Bukan Sekadar Melintas, Pesawat Militer AS Dikhawatirkan 'Scanning' Data Rahasia Indonesia

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 14 April 2026 | 16:28 WIB
Bukan Sekadar Melintas, Pesawat Militer AS Dikhawatirkan 'Scanning' Data Rahasia Indonesia
Ilustrasi pesawat militer AS. [Dok. af.mil /]
baca 10 detik
  • Pakar UMY Ratih Herningtyas mengkritik wacana pemberian izin masuk pesawat militer Amerika Serikat ke wilayah udara Indonesia.
  • Kebijakan tersebut dinilai mengancam kedaulatan negara serta berisiko disalahgunakan untuk kepentingan intelijen dan pemindaian data strategis Indonesia.
  • Pemerintah disarankan mengevaluasi kapasitas militer nasional daripada memberikan akses wilayah udara yang berisiko bagi keamanan negara tersebut.

Suara.com - Wacana pemberian izin bagi pesawat militer Amerika Serikat untuk bebas keluar masuk wilayah udara Indonesia memicu kekhawatiran serius terkait kedaulatan negara.

Kebijakan ini dinilai sangat krusial sebab menyangkut prinsip kebebasan navigasi dan penghormatan terhadap wilayah teritorial Indonesia.

Pakar Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ratih Herningtyas, menyayangkan jika pemerintah benar-benar memberikan hak istimewa tersebut kepada kekuatan militer asing.

Ia menegaskan bahwa wilayah udara merupakan bagian integral dari kedaulatan yang harus dijaga ketat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan intelijen.

"Itu jelas-jelas pelanggaran terhadap prinsip kebebasan navigasi terkait dengan kedaulatan wilayah udara kita dan tentu ini isu yang sangat krusial, kalau itu memang benar dilakukan, ini berbahaya," kata Ratih kepada Suara.com, Selasa (14/4/2026).

Belum lagi tentang potensi penggunaan teknologi radar canggih pada pesawat militer yang melintas.

Meskipun secara formal hanya melintas, pesawat-pesawat tersebut dikhawatirkan memiliki kemampuan untuk melakukan pemindaian atau scanning terhadap potensi strategis dan data rahasia yang dimiliki Indonesia.

"Kita tidak pernah bisa memastikan kejujuran dari pemerintah Amerika melalui kekuatan militernya yang melintas di wilayah Indonesia," ujarnya.

Ia pun membandingkan kekhawatiran ini dengan kasus-kasus masa lalu.

baca juga

Mulai dari masuknya pesawat latihan militer AS tanpa izin yang tertangkap radar, serta kritik terhadap kerja sama eksplorasi laut di masa lalu.

Hal ini semakin mengkhawatirkan ketika kemudian kapasitas Indonesia dalam mendeteksi pergerakan udara yang luas masih memiliki keterbatasan.

"Terlalu riskan karena wilayah udara kita juga luas dan juga kapasitas kita untuk bisa mendeteksi pergerakan itu juga bisa jadi masih terbatas. Sehingga sebisa mungkin sebenarnya hal-hal yang seperti itu bisa dihindari," tuturnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah video dirinya menari di tengah memanasnya perang dengan Iran viral di media sosial. [Fox 7]
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. [Fox 7]

Lebih lanjut Ratih mempertanyakan keuntungan konkret yang didapat Indonesia di balik pemberian semacam hak istimewa tersebut.

Ia menyoroti posisi tawar Indonesia yang cenderung terlihat inferior dalam setiap negosiasi dengan pihak AS belakangan ini.

"Pertanyaannya malah sebenarnya apa sih yang kita dapatkan dengan memberikan special privilege seperti itu. Deal apa sebenarnya yang kita peroleh? Kalau selama ini, ketika kita negosiasi dengan Amerika kok tampaknya kita jadi lebih inferior," tuturnya.

Di tengah situasi global yang tidak menentu, Ratih meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali kapasitas militer nasional dalam melindungi kedaulatan secara mandiri.

Hal ini dianggap lebih mendesak daripada memberikan konsesi wilayah udara yang berisiko tinggi bagi keamanan nasional.

"Satu-satunya cara untuk bertahan atau untuk melindungi negara itu kan dengan siap dengan kapasitas diri sendiri. Ya tentu saja Indonesia harus mengevaluasi kapasitas militer kita itu sejauh mana untuk bisa mempersenjatai diri mengamankan dan memberikan perlindungan kepada wilayah kedaulatan Indonesia," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Israel - Lebanon Akan Berunding, Tapi Anak Buah Donald Trump Mau Nimbrung

Israel - Lebanon Akan Berunding, Tapi Anak Buah Donald Trump Mau Nimbrung

News | Selasa, 14 April 2026 | 14:11 WIB

Bagaimana Cara Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz?

Bagaimana Cara Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz?

News | Selasa, 14 April 2026 | 13:29 WIB

Kenapa Amerika Serikat Pakai Nama Menteri Perang, Bukan Menteri Pertahanan?

Kenapa Amerika Serikat Pakai Nama Menteri Perang, Bukan Menteri Pertahanan?

News | Selasa, 14 April 2026 | 12:52 WIB

Benarkah Langit RI akan Dibuka untuk Pesawat Tempur AS? Kemhan Tegaskan Perjanjian Belum Final

Benarkah Langit RI akan Dibuka untuk Pesawat Tempur AS? Kemhan Tegaskan Perjanjian Belum Final

News | Selasa, 14 April 2026 | 12:42 WIB

Terkini

Pasukan GP Ansor Siap Tindak yang Ganggu Muktamar Ke-35 NU Jombang

Pasukan GP Ansor Siap Tindak yang Ganggu Muktamar Ke-35 NU Jombang

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:50 WIB

Kudeta Niger Gagal, Pasukan Pemerintah Melumpuhkan Penyerang Pangkalan Niamey

Kudeta Niger Gagal, Pasukan Pemerintah Melumpuhkan Penyerang Pangkalan Niamey

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:02 WIB

Boni Hargens Soroti Pengangkatan Kapolri sebagai Anggota Kehormatan KSBSI: Bukan Sekadar Seremonial

Boni Hargens Soroti Pengangkatan Kapolri sebagai Anggota Kehormatan KSBSI: Bukan Sekadar Seremonial

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:01 WIB

Bukan Ex-Officio! Romli Atmasasmita Tegaskan Status Listyo Sigit di KSBSI Hanya Bentuk Apresiasi

Bukan Ex-Officio! Romli Atmasasmita Tegaskan Status Listyo Sigit di KSBSI Hanya Bentuk Apresiasi

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Apa Itu Sistem AHWA? Cara Baru Pilih Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-35 Tahun 2026

Apa Itu Sistem AHWA? Cara Baru Pilih Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-35 Tahun 2026

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:19 WIB

Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon

Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon

Jatim | Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:33 WIB

Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok

Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:18 WIB

Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi

Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:08 WIB

Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata

Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata

Your Say | Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan

Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:16 WIB

×