Iran Balas Dendam dengan Targetkan Helikopter AS di Kuwait dan Sistem Radar Canggih Milik Israel

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Kamis, 02 April 2026 | 14:38 WIB
Iran Balas Dendam dengan Targetkan Helikopter AS di Kuwait dan Sistem Radar Canggih Milik Israel
Rudal Iran (kantor Berita Iran)
  • Iran menyerang wilayah Israel dan pangkalan AS di UEA, Bahrain, serta Kuwait.

  • Sekitar 80 orang menjadi korban dalam serangan rudal Iran di markas militer Bahrain.

  • Operasi ini adalah aksi balasan atas serangan Israel-AS ke Teheran pada Februari lalu.

Suara.com - Situasi perang di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah militer Iran melancarkan operasi udara besar-besaran.

Serangan ini menyasar titik-titik krusial di dalam wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat.

Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait menjadi lokasi di mana fasilitas AS terkena dampak langsung.

Pihak berwenang Iran mengonfirmasi bahwa operasi ini merupakan bagian dari rangkaian serangan yang sudah direncanakan secara sistematis.

Kekuatan udara Iran mengerahkan berbagai jenis persenjataan canggih untuk memastikan target operasional mereka berhasil dilumpuhkan sepenuhnya.

Laporan resmi menyebutkan bahwa beberapa kota besar di Israel menjadi sasaran utama dalam serangan gelombang terbaru ini.

“Dalam gelombang ke-89 operasi tersebut … serangan rudal dan UAV dilakukan terhadap wilayah Eilat, Tel Aviv, dan Bnei Brak,” kata juru bicara markas pusat Khatam Al-Anbiya dari komando militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, Rabu (1/4).

Eilat yang berada di wilayah selatan hingga Tel Aviv di pusat pemerintahan tidak luput dari jangkauan proyektil Iran.

Penggunaan kendaraan udara tak berawak (UAV) menjadi strategi utama Iran dalam menembus sistem pertahanan udara lawan.

Operasi ini menunjukkan peningkatan kapabilitas teknologi militer Iran dalam menjangkau target jarak jauh dengan presisi tinggi.

Selain menyasar wilayah kedaulatan Israel, Iran juga memperluas jangkauan serangannya ke fasilitas yang menampung tentara Amerika Serikat.

Satu di antara lokasi yang mengalami kerusakan paling parah adalah markas militer yang berada di wilayah Bahrain.

Serangan tersebut dilaporkan memakan korban jiwa dan luka-luka dalam jumlah yang cukup signifikan bagi pihak militer.

Zolfaghari menambahkan bahwa serangan juga dilancarkan ke lokasi yang menampung personel militer AS di Bahrain.

Insiden berdarah di markas tersebut diperkirakan memberikan dampak psikologis dan operasional yang besar bagi unit militer setempat.

Data awal yang dihimpun menunjukkan angka kerugian manusia yang cukup mengejutkan akibat ledakan rudal di area tersebut.

Serangan tersebut mengakibatkan sekitar 80 orang terdampak, sebagian besar tewas atau terluka.

Tim medis di lapangan bekerja keras untuk melakukan evakuasi terhadap para korban di tengah situasi yang masih sangat tegang.

Iran menegaskan bahwa serangan ini merupakan konsekuensi logis dari keterlibatan asing yang mengancam stabilitas keamanan nasional mereka.

Hingga saat ini, proses identifikasi terhadap para korban masih terus dilakukan oleh pihak berwenang di lokasi kejadian.

Tidak berhenti di Bahrain, unit tempur Iran juga mengarahkan serangan mereka menuju wilayah Kuwait untuk menyasar aset udara.

Target spesifik di wilayah tersebut adalah pangkalan udara yang menjadi tempat parkir bagi armada helikopter militer Amerika Serikat.

Pasukan Iran, lanjutnya, juga menyerang kelompok helikopter Angkatan Darat AS di pangkalan Al-Adiri di Kuwait, dengan satu helikopter dilaporkan hancur dan beberapa lainnya mengalami kerusakan serius.

Kehilangan aset udara ini dianggap sebagai pukulan telak bagi mobilitas pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Serangan yang terukur ini membuktikan bahwa Iran memiliki intelijen yang akurat mengenai posisi alutsista strategis milik lawan mereka.

Selain armada helikopter, Iran juga menargetkan infrastruktur pendeteksi canggih yang digunakan untuk memantau pergerakan wilayah maritim.

Dua sistem radar peringatan dini milik AS yang berada di wilayah maritim dan di pulau-pulau milik UEA juga dihancurkan.

Hancurnya sistem radar ini mengakibatkan kebutaan taktis bagi sistem pertahanan Amerika Serikat di sekitar wilayah perairan UEA.

