-
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin mengambil alih penuh komando keamanan Muktamar ke-35 NU.
-
Ansor mengultimatum tindakan tegas bagi pihak perusuh demi menjaga kelancaran musyawarah para kiai.
-
Pengetatan keamanan di Pesantren Tambakberas Jombang ditujukan untuk menjamin kekhusyukan jalannya forum tertinggi NU.
Suara.com - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengambil langkah drastis dengan memegang kendali penuh atas komando keamanan Muktamar NU ke-35 Nahdlatul Ulama. Langkah ofensif ini menjadi jaminan mutlak agar seluruh forum musyawarah tertinggi warga Nahdliyin bebas dari ancaman sabotase pihak luar.
Penyatuan komando keamanan di bawah pucuk pimpinan Ansor menghadirkan peta kekuatan baru untuk memperketat sterilisasi arena permusyawaratan di Jombang. Kebijakan ini sekaligus memotong potensi bahaya dari kelompok yang berniat merusak ketenangan para kiai dan utusan daerah.
Langkah tegas pengambilalihan jalur pengamanan ini menempatkan perlindungan jajaran ulama sepuh sebagai prioritas utama seluruh jajaran pimpinan pusat. Penjagaan ketat kini berfokus penuh melintasi seluruh sudut Pondok Pesantren Tambakberas guna mensterilkan lokasi dari oknum berbahaya.
![Ketua Umum GP Ansor, Addin Jauharuddin. [Dok ansor.web.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/05/29/90100-ketua-umum-gp-ansor-addin-jauharuddin.jpg)
“Saya ambil alih, kendali keamanan dalam Muktamar. Mari jaga maruah organisasi. Di sini, di tanah yang kita injak, mengalir darah kealiman para Muassis. Jangan kotori dengan tindakan destruktif. Ayo, bersama-sama kita jaga akar kita,” ujar Ketua Umum GP Ansor Addin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Seluruh jajaran benteng pengamanan kini berjaga intensif demi menjamin rangkaian musyawarah berjalan mulus sesuai jadwal baku hingga momen penutupan. Penetapan garis batas sterilisasi dilakukan secara ketat demi memblokir manuver pihak-pihak penunggang kepentingan luar.
“Saya memastikan seluruh proses rangkaian agenda Muktamar akan berjalan sesuai dengan rencana panitia hingga nanti besok penutupan,” kata Koordinator Keamanan Muktamar ke-35 NU tersebut.
Garda pemuda NU melayangkan peringatan keras serta mengancam akan mengeksekusi penindakan terukur terhadap siapa saja penyusup yang memicu kegaduhan. Pengerahan kekuatan penuh ini berfokus memulihkan serta mengamankan stabilitas suasana di seputar lokasi pesantren.
“Ini adalah forum tertinggi kita, forum mulia kita, forum untuk kita galang silaturahmi demi memperkuat NU di masa depan,” ujarnya.
Optimalisasi seluruh elemen personel keamanan kepanitiaan terus ditingkatkan demi melapisi benteng pengawalan di setiap titik rawan. Skema barikade ekstra diterjunkan langsung untuk menyekat akses masuk dari pihak tanpa identitas resmi.
Ketua umum GP Ansor menegaskan tanggung jawab moralnya untuk mengawal kedamaian para kyai dan seluruh utusan pengurus cabang hingga luar negeri. Rasa nyaman para tokoh ulama menjadi indikator utama keberhasilan penugasan pengamanan sepanjang perhelatan berdasar instruksi komando.
“Maka jangan ada yang mengganggu sekali lagi. Biarkan para ulama, para kiai kita dari berbagai daerah merumuskan yang terbaik untuk organisasi dan warga,” kata dia.
Latar belakang pengetatan pengamanan ini berakar pada dinamika penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang bertempat di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut menghimpun jajaran pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga Pengurus Cabang Istimewa Luar Negeri (PCINU).
Sebagai situs bersejarah lahirnya para pendiri organisasi, area arena Muktamar dipandang wajib steril dari segala bentuk gesekan atau potensi gangguan destruktif. Oleh karena itu, pengambilalihan tongkat komando keamanan oleh GP Ansor menjadi benteng utama dalam menjaga kekhusyukan perumusan keputusan-keputusan strategis NU.