- Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan investor global agar tidak terpengaruh narasi AS dalam pasar keuangan minyak.
- Ghalibaf menggunakan media sosial untuk mengejek kebijakan AS sebagai bagian dari doktrin perang asimetris melawan ekonomi Amerika.
- Strategi ini bertujuan mengguncang pasar global dan menekan pemerintahan AS agar beralih dari militerisme menuju solusi diplomatik.
Suara.com - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, baru-baru ini mengambil peran yang sangat tidak biasa di tengah berkecamuknya tensi militer antara negaranya dengan Amerika Serikat (AS).
Melalui serangkaian unggahan di platform media sosial X, Ghalibaf memosisikan dirinya layaknya seorang penasihat keuangan dadakan.
Ia memperingatkan para investor global agar tidak mentah-mentah menelan berita utama yang digerakkan oleh narasi AS.
Ghalibaf secara kritis berargumen bahwa berita palsu atau fake news kerap digunakan secara sengaja oleh AS untuk memanipulasi pasar keuangan dan komoditas minyak.
Dalam salah satu unggahan terbarunya, ia menulis: "Perhatian: Apa yang disebut 'berita' atau 'kebenaran' sebelum pasar dibuka seringkali hanyalah jebakan untuk aksi ambil untung. Pada dasarnya, itu adalah indikator terbalik."
Tidak berhenti di situ, ia bahkan memberikan anjuran perdagangan yang sangat spesifik dengan menambahkan: "Lakukan sebaliknya: Jika mereka menaikkan harganya, Short Selling. Jika mereka menurunkannya, Long Buying."
Ghalibaf menutup narasinya dengan kalimat provokatif: "Apakah Anda melihat sesuatu besok? Anda tahu aturannya.."
Para analis menilai bahwa manuver digital Ghalibaf ini bukan sekadar luapan emosi sesaat atau perang urat syaraf biasa di dunia maya.
Di balik retorika tersebut, terdapat kalkulasi strategis yang sangat serius yang mencerminkan doktrin perang asimetris (asymmetric warfare) yang dianut oleh Teheran.
Melalui perang asimetris ini, Iran berusaha membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk mengguncang pasar domestik AS dengan mengeksploitasi titik-titik tekan ekonomi yang sensitif.
Pendekatan inilah yang melandasi keputusan Iran sebelumnya untuk menutup Selat Hormuz—sebuah jalur perairan sangat vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan terbuka.
Jalur sempit ini dilewati oleh sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Seperti yang telah diprediksi, penutupan jalur tersebut langsung melambungkan harga minyak dunia dan memberikan tekanan inflasi yang berat bagi perekonomian global.
Sebagai bagian dari strategi penekanan tersebut, Ghalibaf juga melayangkan ancaman terbuka kepada institusi finansial global yang terlibat dalam pendanaan aset militer AS di Timur Tengah.
Ia menyatakan, "Obligasi pemerintah AS berlumuran darah rakyat Iran," dan menambahkan ultimatum keras, "Kami memantau portofolio Anda. Ini adalah pemberitahuan terakhir Anda."
Jo Michell, seorang profesor ekonomi dari University of the West of England di Bristol, menjelaskan fenomena ini kepada Al Jazeera: "Secara umum diyakini bahwa jatuhnya pasar saham, kenaikan harga energi, dan suku bunga yang lebih tinggi pada akhirnya akan memaksa [Presiden AS Donald] Trump untuk mundur dari aksi militer dan mencari solusi diplomatik."
Menurut artikel yang ditulis Aljazeera, sikap Ghalibaf ini secara cerdas memanfaatkan kebiasaan Presiden AS Donald Trump yang sangat reaktif di media sosial.
Para pengamat pasar dan pelaku perdagangan bahkan telah mengidentifikasi sebuah pola perilaku Trump yang melahirkan akronim TACO—singkatan dari "Trump always chickens out".
Istilah ini populer di kalangan traders yang berani bertaruh bahwa gertakan Trump pada akhirnya akan melunak.
![Dunia keuangan dikejutkan oleh transaksi mencurigakan yang terjadi sesaat sebelum Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan jeda serangan terhadap Iran. [Inc. Magazine]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/26/56494-donald-trump.jpg)
Profesor Jo Michell seperti dalam laporan yang sama dari Aljazeera mencatat pola inkonsistensi komunikasi sang Presiden AS: "Telah dicatat juga bahwa presiden AS membuat beberapa pernyataan paling agresifnya di akhir pekan ketika pasar tutup, hanya untuk kemudian menarik kembali pernyataannya menjelang pembukaan pasar."
Contoh nyata dari pola ini terjadi pada awal pekan perdagangan. Kurang dari 12 jam sebelum tenggat waktu 48 jam yang diberikan Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz berakhir—di mana Trump mengancam akan melakukan penyerangan masif hingga "obliterate" atau melenyapkan infrastruktur energi Iran—ia justru melunak.
Trump memperpanjang tenggat waktu tersebut selama lima hari dan kemudian berjanji untuk menahan serangan selama 10 hari tambahan demi membuka ruang bagi apa yang disebutnya sebagai "constructive conversations".
Dengan ikut aktif dalam ruang informasi digital dan membingkai konflik ini sebagai pertarungan militer sekaligus propaganda, Iran berhasil mendiversifikasi metode perlawanan mereka.
Michell menggambarkan bahwa cuitan Ghalibaf di media sosial sebenarnya merupakan bentuk "taunting" atau ejekan yang ditujukan langsung kepada presiden miliarder tersebut dengan mengekspos "kelemahan utama (Trump) sekaligus menekankan bahwa pasar semakin mengabaikan upaya Trump untuk memengaruhinya.".

Ghalibaf dengan nada sarkastik mengejek upaya manipulasi psikologis AS terhadap harga minyak dengan mencuitkan: "Kami menyadari apa yang terjadi di pasar minyak kertas, termasuk perusahaan-perusahaan yang disewa untuk memengaruhi harga minyak berjangka. Kami juga melihat kampanye propaganda yang lebih luas.."
Di pasar yang sangat spekulatif, di mana investor mencari sinyal sekecil apa pun di tengah pesan Trump yang tidak konsisten, retorika pejabat Iran yang terlihat santai namun penuh kalkulasi ini justru menambah volatilitas pasar secara signifikan.
Keberadaan "high visibility of Donald Trump online" justru mempercepat dinamika ini, membuat sang presiden AS menjadi target empuk yang sangat mudah diakses dalam perang kognitif di era digital.