19:50 WIB

Dunia Bergejolak Akibat Perang di Timur Tengah, Prabowo: Kita Harus Siap Hadapi Kesulitan

Dunia Bergejolak Akibat Perang di Timur Tengah, Prabowo: Kita Harus Siap Hadapi Kesulitan

News | Senin, 09 Maret 2026 | 19:18 WIB

Prabowo Resmikan 218 Jembatan Baru di Seluruh Indonesia

Prabowo Resmikan 218 Jembatan Baru di Seluruh Indonesia

News | Senin, 09 Maret 2026 | 18:42 WIB

Dunia Penuh Bahaya, Prabowo: Pertikaian Kekuatan Besar Bisa Seret Bangsa Lain

Dunia Penuh Bahaya, Prabowo: Pertikaian Kekuatan Besar Bisa Seret Bangsa Lain

News | Senin, 09 Maret 2026 | 18:26 WIB

Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya

Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya

News | Senin, 09 Maret 2026 | 18:23 WIB

Bahlil Minta Warga Tak Panik, Jamin Stok BBM Aman dan Harga Subsidi Tak Naik

Bahlil Minta Warga Tak Panik, Jamin Stok BBM Aman dan Harga Subsidi Tak Naik

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 18:02 WIB

Bahlil Sebut BBM Aman, Pengamat: Aslinya Rawan!

Bahlil Sebut BBM Aman, Pengamat: Aslinya Rawan!

News | Senin, 09 Maret 2026 | 17:59 WIB

Menguak Surat Megawati untuk Ali Khamenei di Tengah Retaknya Hubungan Batin Iran-RI

Menguak Surat Megawati untuk Ali Khamenei di Tengah Retaknya Hubungan Batin Iran-RI

News | Senin, 09 Maret 2026 | 16:59 WIB

Longsor di TPA Bantargebang, DPR Desak Reformasi Total Tata Kelola Sampah Nasional!

Longsor di TPA Bantargebang, DPR Desak Reformasi Total Tata Kelola Sampah Nasional!

News | Senin, 09 Maret 2026 | 16:40 WIB

Terkini

Peringati Hari KI Sedunia, DJKI Gelar Layanan di Car Free Day Serentak 33 Provinsi

Peringati Hari KI Sedunia, DJKI Gelar Layanan di Car Free Day Serentak 33 Provinsi

News | Jum'at, 24 April 2026 | 15:05 WIB

Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!

Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:58 WIB

Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional

Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:57 WIB

Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS

Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:41 WIB

Nama Teddy hingga Maruli Diseret, Saiful Mujani Kritik Kebijakan Presiden Perluas Peran TNI di Sipil

Nama Teddy hingga Maruli Diseret, Saiful Mujani Kritik Kebijakan Presiden Perluas Peran TNI di Sipil

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:37 WIB

AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Targetkan Selat Hormuz hingga Infrastruktur Militer

AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Targetkan Selat Hormuz hingga Infrastruktur Militer

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:33 WIB

Kasus Firli Bahuri Jalan di Tempat: Kejati Kembalikan SPDP Gara-gara Polisi Lewati Batas Waktu!

Kasus Firli Bahuri Jalan di Tempat: Kejati Kembalikan SPDP Gara-gara Polisi Lewati Batas Waktu!

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:33 WIB

Janda 69 Tahun Tewas Usai Jadi Korban Penipuan Asmara Online, Duit Rp 20 Miliar Hilang

Janda 69 Tahun Tewas Usai Jadi Korban Penipuan Asmara Online, Duit Rp 20 Miliar Hilang

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:24 WIB

PN Jakpus Bereaksi Usai Hakim Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 T Dilaporkan Tim Nadiem Makarim

PN Jakpus Bereaksi Usai Hakim Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 T Dilaporkan Tim Nadiem Makarim

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:16 WIB

Mencekam! Saksi Ungkap Detik-detik 2 PRT Terkapar di Benhil: Bawa Tas Pakaian dan Sabun Mandi

Mencekam! Saksi Ungkap Detik-detik 2 PRT Terkapar di Benhil: Bawa Tas Pakaian dan Sabun Mandi

News | Jum'at, 24 April 2026 | 14:12 WIB