- Satu unit pesawat peringatan dini E-3 Sentry USAF hancur total akibat serangan gabungan rudal dan drone Iran di Arab Saudi.
- Serangan tersebut menyebabkan lebih dari 10 personel militer terluka, dua di antaranya dalam kondisi kritis, serta merusak pesawat tanker.
- Kehilangan AWACS ini memaksa AS mengatur ulang strategi pengawasan udara dan mempercepat penggantian armada E-3 Sentry yang menua.
Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah laporan dari Air & Space Forces Magazine mengonfirmasi hancurnya satu unit pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AWACS) jenis E-3 Sentry milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Pesawat bernilai $270 juta hingga $500 juta USD (Rp8,5 triliun) per unit tersebut hancur dalam serangan gabungan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.
Analis penerbangan melalui akun X @TheIntelFrog telah membagikan bukti visual berupa foto badan pesawat yang hangus. Verifikasi citra memastikan bahwa foto tersebut asli dan bukan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).
Dampak Serangan: Kerusakan Total dan Korban Jiwa
Laporan militer menyebutkan bahwa serangan tersebut melukai lebih dari 10 personel militer, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Selain menghancurkan unit AWACS, serangan ini juga merusak beberapa pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara yang sedang terparkir.
Berdasarkan foto yang beredar, pesawat E-3 Sentry dengan nomor ekor 0005 (berasal dari 552nd Air Control Wing di Oklahoma) mengalami kerusakan yang mustahil untuk diperbaiki.
Antena radar (radome) di bagian atas pesawat tampak hancur total, sementara sebagian besar badan pesawat (fuselage) dan peralatan elektronik di dalamnya hangus terbakar.
Kehilangan satu unit AWACS merupakan kerugian besar bagi AS. Pesawat ini adalah "mata di langit" yang krusial untuk manajemen pertempuran, koordinasi wilayah udara, hingga penguncian target.
"Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat platform manajemen pertempuran ini sangat vital untuk segala hal, mulai dari dekonfliksi ruang udara hingga koordinasi serangan," ujar Heather Penney, mantan pilot F-16 dan peneliti senior di Mitchell Institute for Aerospace Studies, dikutip via militarnyi.

Data menunjukkan bahwa dari total 16 armada E-3 yang dimiliki AS, enam di antaranya ditempatkan di Timur Tengah sebelum insiden ini terjadi.
Secara keseluruhan, Operasi Epic Fury yang dijalankan AS telah memakan korban 13 personel tewas dan lebih dari 300 luka-luka akibat berbagai serangan sejak awal Maret 2026.
Insiden ini mempercepat urgensi AS untuk mengganti armada E-3 Sentry yang sudah menua. Pentagon dikabarkan telah memesan pembangunan pesawat E-7A Wedgetail yang lebih modern dari perusahaan Boeing UK.
Berbeda dengan sistem lama, E-7A Wedgetail akan dilengkapi dengan teknologi radar MESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu:
Memindai wilayah udara dan mendeteksi target darat hingga jarak lebih dari 600 km.