-
Poros Perlawanan Iran menyiapkan kejutan militer strategis di wilayah Selat Bab Al Mandab.
-
Penutupan jalur maritim ini berpotensi memicu krisis energi global dan kenaikan harga minyak.
-
Houthi Yaman resmi bergabung dengan Iran untuk menekan kekuatan militer Amerika Serikat-Israel.
Ketegangan fisik secara terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat telah meletus sejak akhir Februari lalu.
Hizbullah di Lebanon juga secara aktif terlibat dalam kontak senjata melawan pasukan militer Israel.
Dampak dari perang ini meluas hingga melibatkan berbagai negara di semenanjung Arab secara langsung.
Fasilitas militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi sasaran utama dalam rangkaian serangan udara.
Iran juga telah mengambil tindakan tegas dengan mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ancaman pembakaran kapal yang melintas tanpa otoritas menjadi peringatan keras bagi pelayaran internasional.
Kini, memasuki pekan kelima, efek kerusakan mulai merembet pada sektor vital energi dunia.
Serangan terhadap infrastruktur minyak menyebabkan fluktuasi harga bahan bakar yang sangat ekstrem di pasar global.
Kecemasan mengenai krisis energi kini mulai menghantui pemerintahan di Washington dan juga Tel Aviv.
Skenario pemblokiran Selat Bab Al Mandab diyakini akan memperburuk stabilitas ekonomi internasional secara signifikan.
Secara geografis, selat ini merupakan jalur sempit sepanjang 32 kilometer yang memisahkan Yaman dengan Djibouti.
Titik ini adalah urat nadi utama yang menghubungkan wilayah Samudra Hindia menuju Laut Mediterania.
Setiap kapal logistik harus melewati Terusan Suez setelah berhasil melintasi titik krusial di Bab Al Mandab.
Data menunjukkan sekitar 12 persen dari total perdagangan minyak bumi dunia bergantung pada jalur ini.
Volume pengiriman minyak melalui selat ini diperkirakan mencapai angka 4,2 juta barel setiap harinya.