Tanpa radar peringatan dini, deteksi terhadap ancaman udara dan laut menjadi sangat sulit dilakukan dalam waktu singkat.

Operasi sabotase infrastruktur ini bertujuan untuk melemahkan dominasi teknologi pemantauan yang selama ini dikuasai oleh militer Amerika Serikat.

Pada waktu yang bersamaan, Iran juga melakukan infiltrasi udara menggunakan drone ke salah satu bandara tersibuk di Israel.

Bandara Ben Gurion menjadi sasaran empuk bagi drone serang Iran yang bertujuan melumpuhkan logistik pengisian bahan bakar udara.

“Sejak pagi hari, tentara Iran telah menyerang konsentrasi pesawat pengisian bahan bakar udara milik AS yang ditempatkan di Bandara Ben Gurion menggunakan UAV serang dan menargetkan stasiun radar yang digunakan untuk mendeteksi dan mencegat rudal dan drone,” ucapnya.

Langkah ini dirancang untuk memutus rantai pasokan bahan bakar bagi pesawat tempur yang sedang beroperasi di wilayah udara tersebut.

Penghancuran stasiun radar di bandara tersebut juga mempermudah masuknya gelombang serangan rudal berikutnya tanpa terdeteksi sejak dini.

Eskalasi besar-besaran yang terjadi pada awal April ini bukanlah sebuah kejadian yang berdiri sendiri tanpa pemicu sebelumnya.

Iran menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan respon defensif atas serangan yang lebih dulu dilakukan oleh pihak lawan.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Serangan di Teheran tersebut memicu kemarahan publik dan desakan agar militer segera mengambil langkah pembalasan yang setimpal.

Akibat dari provokasi tersebut, Iran membulatkan tekad untuk menyerang balik pusat-pusat kekuatan lawan sebagai bentuk proteksi diri.

Kini seluruh mata dunia tertuju pada perkembangan konflik yang semakin meluas dan melibatkan banyak negara di kawasan tersebut.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Serangan balasan ini menandai babak baru dalam konfrontasi terbuka yang melibatkan kekuatan rudal dan teknologi drone terkini.

Dunia internasional mengkhawatirkan adanya serangan balasan lanjutan yang bisa memicu perang skala penuh di seluruh wilayah Teluk.

Upaya diplomasi kini sedang diuji untuk mencegah situasi semakin tidak terkendali setelah rentetan ledakan di berbagai negara ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Iran Hancurkan Infrastuktur Cloud AWS di Bahrain! Google, Microsoft dan Apple  Target Selanjutnya

Iran Hancurkan Infrastuktur Cloud AWS di Bahrain! Google, Microsoft dan Apple Target Selanjutnya

News | Kamis, 02 April 2026 | 14:25 WIB

Iran Ungkap Rahasia Donald Trump 'Manipulasi' Harga Saham dan Minyak

Iran Ungkap Rahasia Donald Trump 'Manipulasi' Harga Saham dan Minyak

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 13:59 WIB

Presiden Iran Sebut Amerika Serikat Ciptakan Musuh Palsu Demi Kendali Pasar Strategis Global

Presiden Iran Sebut Amerika Serikat Ciptakan Musuh Palsu Demi Kendali Pasar Strategis Global

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:46 WIB

Terkini

Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta

Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 22:27 WIB

Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Stabilitas Dolar dan Pasar Saham Mulai Kalem

Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Stabilitas Dolar dan Pasar Saham Mulai Kalem

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 21:27 WIB

Skandal LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Anatomi Ketidakadilan di Atas Panggung Konstitusi

Skandal LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Anatomi Ketidakadilan di Atas Panggung Konstitusi

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 21:15 WIB

Gubernur John Tabo Polisikan Penyebar Voice Note Tuduhan Provokasi Konflik di Wamena

Gubernur John Tabo Polisikan Penyebar Voice Note Tuduhan Provokasi Konflik di Wamena

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 20:15 WIB

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 19:15 WIB

Wamenaker Antisipasi Gelombang PHK Dampak Konflik Timur Tengah

Wamenaker Antisipasi Gelombang PHK Dampak Konflik Timur Tengah

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 18:10 WIB

BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh

BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 18:04 WIB

Cegah Perang Suku Pecah Lagi, 300 Pasukan Brimob Dikirim ke Wamena

Cegah Perang Suku Pecah Lagi, 300 Pasukan Brimob Dikirim ke Wamena

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 17:59 WIB

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 17:05 WIB

Banding Kasus Chromebook, Pengamat Ingatkan PT Tak Ulur Waktu Tahan Ibrahim Arief

Banding Kasus Chromebook, Pengamat Ingatkan PT Tak Ulur Waktu Tahan Ibrahim Arief

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 16:38 WIB