- Satu prajurit TNI gugur dan tiga luka dalam misi perdamaian PBB di Lebanon akibat serangan artileri yang belum teridentifikasi.
- Kapuspen TNI menyatakan investigasi sedang berlangsung oleh UNIFIL sementara korban luka dirawat di Beirut dan jenazah dipulangkan.
- DPR mendesak evaluasi serius misi perdamaian dan akan memanggil Panglima TNI terkait mitigasi risiko keamanan di lapangan.
Suara.com - Matrkas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas insiden serangan di Lebanon Selatan yang menewaskan satu prajurit dan melukai tiga lainnya dalam misi perdamaian PBB.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menyatakan insiden terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik dan saling serang artileri di wilayah penugasan.
“Insiden terjadi di tengah saling serang artileri dan hingga saat ini belum dapat dipastikan pihak yang secara langsung menyebabkan kejadian tersebut. Proses investigasi masih dilakukan oleh UNIFIL,” ujar Aulia dalam keterangan resmi TNI, Senin (30/3/2026).
Dalam insiden tersebut, Praka Farizal Rhomadhon yang tergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL dinyatakan gugur. Sementara itu, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.
TNI menyampaikan duka mendalam atas gugurnya prajurit tersebut.
Korban luka ringan menurut Aulia telah mendapatkan perawatan di Hospital Level I UNIFIL. Sementara prajurit dengan luka berat dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George di Beirut untuk penanganan lanjutan.
Adapun jenazah prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di East Sector Headquarters dan tengah diproses pemulangannya ke Indonesia dengan bantuan KBRI Beirut.
Di tengah situasi keamanan yang memburuk, TNI menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan sesuai prosedur operasi standar (SOP) UNIFIL serta menyiapkan langkah kontinjensi di daerah penugasan.
DPR Desak Evaluasi Misi Perdamaian
Gugurnya prajurit TNI ini memicu sorotan dari DPR RI. Komisi I menilai insiden tersebut tidak bisa dianggap biasa dan harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap penugasan pasukan di wilayah konflik.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyebut risiko misi perdamaian kini semakin nyata.
"Sebelumnya sudah pernah pernah kena juga rudal, akan tetapi tidak ada korban yang serius. Nah, sekarang sudah ada korban yang fatal," ujar Dave dikutip dari ANTARA, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan DPR akan memanggil Panglima TNI untuk meminta penjelasan resmi, termasuk terkait aspek keamanan dan mitigasi risiko bagi prajurit di lapangan.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan prajurit TNI tersebut tewas akibat tembakan artileri yang menghantam area sekitar posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr.
"Indonesia mengecam keras insiden yang terjadi dan mendesak investigasi yang menyeluruh dan transparan,” kata Kemlu RI.