-
Amerika Serikat memulai blokade militer di Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran gagal.
-
China mengecam keras tindakan tersebut karena dianggap membahayakan stabilitas keamanan dan ekonomi internasional.
-
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang membawa 20 juta barel minyak setiap harinya.
Suara.com - Kebijakan sepihak Amerika Serikat menutup akses maritim di kawasan Timur Tengah memicu reaksi diplomatik keras dari pemerintah China.
Langkah militer ini dianggap sebagai pemicu baru yang bisa menghancurkan stabilitas keamanan internasional di jalur perdagangan energi paling vital.
Dikutip dari FOX, Ketegangan mencapai titik didih setelah Washington mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk mengisolasi pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran secara total.

Dunia internasional kini menyoroti potensi lonjakan harga komoditas akibat terganggunya arus distribusi logistik di perairan sempit tersebut.
Keputusan blokade ini muncul secara mendadak tak lama setelah dialog perdamaian yang diupayakan sebelumnya dinyatakan gagal total.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keberatan mendalam atas aksi pamer kekuatan yang dilakukan oleh militer Amerika.
"Dengan perjanjian gencatan senjata sementara yang masih berlaku, Amerika Serikat meningkatkan pengerahan militer dan melakukan blokade terarah. Hal ini hanya akan memperburuk konfrontasi, meningkatkan ketegangan, merusak gencatan senjata yang sudah rapuh dan semakin membahayakan jalur aman melalui Selat Hormuz," ujar Guo.
Beliau juga secara tegas menyebutkan bahwa strategi yang diambil oleh Gedung Putih merupakan sebuah kesalahan fatal dalam peta diplomasi global.
"Ini adalah langkah yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab," tegas Guo Jiakun dalam keterangan resminya.
Pihak Beijing mendesak agar semua pihak kembali pada meja perundingan guna menghindari perang terbuka yang lebih besar di kawasan.
Visi Perdamaian Melalui Gencatan Senjata
Pemerintah China meyakini bahwa penghentian kontak senjata secara menyeluruh adalah satu-satunya solusi yang masuk akal saat ini.
"China percaya bahwa hanya gencatan senjata penuh yang secara fundamental dapat menciptakan kondisi untuk meredakan situasi. Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk menghormati perjanjian gencatan senjata, tetap berpegang pada arah pembicaraan damai dan mengambil tindakan nyata untuk meredakan situasi sehingga lalu lintas normal melalui Selat akan dapat berlanjut sesegera mungkin," tambahnya.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat tetap pada pendiriannya bahwa tekanan maksimal adalah metode terbaik menghadapi Teheran.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, memberikan pembelaan terkait efektivitas strategi penutupan jalur laut yang mereka lakukan.