- IAEA melaporkan peningkatan signifikan aktivitas nuklir di fasilitas Yongbyon, Korea Utara, yang terdeteksi pada Rabu, 15 April lalu.
- Peningkatan operasional reaktor dan unit pemrosesan tersebut memperkuat kapasitas Korea Utara dalam memproduksi bahan bakar senjata nuklir.
- Perkembangan ini memperumit diplomasi internasional karena Pyongyang menegaskan akan terus melanjutkan program pengembangan senjata nuklir mereka secara mandiri.
Suara.com - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan adanya peningkatan signifikan kemampuan Korea Utara dalam memproduksi senjata nuklir.
Temuan terbaru ini memperkuat kekhawatiran global atas eskalasi program nuklir Pyongyang.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyebut aktivitas di fasilitas nuklir Yongbyon Nuclear Scientific Research Center meningkat tajam.
“Kami mengonfirmasi adanya peningkatan cepat dalam operasi reaktor Yongbyon,” ujarnya dalam konferensi pers di Seoul, Rabu (15/4) seperti dilansir dari Aljazeera.
Selain reaktor utama, IAEA juga mencatat peningkatan aktivitas di unit pemrosesan ulang dan reaktor air ringan.
Aktivitas tersebut menunjukkan penguatan kapasitas produksi bahan bakar nuklir yang menjadi komponen utama hulu ledak.
![Ilmuwan dibalik nuklir Korut. [Mirror]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/09/06/77044-ilmuwan-dibalik-nuklir-korut.jpg)
“Semua ini mengarah pada peningkatan sangat serius dalam kemampuan Korea Utara memproduksi senjata nuklir,” kata Grossi.
Grossi memperkirakan negara tersebut kini memiliki puluhan hulu ledak nuklir.
Korea Utara, yang melakukan uji coba nuklir pertamanya pada 2006, diketahui mengoperasikan sejumlah fasilitas pengayaan uranium.
Korea Utara juga telah menutup akses bagi inspektur IAEA sejak 2009.
IAEA turut mendeteksi pembangunan fasilitas baru yang diduga memiliki fungsi serupa dengan fasilitas pengayaan di Yongbyon.
Meski belum bisa diverifikasi langsung, indikasi eksternal menunjukkan kapasitas produksi nuklir Korea Utara terus meningkat.
Di tengah ketegangan global, Pyongyang menegaskan tidak akan pernah menyerahkan program senjata nuklirnya.
Pernyataan ini semakin memperumit upaya diplomasi internasional untuk menekan ambisi nuklir negara tersebut.
Sementara itu, spekulasi soal kemungkinan dukungan Rusia terhadap program nuklir Korea Utara belum dapat dikonfirmasi.