Suara.com - Di tengah konflik yang terus memanas di Lebanon, kabar duka datang dari pasukan penjaga perdamaian. Pada Senin, 30 Maret 2026, tiga prajurit TNI dilaporkan tewas akibat serangan dan ledakan yang terjadi di wilayah selatan negara tersebut.
Insiden tersebut langsung menyita perhatian publik karena korban merupakan bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia.
Selain menewaskan tiga prajurit Indonesia, beberapa personel lainnya juga mengalami luka, menandakan bahwa situasi di wilayah konflik semakin tidak aman, bahkan bagi pihak netral sekalipun.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius yang tidak bisa ditoleransi.
Kronologi Dua Insiden Mematikan di Lebanon Selatan
Mengutip CBC News, insiden pertama terjadi pada Senin (30/3/2026) pagi di sekitar wilayah Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan. Saat itu, markas UNIFIL tiba-tiba terkena ledakan proyektil di tengah situasi saling serang antara militer Israel dan Hizbullah.
Serangan ini menewaskan satu prajurit TNI dan melukai tiga lainnya. Salah satu korban luka bahkan dilaporkan dalam kondisi kritis dan harus mendapatkan perawatan intensif.
Belum lama setelah kejadian tersebut, insiden kedua kembali terjadi di wilayah Bani Haiyyan. Sebuah kendaraan milik UNIFIL hancur akibat ledakan yang hingga kini belum diketahui penyebab pastinya. Dalam kejadian ini, dua prajurit Indonesia gugur, sementara dua lainnya mengalami luka-luka.
Salah satu prajurit yang gugur telah teridentifikasi, yaitu Praka Farizal Rhomadhon, anggota Yonif 113/Jaya Sakti, Kodam Iskandar Muda, Aceh. Ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih berusia dua tahun.
Pihak UNIFIL menyatakan bahwa kedua insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan. Mereka belum dapat memastikan siapa pihak yang bertanggung jawab, mengingat kejadian berlangsung di tengah konflik aktif yang melibatkan berbagai serangan artileri dan militer.
PBB Mengutuk Keras Serangan terhadap Pasukan Perdamaian
PBB menyampaikan kecaman tegas atas insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI tersebut. Sekjen PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama dalam setiap konflik.
“Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden terbaru yang telah membahayakan keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian,” tulisnya dalam postingan di X, dikutip Selasa (31/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa serangan terhadap pasukan PBB merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
PBB pun mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan menghormati kewajiban internasional.