Dinilai Lebih Hemat, Bisakah Energi Surya Gantikan PLTD dan Kurangi Impor BBM?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 10 April 2026 | 11:10 WIB
Dinilai Lebih Hemat, Bisakah Energi Surya Gantikan PLTD dan Kurangi Impor BBM?
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (Tom Fisk/Pexels)

Suara.com - Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) telah bertahun-tahun menjadi sumber energi bagi wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Indonesia. Berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform (IESR), penggunaan PLTD di wilayah tersebut didasarkan pada alasan teknis, geografis, dan fleksibilitas infrastruktur. 

Namun, di balik alasan tersebut, PLTD dinilai kurang efektif dan efisien untuk digunakan dalam jangka panjang. Skema ini membuat Indonesia terjebak dalam biaya impor bahan bakar yang mahal, harga minyak yang fluktuatif, serta beban subsidi yang tinggi.

“Ketergantungan pada diesel membuat biaya listrik mahal dan sangat bergantung pada pasar global,” demikian disebut dalam analisis Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

Uji coba lanjutan cofiring hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG). [Dok PLN].
Uji coba lanjutan cofiring hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG). [Dok PLN].

Data menunjukkan, Indonesia mengoperasikan ribuan PLTD dengan kapasitas sekitar 5,8 GW. Untuk menghasilkan listrik tersebut, dibutuhkan sekitar 2,7 miliar liter bahan bakar diesel per tahun atau setara 17 juta barel impor. Nilainya mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun setiap tahun.

Biaya produksi listrik dari PLTD juga terus meningkat. Jika pada 2020 masih sekitar Rp4.746 per kWh, pada 2023 melonjak menjadi Rp8.748 per kWh. Kondisi ini diperparah oleh gejolak geopolitik global yang membuat pasokan dan harga energi semakin tidak pasti.

Sebagai solusi, pemerintah mendorong pemanfaatan energi surya yang dikombinasikan dengan BESS. Teknologi ini dinilai lebih murah dan stabil. Berdasarkan perhitungan, biaya listrik dari sistem ini berada di kisaran 0,08 hingga 0,20 dolar AS per kWh, jauh lebih rendah dibandingkan diesel yang bisa mencapai 0,29 hingga 0,65 dolar AS per kWh.

“Solar plus BESS menawarkan alternatif listrik berbiaya rendah sekaligus lebih andal untuk wilayah kepulauan,” tulis IEEFA.

Dengan peralihan ini, Indonesia berpotensi menghemat hingga 2 miliar dolar AS dari pengurangan impor bahan bakar dan sekitar 1,5 hingga 2 miliar dolar AS dari pengurangan subsidi setiap tahun. Selain itu, energi surya juga dinilai lebih aman karena tidak bergantung pada distribusi bahan bakar yang selama ini menjadi kendala di wilayah 3T.

Meski secara ekonomi menguntungkan, implementasi program ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari ketidakpastian regulasi, kesulitan pendanaan, hingga masalah pembebasan lahan.

baca juga

“Tanpa kepastian tarif dan regulasi yang jelas, investasi swasta sulit masuk,” demikian disebut dalam laporan tersebut.

Untuk itu, pemerintah didorong mempercepat penyusunan kebijakan yang lebih pasti, membuka skema pembiayaan inovatif, serta memperbaiki tata kelola lahan agar proyek dapat berjalan lebih cepat.

Jika berjalan sesuai rencana, proyek 100 GW ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Industri panel surya dan baterai dalam negeri diproyeksikan tumbuh, sekaligus menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor.

Dengan potensi sinar matahari yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk beralih ke energi bersih. Transformasi ini diharapkan tidak hanya menekan biaya listrik, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor energi dan memperkuat ekonomi jangka panjang.

Oleh karena itu, pemerintah kini tengah  gencar melakukan de-dieselisasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Langkah ini dinilai memberikan berbagai manfaat, mulai dari, efisiensi anggaran negara hingga memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Efisiensi Anggaran dan Pengalihan Subsidi Energi 

Dalam program de-dieselisasi, Indonesia memanfaatkan panel surya sebagai pengganti PLTD di berbagai wilayah 3T. Penggunaan energi surya ini dapat menghemat biaya negara karena memiliki biaya operasional yang lebih rendah. Dengan kombinasi tenaga surya dan sistem penyimpanan energi baterai, biaya listrik dapat ditekan hingga 0,08 hingga 0,20 dollar AS per kilowatt jam (kWh) atau sekitar Rp. 1.360 hingga Rp. 3.420. 

Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan bahwa konversi PLTD ke energi terbarukan dapat menurunkan Konsumsi BBM secara signifikan. Hal ini berpotensi mengurangi beban subsidi negara pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diproyeksikan mencapai 210,1 triliun. Dengan demikian, anggaran tersebut dapat dialihkan untuk hal yang lebih dibutuhkan, seperti pembangunan infrastruktur yang merata di wilayah 3T. 

Di sisi lain, penggunaan panel surya tidak memerlukan proses pengiriman bahan bakar, sehingga masyarakat dapat menikmati pasokan energi secara lebih stabil tanpa terkendala oleh keterbatasan mobilitas distribusi.  

Lebih Ramah Lingkungan 

Selain lebih hemat, peralihan dari PLTD ke panel surya juga bisa menjadi langkah konkret dalam menurunkan jejak karbon pada sektor kelistrikan di Indonesia. Penggunaan PLTD konvensional tidak hanya menyumbang emisi gas rumah kaca, tetapi juga memiliki risiko pencemaran lingkungan lokal, seperti kebocoran bahan bakar hingga polusi suara yang mengganggu warga sekitar. Oleh karena itu, pemanfaatan panel surya dinilai sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan. 

Dengan mengadopsi panel surya sebagai metode De-dieselisasi, tentunya proses produksi energi menjadi jauh lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah 3T serta mewujudkan sistem energi yang lebih berkelanjutan di masa depan. 

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biaya Pasang Panel Surya 900 Watt di Rumah Terbaru 2026, Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan

Biaya Pasang Panel Surya 900 Watt di Rumah Terbaru 2026, Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan

Lifestyle | Senin, 06 April 2026 | 16:04 WIB

Pasar EPC Energi Surya Diprediksi Tembus Rp133 Triliun, Peluang Ekonomi Hijau Makin Besar

Pasar EPC Energi Surya Diprediksi Tembus Rp133 Triliun, Peluang Ekonomi Hijau Makin Besar

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 09:17 WIB

Harga Minyak Naik, Prabowo Kebut Proyek PLTS buat Gantikan Tenaga Diesel

Harga Minyak Naik, Prabowo Kebut Proyek PLTS buat Gantikan Tenaga Diesel

Bisnis | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:24 WIB

Terkini

Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali

Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:49 WIB

Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel

Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:39 WIB

Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu

Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:22 WIB

5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu

5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:11 WIB

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:50 WIB

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Health | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:40 WIB

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:12 WIB

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:06 WIB

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Bogor | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:59 WIB

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:48 WIB

×