- Tokoh agama dan juru damai konflik Poso, Muhammad Adnan Arsal, meninggal dunia pada Jumat sore di Sulawesi Tengah.
- Ustad Adnan dikenal penting dalam meredakan konflik Poso dan mendirikan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah tahun 2001.
- Ia selalu menekankan dialog sebagai kunci utama penyelesaian konflik untuk memulihkan harmoni masyarakat Poso.
Suara.com - Kabar duka datang dari Sulawesi Tengah. Tokoh agama Islam sekaligus figur penting dalam upaya perdamaian konflik Poso, Muhammad Adnan Arsal, meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB.
Kepergian sosok yang akrab disapa Ustad Adnan Arsal ini dikonfirmasi oleh Ketua Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) Poso, Yusrin Ichtiawan.
“Innalillahi wainnailaihi ilaihi Raji'un, dengan izin Allah dan pulang dengan tenang telah kembali menuju Rabb Nya ayahanda, orang tua dan guru kita KH Muhammad Adnan Arsal,” kata Yusrin.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan dari berbagai pihak selama almarhum menjalani perawatan akibat sakit.
Semasa hidupnya, Ustad Adnan dikenal luas sebagai sosok yang mengambil peran penting dalam meredakan konflik komunal di Poso. Kiprahnya sebagai juru damai bahkan diabadikan dalam buku Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso yang ditulis oleh Khoirul Anam dan terbit pada 2021.
Usai konflik, ia mendirikan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) pada 2001 di Kayamanya, Poso. Lembaga ini menjadi wadah bagi kegiatan pendidikan, dakwah, serta sosial kemanusiaan, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi umat dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah.
Bagi masyarakat Poso, kepergian Ustad Adnan bukan sekadar kehilangan tokoh agama. Ia dikenang sebagai sosok yang menjahit kembali harapan di tengah luka panjang konflik. Julukan “panglima” yang melekat padanya bukanlah simbol perang, melainkan keteguhan dalam memperjuangkan jalan damai.
“Perang tak akan usai dengan ayunan parang, tetapi harus diselesaikan melalui dialog dengan hati yang lapang,” begitu salah satu pesan yang terekam dalam buku tersebut.
Di tengah konflik yang pernah membelah masyarakat Poso, Ustad Adnan memilih berdiri sebagai penghubung. Ia membuka ruang dialog, meredakan ketegangan, dan mendorong penyelesaian yang manusiawi.
“Konflik ini bikin kita semua lelah, frustrasi, habis semua,” pernah ia ungkapkan, menggambarkan beratnya dampak pertikaian yang berkepanjangan.
Karena itu, ia terus menyerukan pentingnya dialog sebagai jalan keluar utama.
“Utamakan dialog. Konflik di masyarakat pasti bisa didialogkan. Selesaikan semuanya dengan damai, tak perlu lakukan kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan konflik,” pesannya.
Kini, sosok itu telah tiada. Namun, nilai-nilai yang ia tanamkan tentang perdamaian dan kemanusiaan diyakini akan terus hidup, menjadi pengingat bagi generasi berikutnya untuk menjaga harmoni di tanah Poso.