- Ayatollah Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Minggu (8/3) menggantikan ayahnya yang gugur.
- Penunjukan ini merupakan respons terbuka terhadap peringatan keras sebelumnya dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
- Mojtaba dipilih berdasarkan instruksi mendiang ayahnya, yaitu memilih figur yang paling dibenci oleh pihak musuh Iran.
Profil Sang 'Martir Hidup' dan Kedekatan dengan Militer
Meski jarang muncul di media, Mojtaba bukan orang baru di lingkaran kekuasaan. Pada usia 17 tahun, ia ikut bertempur dalam perang Iran-Irak tahun 1986 bersama batalion Habib ibn Mazahir dari Divisi 27 Mohammad Rasulollah, yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Sejak ayahnya menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, Mojtaba secara bertahap masuk ke dalam struktur kekuasaan.
Ia menjadi jembatan krusial antara kantor Pemimpin Tertinggi, milisi Basij, dan aparat keamanan negara.
Namun, ia selalu bergerak di balik bayang-bayang hingga namanya terseret dalam investigasi Bloomberg Januari lalu terkait jaringan investasi jutaan dolar di Eropa dan Timur Tengah—tuduhan yang dibantah keras oleh otoritas Iran.
Menariknya, proses penunjukan Mojtaba mencerminkan pola yang sama saat ayahnya terpilih pada 1989.
Kala itu, Ali Khamenei belum memiliki gelar ulama tingkat tinggi atau Ayatollah. Kini, Mojtaba yang sebelumnya bergelar Hojtatoleslam, langsung dipromosikan dan disebut sebagai "Ayatollah" oleh Majelis Ahli dan media pemerintah segera setelah terpilih.
Salah satu faktor kuat yang memuluskan jalan Mojtaba adalah statusnya sebagai "martir hidup".
Ia sempat terluka dalam upaya pembunuhan oleh Israel melalui serangan udara baru-baru ini.
Baca Juga: Sentuh Rp16.949 per Dolar AS, Rupiah Berpotensi Tertekan jika Konflik Timur Tengah Berlanjut
Selain itu, serangan bom yang menewaskan ayah, ibu, istri, anak laki-laki, dan saudara perempuannya pada 28 Februari lalu memberinya modal simbolis yang besar di mata kaum konservatif Iran.
Instruksi Ali Khamenei: Pilih yang Dibenci Musuh
Majelis Ahli yang terdiri dari 88 ulama senior menyatakan bahwa kesepakatan telah dicapai setelah pemungutan suara rahasia.
Ayatollah Ahmad Alamolhoda, ulama garis keras yang dekat dengan faksi fundamentalis, mengonfirmasi hal tersebut.
"Pemungutan suara untuk menunjuk pemimpin telah dilakukan dan pemimpin telah dipilih," ujarnya kepada kantor berita Tasnim.
Anggota Majelis Ahli lainnya, Mohsen Heidari, mengungkapkan sebuah fakta menarik di balik terpilihnya Mojtaba.