-
Amerika Serikat memulai blokade militer di Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran gagal.
-
China mengecam keras tindakan tersebut karena dianggap membahayakan stabilitas keamanan dan ekonomi internasional.
-
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang membawa 20 juta barel minyak setiap harinya.
"Keputusasaan Iran untuk sebuah kesepakatan hanya meningkat dengan blokade angkatan laut Presiden Trump yang sangat efektif yang sedang berlaku," kata Wales kepada Fox News Digital.
Pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa langkah ini bertujuan untuk melindungi kebebasan navigasi bagi negara-negara sekutunya.
"Presiden berhak mengamankan Selat Hormuz untuk memastikan kebebasan navigasi bagi semua kapal yang bepergian ke pelabuhan non-Iran, mengakhiri pemerasan Iran terhadap dunia, dan memberikan tekanan pada ekonomi Iran yang runtuh saat kapal tanker besar yang indah menuju ke Teluk Amerika," jelas Wales.
Washington juga menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi pengembangan kekuatan militer strategis yang dianggap mengancam keamanan mereka.
"Presiden Trump dan tim negosiasinya telah memperjelas garis merah Amerika Serikat – dan tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," pungkas Wales.
Namun, pengumuman dari Komando Pusat Amerika Serikat di lapangan menunjukkan instruksi yang jauh lebih keras bagi para pelaut.
Risiko Keamanan Jalur Perdagangan Dunia
Dalam nota peringatan resminya, militer Amerika Serikat mengancam akan mengambil tindakan fisik terhadap kapal yang melanggar aturan mereka.
"Setiap kapal yang memasuki atau meninggalkan area yang diblokade tanpa izin akan dikenakan pencegatan, pengalihan, dan penangkapan," bunyi catatan dari Komando Pusat AS tersebut.
Ancaman ini secara langsung menempatkan kapal-kapal komersial internasional dalam risiko keamanan yang sangat tinggi saat melintasi wilayah konflik.
Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi bagi pasokan energi global yang tidak memiliki alternatif jalur pengganti yang sebanding.
Setiap harinya, terdapat sekitar 20 juta barel minyak mentah yang melintasi jalur sempit di antara Oman dan Iran ini.
Selain minyak, wilayah ini juga menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan gas alam cair atau LNG untuk kebutuhan dunia.
Iran sendiri tidak tinggal diam dan telah mengeluarkan pernyataan balasan yang sangat keras terhadap tindakan militer Amerika tersebut.
Teheran mengutuk blokade tersebut sebagai tindakan "perompakan" dan telah bersumpah untuk memberikan respons dengan kekuatan fisik.