Blokade Selat Hormuz Oleh Amerika Serikat Picu Protes China, Dinilai Memperburuk Krisis Timur Tengah

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 15 April 2026 | 11:44 WIB
Blokade Selat Hormuz Oleh Amerika Serikat Picu Protes China, Dinilai Memperburuk Krisis Timur Tengah
Selat Hormuz (FOX)
baca 10 detik
  • Amerika Serikat memulai blokade militer di Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran gagal.

  • China mengecam keras tindakan tersebut karena dianggap membahayakan stabilitas keamanan dan ekonomi internasional.

  • Selat Hormuz merupakan jalur vital yang membawa 20 juta barel minyak setiap harinya.

Suara.com - Kebijakan sepihak Amerika Serikat menutup akses maritim di kawasan Timur Tengah memicu reaksi diplomatik keras dari pemerintah China.

Langkah militer ini dianggap sebagai pemicu baru yang bisa menghancurkan stabilitas keamanan internasional di jalur perdagangan energi paling vital.

Dikutip dari FOX, Ketegangan mencapai titik didih setelah Washington mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk mengisolasi pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran secara total.

Kapal Pertamina Pride tertahan di Selat Hormuz (Pertamina.com)
Kapal Pertamina Pride tertahan di Selat Hormuz (Pertamina.com)

Dunia internasional kini menyoroti potensi lonjakan harga komoditas akibat terganggunya arus distribusi logistik di perairan sempit tersebut.

Keputusan blokade ini muncul secara mendadak tak lama setelah dialog perdamaian yang diupayakan sebelumnya dinyatakan gagal total.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keberatan mendalam atas aksi pamer kekuatan yang dilakukan oleh militer Amerika.

"Dengan perjanjian gencatan senjata sementara yang masih berlaku, Amerika Serikat meningkatkan pengerahan militer dan melakukan blokade terarah. Hal ini hanya akan memperburuk konfrontasi, meningkatkan ketegangan, merusak gencatan senjata yang sudah rapuh dan semakin membahayakan jalur aman melalui Selat Hormuz," ujar Guo.

Beliau juga secara tegas menyebutkan bahwa strategi yang diambil oleh Gedung Putih merupakan sebuah kesalahan fatal dalam peta diplomasi global.

"Ini adalah langkah yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab," tegas Guo Jiakun dalam keterangan resminya.

baca juga

Pihak Beijing mendesak agar semua pihak kembali pada meja perundingan guna menghindari perang terbuka yang lebih besar di kawasan.

Visi Perdamaian Melalui Gencatan Senjata

Pemerintah China meyakini bahwa penghentian kontak senjata secara menyeluruh adalah satu-satunya solusi yang masuk akal saat ini.

"China percaya bahwa hanya gencatan senjata penuh yang secara fundamental dapat menciptakan kondisi untuk meredakan situasi. Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk menghormati perjanjian gencatan senjata, tetap berpegang pada arah pembicaraan damai dan mengambil tindakan nyata untuk meredakan situasi sehingga lalu lintas normal melalui Selat akan dapat berlanjut sesegera mungkin," tambahnya.

Di sisi lain, pihak Amerika Serikat tetap pada pendiriannya bahwa tekanan maksimal adalah metode terbaik menghadapi Teheran.

Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, memberikan pembelaan terkait efektivitas strategi penutupan jalur laut yang mereka lakukan.

"Keputusasaan Iran untuk sebuah kesepakatan hanya meningkat dengan blokade angkatan laut Presiden Trump yang sangat efektif yang sedang berlaku," kata Wales kepada Fox News Digital.

Pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa langkah ini bertujuan untuk melindungi kebebasan navigasi bagi negara-negara sekutunya.

"Presiden berhak mengamankan Selat Hormuz untuk memastikan kebebasan navigasi bagi semua kapal yang bepergian ke pelabuhan non-Iran, mengakhiri pemerasan Iran terhadap dunia, dan memberikan tekanan pada ekonomi Iran yang runtuh saat kapal tanker besar yang indah menuju ke Teluk Amerika," jelas Wales.

Washington juga menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi pengembangan kekuatan militer strategis yang dianggap mengancam keamanan mereka.

"Presiden Trump dan tim negosiasinya telah memperjelas garis merah Amerika Serikat – dan tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," pungkas Wales.

Namun, pengumuman dari Komando Pusat Amerika Serikat di lapangan menunjukkan instruksi yang jauh lebih keras bagi para pelaut.

Risiko Keamanan Jalur Perdagangan Dunia

Dalam nota peringatan resminya, militer Amerika Serikat mengancam akan mengambil tindakan fisik terhadap kapal yang melanggar aturan mereka.

"Setiap kapal yang memasuki atau meninggalkan area yang diblokade tanpa izin akan dikenakan pencegatan, pengalihan, dan penangkapan," bunyi catatan dari Komando Pusat AS tersebut.

Ancaman ini secara langsung menempatkan kapal-kapal komersial internasional dalam risiko keamanan yang sangat tinggi saat melintasi wilayah konflik.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi bagi pasokan energi global yang tidak memiliki alternatif jalur pengganti yang sebanding.

Setiap harinya, terdapat sekitar 20 juta barel minyak mentah yang melintasi jalur sempit di antara Oman dan Iran ini.

Selain minyak, wilayah ini juga menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan gas alam cair atau LNG untuk kebutuhan dunia.

Iran sendiri tidak tinggal diam dan telah mengeluarkan pernyataan balasan yang sangat keras terhadap tindakan militer Amerika tersebut.

Teheran mengutuk blokade tersebut sebagai tindakan "perompakan" dan telah bersumpah untuk memberikan respons dengan kekuatan fisik.

Situasi ini mengancam berakhirnya masa gencatan senjata yang selama ini menjaga stabilitas terbatas di kawasan Teluk.

Jika eskalasi terus meningkat, dunia harus bersiap menghadapi krisis pasokan energi yang bisa memicu inflasi global secara masif.

Blokade di Selat Hormuz ini dipicu oleh kegagalan kesepakatan damai antara pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dengan pihak Iran pada akhir pekan lalu.

Selat ini merupakan titik sumbat (chokepoint) energi paling kritis di dunia karena letak geografisnya yang sempit namun menjadi jalur utama distribusi minyak dari Teluk Arab ke pasar global.

Ketegangan ini merupakan puncak dari perselisihan panjang mengenai program nuklir dan pengaruh geopolitik di Timur Tengah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan

36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan

News | Rabu, 15 April 2026 | 11:08 WIB

Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran

Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran

News | Rabu, 15 April 2026 | 10:52 WIB

Harga Minyak Turun Makin Dalam, Kabar Gencatan Senjata AS-Iran Menguat

Harga Minyak Turun Makin Dalam, Kabar Gencatan Senjata AS-Iran Menguat

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 10:37 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×