- Mobilitas mudik Lebaran 2026 mencapai 147 juta orang dengan tingkat kecelakaan yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
- Komisi V DPR menyoroti kemacetan di Tol Trans Jawa dan kepadatan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang yang perlu evaluasi.
- Pemerintah didorong menerapkan kebijakan kerja jarak jauh untuk mendistribusikan waktu keberangkatan pemudik agar tidak terjadi penumpukan.
Suara.com - Pelaksanaan mudik dan arus balik Lebaran 2026 mencatat lonjakan mobilitas masyarakat yang mencapai angka 147 juta orang.
Kendati secara umum dinilai lebih terkendali, dengan tren penurunan angka kecelakaan, sejumlah titik krusial seperti kapasitas rest area dan pelabuhan penyeberangan tetap menjadi catatan evaluasi serius bagi pemerintah.
Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, mengungkapkan bahwa berdasarkan data sementara dari Kementerian Perhubungan, terdapat peningkatan pergerakan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, ia menyambut positif adanya penurunan pada tingkat fatalitas kecelakaan selama periode tersebut.
“Pergerakan mencapai sekitar 147 juta orang, dan alhamdulillah tingkat fatalitas menurun,” ujar Danang dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema "Catatan Evaluasi Arus Mudik 2026" di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meskipun capaian tahun ini menunjukkan tren positif, Danang menegaskan bahwa DPR akan terus mendorong pemerintah untuk mencapai target zero accident dalam setiap penyelenggaraan mudik nasional.
Ia menilai keberhasilan tahun ini merupakan buah dari kolaborasi solid antarlembaga, termasuk Kemenhub, Kementerian PU, BMKG, hingga Korlantas Polri.
Di sisi lain, Danang memberikan catatan khusus mengenai kemacetan yang masih terjadi di ruas Tol Trans Jawa.
Menurutnya, wilayah Cirebon menjadi salah satu titik yang paling terdampak akibat terbatasnya kapasitas tempat istirahat yang memicu antrean kendaraan hingga ke badan jalan.
“Rest area di Cirebon perlu ditingkatkan karena menjadi titik tengah krusial bagi pemudik,” tegasnya.
Persoalan kepadatan juga ditemukan di sektor penyeberangan laut. Danang menyoroti rute Gilimanuk–Ketapang yang tahun ini menghadapi tantangan tambahan karena berdekatan dengan momentum Hari Raya Nyepi.
Meski sempat terjadi penumpukan kendaraan, ia mengapresiasi kesigapan petugas di lapangan dalam merespons situasi tersebut.
Sebagai solusi jangka panjang, Danang menilai kebijakan work from anywhere (WFA) sebagai langkah yang sangat efektif dalam mengurai puncak arus perjalanan.
Kebijakan ini dinilai mampu menyebarkan distribusi waktu keberangkatan pemudik sehingga tidak terjadi penumpukan massa pada waktu yang bersamaan.