- Sedikitnya delapan juta warga Amerika Serikat mengikuti gerakan "No Kings" pada Sabtu (28/3/2026) untuk memprotes kebijakan Trump.
- Demonstrasi ini menyasar isu otoriterianisme, imigrasi, iklim, serta perang ilegal AS terhadap Iran di berbagai negara bagian.
- Gerakan protes meluas hingga Eropa, menunjukkan oposisi signifikan terhadap kepemimpinan Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang.
Kekecewaan terhadap komunikasi publik gedung putih menjadi salah satu pemicu utama kemarahan warga.
"Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini adalah situasi mengerikan yang kita alami," ujar salah satu pengunjuk rasa kepada kantor berita AFP.
Negara yang Terbelah: MAGA vs No Kings
Aksi besar-besaran ini menyoroti jurang politik yang semakin dalam di Amerika Serikat. Di satu sisi, Trump sangat dipuja dalam gerakan "Make America Great Again" (MAGA).
Namun di sisi lain, ia sangat dibenci oleh lawan-lawannya yang mengecam kegemarannya memerintah melalui dekrit eksekutif, penggunaan sistem peradilan untuk menuntut lawan politik, serta pengabaiannya terhadap krisis iklim demi obsesi pada bahan bakar fosil.
Banyak penentangnya juga merasa tidak senang dengan penghapusan program keragaman ras dan gender, serta unjuk kekuatan militer AS di luar negeri.
Padahal, saat kampanye, Trump mencitrakan diri sebagai sosok pencinta damai yang akan menghindari perang. Kini,
keterlibatan aktif AS dalam konflik di Iran dan Timur Tengah menjadi titik balik bagi banyak pemilihnya yang merasa dikhianati.
Gedung Putih sendiri menepis aksi unjuk rasa tersebut. Seorang juru bicara menggambarkan demonstrasi itu sebagai produk dari "jaringan pendanaan kiri" yang kekurangan dukungan publik yang nyata.
"Satu-satunya orang yang peduli dengan Sesi Terapi Sindrom Gangguan Trump ini adalah para wartawan yang dibayar untuk meliputnya," tambah juru bicara Abigail Jackson dalam sebuah pernyataan resmi.
Senada dengan Gedung Putih, Komite Kongres Republik Nasional (NRCC) turut mengeluarkan pernyataan pedas.
Juru bicara mereka mengatakan, "Aksi Benci Amerika ini adalah tempat di mana fantasi paling kejam dan gila dari kelompok kiri jauh mendapatkan mikrofon."
Namun, penyelenggara aksi mencatat poin data yang mengejutkan: dua pertiga dari mereka yang menghadiri rapat umum pada hari Sabtu tidak tinggal di kota-kota besar yang biasanya merupakan benteng Partai Demokrat.
Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap Trump mulai merambah ke basis massa di wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan pendukung kuatnya.
Gelombang Protes Merambat Hingga Eropa