- WVI menginisiasi program pemberdayaan ekonomi melalui budidaya ikan sistem silvofishery bagi warga di Lombok Timur, NTB.
- Peternak di Dusun Sungai Sugihan menerapkan metode integrasi ikan dan mangrove untuk meningkatkan produktivitas hasil panen ikan bandeng serta nila.
- Program ini memberikan bantuan bibit, pakan, dan pelatihan teknis yang berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi warga setempat.
Suara.com - Program pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) mulai membuahkan hasil manis bagi warga di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Melalui pola silvofishery—integrasi antara budidaya perikanan dan pelestarian mangrove—para peternak ikan lokal kini menatap optimis panen perdana mereka.
Amaq Supriadi, Kepala Dusun di Kecamatan Sambelia sekaligus peternak ikan, mengungkapkan rasa syukurnya atas pendampingan intensif yang diberikan oleh WVI. Menurutnya, dukungan berupa bibit, pakan, hingga pelatihan teknis menjadi kunci keberhasilan kelompoknya.
"Kami sangat terbantu dengan program WVI. Kami dibantu pakan dan bibit ikan nila serta bandeng. Ini adalah kerja sama pertama kami, dan sebentar lagi kami akan melakukan panen perdana," ujar Supriadi saat ditemui di lokasi tambaknya di samping Sungai Sugihan, Kamis (9/4/2026).
Produktivitas Tinggi dengan Pola Silvofishery
Di atas lahan demplot seluas kurang lebih 1.000 meter persegi, Supriadi dan kelompoknya membudidayakan sekitar 5.000 bibit ikan bandeng dan 6.500 bibit ikan nila di dua tambak dengan kedalaman air sekitar 65 sentimeter.
Berbeda dengan tambak konvensional, lahan ini menggunakan pola jalur dan tanggul dengan menanam mangrove jenis Rhizophora stylosa di tengah kolam.

Project Coordinator MARVEL East Lombok, Maria Natalia Pratiwi, menjelaskan bahwa metode ini tidak hanya bertujuan untuk hasil ekonomi, tetapi juga menjaga ekosistem pesisir.
"Keberadaan mangrove berfungsi sebagai pelindung alami sekaligus penyeimbang ekosistem bagi ikan," jelasnya.
Optimisme Nilai Jual
Proses budidaya ini memakan waktu sekitar empat bulan sejak tebar bibit pada awal November lalu. Supriadi menjelaskan, meski idealnya panen dilakukan dalam 3,5 bulan, pertumbuhan ikan saat ini sudah sangat memuaskan dan siap dilempar ke pasar.
Terkait nilai ekonomi, Supriadi menyebut harga jual ikan di tingkat peternak cukup menjanjikan.
"Untuk ikan bandeng, kemarin anggota demplot lain sudah ada yang panen dengan harga Rp21 ribu per kilogram. Sedangkan untuk ikan nila, harganya berkisar di angka Rp28 ribu per kilogram," ungkapnya.
Dalam hal perawatan, Supriadi cukup disiplin. Ikan-ikan tersebut diberi pakan pelet tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore). Satu karung pakan berukuran 25 kg biasanya habis dalam 4-5 hari.
Selain mengandalkan 24 karung pakan bantuan dari WVI, peternak juga berinovasi dengan membuat pupuk probiotik sendiri untuk menjaga kualitas air dan kesehatan ikan.

Studi Banding hingga ke Kalimantan
Keseriusan WVI dalam membina peternak di Lombok Timur juga ditunjukkan dengan peningkatan kapasitas SDM. Pada Mei 2025 lalu, Ahmad beserta tiga orang rekan lainnya sempat diboyong ke Kalimantan untuk melihat langsung keberhasilan pola serupa di sana.
"Kami empat orang diajak ke Kalimantan oleh WVI karena di sana program ini sudah sangat berhasil. Kami belajar banyak dari sana untuk diterapkan di sini," kata Supriadi.
Supriadi menuturkan bantuan yang diberikan WVI nantinya akan diputar sebagai modal untuk membeli bibit baru dan pakan setelah panen dilakukan.
Menutup keterangannya, Supriadi berharap program kolaborasi ini tidak berhenti pada panen pertama saja, melainkan terus berlanjut demi kesejahteraan warga Dusun yang lebih luas.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Wahana Visi. Harapan kami, program ini bisa terus berlanjut karena manfaatnya sangat terasa bagi ekonomi kami," pungkasnya.