Jeritan Ayah di Gaza Menanti Evakuasi 4 Anaknya yang 6 bulan Terkubur Beton di Masa Gencatan Senjata

Pebriansyah Ariefana

Minggu, 12 April 2026 | 06:09 WIB
Jeritan Ayah di Gaza Menanti Evakuasi 4 Anaknya yang 6 bulan Terkubur Beton di Masa Gencatan Senjata
Sepuluh ribu warga Gaza hilang tertimbun reruntuhan akibat kegagalan evakuasi selama masa gencatan senjata. (Anadolu)
baca 10 detik
  • Sepuluh ribu warga Palestina masih tertimbun di bawah reruntuhan meskipun gencatan senjata berlangsung.

  • Minimnya alat berat dan prioritas politik menghambat evakuasi ribuan jenazah dari puing bangunan.

  • Agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 orang sejak Oktober 2023 lalu.

Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam bulan gagal memberikan kesempatan bagi ribuan keluarga di Jalur Gaza untuk memakamkan orang terkasih secara layak.

Data menunjukkan sekitar 10.000 warga Palestina masih dinyatakan hilang dan diduga kuat tertimbun di bawah gedung-gedung yang hancur sejak agresi militer dimulai Oktober 2023.

Dikutip dari Al Jazeera, meskipun mediator internasional telah memfasilitasi perjanjian antara Israel dan Hamas, realita di lapangan menunjukkan bahwa penderitaan warga sipil belum benar-benar berhenti.

Anak-anak yatim Gaza peringati 2 tahun perang dengan seruan perdamaian. (ANTARA)
Anak-anak yatim Gaza peringati 2 tahun perang dengan seruan perdamaian. (ANTARA)

PBB melaporkan bahwa serangan udara Israel telah meninggalkan lebih dari 61 juta ton puing bangunan yang kini menjadi makam massal bagi komunitas di Gaza.

Situasi ini menciptakan kebuntuan bagi upaya pemulihan martabat kemanusiaan para korban yang hingga kini masih terperangkap di bawah beton.

Kendala Evakuasi dan Minimnya Peralatan Berat

Seorang ayah di kamp pengungsi Bureij, Abu Mohammed, menjadi saksi hidup betapa sulitnya menjangkau jasad anggota keluarga sendiri tanpa bantuan teknis.

Ia terpaksa hidup berdampingan dengan reruntuhan rumahnya yang masih menyimpan jasad empat anaknya yang tidak selamat saat serangan terjadi.

Walaupun telah berhasil memakamkan istri, ibu, dan satu anaknya, sebagian besar buah hatinya masih terhimpit beton kokoh tanpa ada bantuan evakuasi.

baca juga

“Saya telah mencoba selama tiga tahun untuk mengambil anak-anak saya, tetapi ini adalah lempengan beton yang sangat besar. Tidak mungkin saya bisa melakukan ini, bahkan dengan ekskavator. Ini membutuhkan peralatan berat,” kata Abu Mohammed.

Keputusasaan Abu Mohammed memuncak karena upaya menghubungi tim pertahanan sipil berulang kali tidak membuahkan hasil hingga saat ini.

Prioritas Pengambilan Tawanan yang Diskriminatif

“Bagaimana saya bisa melakukan ini sendirian?” ujar Abu Mohammed menggambarkan betapa mustahilnya memindahkan bongkahan gedung dengan tangan kosong.

Ironisnya, peralatan berat yang masuk ke Gaza dikabarkan hanya diprioritaskan untuk kepentingan pengambilan tawanan tertentu, bukan untuk bantuan sipil menyeluruh.

Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengungkapkan bahwa alat berat dari komite luar negeri hanya digunakan untuk misi terbatas.

“Tidak ada yang masuk ke Gaza kecuali peralatan terbatas yang dibawa untuk komite Mesir dan tim Bulan Sabit Merah untuk mengambil tawanan Israel,” kata Mahmoud Basal.

Mahmoud menambahkan dengan nada kecewa, “Setelah jenazah-jenazah itu ditemukan, file tersebut ditutup.”

Ancaman Nyata di Tengah Status Gencatan Senjata

Kondisi di satu blok apartemen di Bureij menunjukkan masih ada setidaknya 50 jenazah yang belum tersentuh sama sekali sejak akhir tahun lalu.

Gencatan senjata yang seharusnya menjadi momentum pemulihan justru tidak membawa perubahan signifikan pada akses alat berat untuk evakuasi warga lokal.

Di tengah ketidakpastian tersebut, serangan-serangan sporadis dari pasukan Israel dilaporkan masih terus merenggut nyawa warga sipil.

Seorang siswi muda baru-baru ini tewas ditembak saat sedang mengikuti kegiatan belajar di dalam tenda di wilayah Beit Lahiya, Gaza Utara.

Kejadian ini mempertegas bahwa ruang aman bagi warga Palestina tetap sangat terbatas meskipun kesepakatan damai secara resmi telah ditandatangani.

Penjajahan Ruang dan Dampak Agresi yang Masif

Israel tercatat masih menduduki lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza dan menghancurkan sebagian besar struktur bangunan di area tersebut.

Penduduk dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka sementara proses identifikasi dan pengangkatan jenazah dari bawah reruntuhan berjalan sangat lambat.

Data terbaru menunjukkan sejak gencatan senjata dimulai, sebanyak 738 orang tewas dan 2.036 lainnya mengalami luka-luka akibat berbagai insiden keamanan.

Otoritas setempat hanya mampu mengangkat 759 jenazah dari reruntuhan di seluruh wilayah Gaza selama periode tenang yang semu ini.

Skala kehancuran total akibat perang ini telah merenggut lebih dari 72.317 nyawa warga Palestina dengan angka luka-luka mencapai ratusan ribu orang.

Konflik yang pecah pada Oktober 2023 telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di kawasan tersebut dengan kehancuran infrastruktur sipil yang hampir total.

Gencatan senjata yang dimediasi internasional sejatinya bertujuan untuk menghentikan pertumpahan darah dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah yang terkepung.

Namun, hambatan birokrasi dan kendali militer atas perbatasan membuat proses pemulihan, termasuk evakuasi ribuan jenazah yang tertimbun puing, menjadi agenda yang terus terabaikan.

Hingga hari ini, Gaza tetap menjadi wilayah dengan jutaan ton reruntuhan yang menyembunyikan ribuan nyawa yang belum sempat didoakan di liang lahat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tiba di Pakistan, Tim Perunding Iran Ingatkan Pengalaman Pahit Dikhianati AS

Tiba di Pakistan, Tim Perunding Iran Ingatkan Pengalaman Pahit Dikhianati AS

News | Sabtu, 11 April 2026 | 09:49 WIB

Tentara Israel Klaim Temukan Buku Mein Kampf Saat Cari Prajurit yang Tewas di Lebanon

Tentara Israel Klaim Temukan Buku Mein Kampf Saat Cari Prajurit yang Tewas di Lebanon

News | Jum'at, 10 April 2026 | 19:28 WIB

Militer Israel Kian Brutal di Lebanon, Panglima IDF Cuekin Sinyal Damai Netanyahu

Militer Israel Kian Brutal di Lebanon, Panglima IDF Cuekin Sinyal Damai Netanyahu

News | Jum'at, 10 April 2026 | 19:04 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×