- Perundingan 21 jam antara AS dan Iran di Pakistan berakhir buntu karena Teheran menolak tuntutan untuk menghentikan program nuklirnya.
- Gagal di meja perundingan, Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz dan mengirim pihak yang menyerang kapal AS ke neraka.
- Garda Revolusi Iran merespons dengan peringatan keras bahwa setiap langkah salah musuh akan menciptakan "pusaran maut" dan menganggap kehadiran kapal militer sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, juga angkat bicara, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman apa pun.
Jika Anda menguji kemauan kami, kami akan memberi Anda pelajaran besar. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz berada di bawah kendali kami, tegas Qalibaf.
Ia menambahkan, "Jika Anda melawan, kami akan melawan; jika Anda datang dengan cara yang rasional, kami akan merespons secara rasional."
Ketegangan ini menunjukkan bahwa tekanan militer AS selama 38 hari, di mana lebih dari 13.000 target diserang, gagal memaksa Iran untuk mundur.
Kementerian Luar Negeri Iran juga menegaskan kembali tekad mereka untuk mempertahankan program nuklir sebagai hak kedaulatan negara.
Dengan Selat Hormuz menjadi pusat krisis, para ahli diberitahu bahwa konflik yang lebih besar dapat mengguncang pasar energi global, mengingat rute ini mengirimkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Menurut analisis The New York Times, kegagalan ini menyisakan dua opsi berbahaya bagi AS: memasuki proses negosiasi panjang yang bisa memakan waktu bertahun-tahun, atau kemungkinan konflik berskala besar.