Studi: Industri Migas Tinggalkan Citra Energi Bersih, Kini Tekankan Ketergantungan Energi Fosil

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Selasa, 24 Maret 2026 | 11:15 WIB
Studi: Industri Migas Tinggalkan Citra Energi Bersih, Kini Tekankan Ketergantungan Energi Fosil
Ilustrasi industri minyak dan gas dunia naik [Unsplash/Alex W]
  • Laporan Toxic Accounts menganalisis kampanye Shell, ExxonMobil, BP, dan Chevron dari 2020 hingga 2024.
  • Perusahaan energi kini menekankan peran penting bahan bakar fosil setelah keuntungan tinggi pada 2022.
  • Strategi komunikasi berbeda di Asia fokus pada keluarga dan harga, bukan isu transisi energi bersih.

Suara.com - Perusahaan minyak dan gas global kini mulai mengubah cara mereka berbicara soal krisis iklim. Jika dulu mereka gencar memposisikan diri sebagai pemimpin transisi energi bersih, kini narasi itu perlahan bergeser, menjadi pembelaan bahwa bahan bakar fosil masih tak tergantikan.

Temuan ini muncul dalam laporan terbaru berjudul Toxic Accounts: From Greenwashing to Gaslighting yang dirilis oleh kelompok kampanye iklim Clean Creatives.

Seperti dikutip dari Eco-Bussiness, laporan tersebut menganalisis 1.859 kampanye iklan dan komunikasi publik dari empat raksasa energi dunia, Shell, ExxonMobil, BP, dan Chevron, dalam periode 2020 hingga 2024.

Hasilnya menunjukkan perubahan strategi komunikasi yang cukup tajam. Pada awalnya, terutama setelah Perjanjian Paris, perusahaan-perusahaan ini banyak menjanjikan komitmen menuju nol emisi dan investasi energi terbarukan.

Ilustrasi penggunaan tenaga surya dan angin sebagai sumber energi bersih (Pexels)
Ilustrasi penggunaan tenaga surya dan angin sebagai sumber energi bersih (Pexels)

Namun, narasi itu mulai berubah setelah lonjakan harga minyak dan gas pada 2022 yang mendorong keuntungan industri ke level tertinggi.

Sejak saat itu, pesan yang disampaikan semakin menekankan pentingnya bahan bakar fosil untuk menjaga stabilitas ekonomi, keamanan energi, hingga menopang gaya hidup modern. Dalam banyak kampanye, minyak dan gas digambarkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem energi global.

Di saat yang sama, perusahaan juga aktif mempromosikan teknologi seperti penangkapan karbon (carbon capture), hidrogen, biofuel, dan gas alam sebagai solusi iklim. Namun, sejumlah pihak menilai pendekatan ini justru berisiko memperpanjang ketergantungan pada energi fosil, alih-alih mempercepat transisi ke energi bersih.

Gas alam, misalnya, sering diposisikan sebagai “jembatan” menuju energi terbarukan.

Padahal, komponen utamanya, metana, merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa meski masing-masing perusahaan memiliki gaya komunikasi berbeda, strategi yang digunakan cenderung serupa. BP, misalnya, mulai mengurangi ambisi target transisi energinya dan lebih menekankan produksi energi domestik.

Chevron mengangkat cerita manusia dan inovasi teknologi untuk membingkai peran industri dalam pembangunan ekonomi. Sementara ExxonMobil fokus pada solusi teknologi, dan Shell semakin mendorong gas alam cair sebagai bagian dari masa depan energi.

Menariknya, pendekatan di Asia memiliki pola berbeda. Kampanye di kawasan ini lebih banyak mengangkat nilai keluarga, kebanggaan nasional, dan keterjangkauan harga dibandingkan isu perubahan iklim. Strategi ini juga sering dikaitkan dengan program tanggung jawab sosial perusahaan untuk membangun citra positif.

Menurut Kepala Riset Clean Creatives, Nayantara Dutta, pergeseran narasi global juga mulai terlihat di Asia, meski lebih lambat. Ia menilai faktor budaya dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap isu iklim turut memengaruhi cara perusahaan menyusun pesan mereka.

“Di AS dan Inggris, tekanan terhadap aksi iklim sangat kuat sehingga perusahaan energi harus mengubah narasi mereka. Di Asia, tema keamanan energi mulai muncul, tetapi kampanye masih banyak berfokus pada loyalitas merek serta nilai keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap krisis iklim, industri minyak dan gas tidak hanya beradaptasi secara bisnis, tetapi juga secara komunikasi, dengan cara yang semakin menegaskan peran mereka dalam sistem energi global saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Krisis Iklim Menguat, Indonesia Butuh Komitmen Politik Kuat untuk Memitigasinya

Krisis Iklim Menguat, Indonesia Butuh Komitmen Politik Kuat untuk Memitigasinya

News | Senin, 23 Maret 2026 | 12:18 WIB

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:44 WIB

Studi: 58 Persen Orang Lebih Utamakan Lingkungan daripada Pertumbuhan Ekonomi

Studi: 58 Persen Orang Lebih Utamakan Lingkungan daripada Pertumbuhan Ekonomi

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 12:35 WIB

Terkini

Polda Metro Jaya Mulai Usut Laporan Dugaan Gelar Palsu Menkes Budi Gunadi Sadikin

Polda Metro Jaya Mulai Usut Laporan Dugaan Gelar Palsu Menkes Budi Gunadi Sadikin

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 15:30 WIB

Satgas PKH Setor Rp10,2 Triliun ke Kas Negara, Kejagung Klaim Selamatkan Jutaan Hektar Hutan

Satgas PKH Setor Rp10,2 Triliun ke Kas Negara, Kejagung Klaim Selamatkan Jutaan Hektar Hutan

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 15:27 WIB

Geledah Rumah Heri Black, KPK Temukan Bukti Dugaan Perintangan Penyidikan dalam Kasus Bea Cukai

Geledah Rumah Heri Black, KPK Temukan Bukti Dugaan Perintangan Penyidikan dalam Kasus Bea Cukai

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 15:20 WIB

Iran Gelar Latihan Anti-Helikopter, Siaga Hadapi Serangan AS-Israel

Iran Gelar Latihan Anti-Helikopter, Siaga Hadapi Serangan AS-Israel

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 15:06 WIB

WNI Tertangkap pada Kasus Jaringan Distributor Konten Asusila Anak di Kapal Pesiar Disney

WNI Tertangkap pada Kasus Jaringan Distributor Konten Asusila Anak di Kapal Pesiar Disney

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:54 WIB

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:53 WIB

Legislator PDIP Soroti Kelangkaan Solar Subsidi: Petani Bisa Gagal Panen

Legislator PDIP Soroti Kelangkaan Solar Subsidi: Petani Bisa Gagal Panen

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:49 WIB

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:42 WIB

Oditur Militer Puji Racikan Air Keras Penyerang Andrie Yunus 'Kreatif'

Oditur Militer Puji Racikan Air Keras Penyerang Andrie Yunus 'Kreatif'

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:35 WIB

'Ini Tidak Bisa Dilepas!', Nadiem Makarim Muncul Pakai Gelang Detektor di Sidang Korupsi Chromebook

'Ini Tidak Bisa Dilepas!', Nadiem Makarim Muncul Pakai Gelang Detektor di Sidang Korupsi Chromebook

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:32 WIB