- Sejumlah anggota DPR dan Kongres AS mendesak pemakzulan Donald Trump karena retorika ancaman perang terhadap Iran sejak Selasa malam.
- Desakan tersebut muncul setelah Trump mengancam peradaban Iran terkait penutupan Selat Hormuz melalui unggahan di media sosial Truth Social.
- Upaya pemakzulan tersebut dinilai sulit terwujud karena kendali Partai Republik di Kongres dan dukungan loyalis dalam kabinet Trump.
Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyebut manuver Demokrat tersebut sebagai upaya putus asa.
“Demokrat telah berbicara tentang mencopot Presiden Trump bahkan sebelum dia dilantik. Partai Demokrat di Kongres sudah gila, lemah, dan tidak efektif, itulah sebabnya peringkat persetujuan mereka berada di titik terendah dalam sejarah,” ujar Ingle.
Pete Hegseth: Sasaran Berikutnya di Kabinet
Selain Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth kini berada dalam pusaran ancaman pemakzulan.
Anggota DPR Yassamin Ansari, yang merupakan keturunan Iran-Amerika, mengumumkan niatnya untuk mengajukan pasal pemakzulan terhadap bos Pentagon tersebut minggu depan.
Hegseth dituduh telah melakukan "pelanggaran berulang terhadap sumpah jabatan dan tugasnya terhadap Konstitusi."
Ansari merujuk pada beberapa insiden tragis, termasuk pengeboman sebuah sekolah anak perempuan di Iran Selatan pada tahap awal konflik.
“Amandemen ke-25 ada karena suatu alasan. Kabinetnya harus menggunakannya. Nasib pasukan AS, rakyat Iran, dan fondasi sistem global kita sedang dipertaruhkan,” kata Ansari dalam pernyataannya.
Ansari juga menyoroti gaya komunikasi Trump yang dianggap kasar dan tidak pantas bagi seorang kepala negara, termasuk unggahan di hari Paskah yang lalu.
Trump sempat menuliskan pesan kepada para pemimpin Iran: “Buka Selat [Hormuz] Sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan tinggal di Neraka — LIHAT SAJA! Puji Allah.”
Perlawanan di Pentagon
Di sisi lain, Pentagon tetap teguh pada posisinya. Juru bicara Pentagon, Kingsley Wilson, menganggap langkah Demokrat hanya sebagai upaya untuk mencari panggung politik di tengah keberhasilan operasi militer Amerika.
“Menteri Hegseth akan terus melindungi tanah air dan meluncurkan kemarahan epik terhadap rezim radikal Iran,” ujar Wilson kepada media.
Ia juga menambahkan, tuduhan tersebut hanyalah “sandiwara lain dalam upaya untuk mengalihkan perhatian rakyat Amerika dari kesuksesan besar yang telah kita raih di Departemen Perang.”
Meskipun seruan pemakzulan dan Amandemen ke-25 terus bergema di kota-kota besar AS dan media sosial, realitas politik di Capitol Hill menunjukkan jalan yang terjal.
Dengan Partai Republik yang memegang kendali di kedua kamar Kongres, upaya Demokrat untuk benar-benar mencopot Trump atau pejabat tinggi lainnya hampir mustahil secara matematis, karena membutuhkan dukungan dua pertiga suara di Senat.
Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, memilih pendekatan yang lebih moderat meskipun tetap kritis.
Ia tidak secara langsung menyerukan pencopotan, namun mendesak rekan-rekan Partai Republiknya untuk lebih patriotik.
“Sudah waktunya bagi setiap orang Republik untuk menempatkan tugas patriotik di atas partai dan menghentikan kegilaan ini,” kata Jeffries.
Demokrat berencana mengajukan resolusi untuk membatasi kekuasaan perang Trump di Iran saat Kongres kembali bersidang minggu depan.