- LBH Tani Nusantara melaporkan pakar hukum Feri Amsari ke Polda Metro Jaya pada Jumat, 17 April 2026 lalu.
- Laporan tersebut terkait dugaan penyebaran hoaks dan penghasutan akibat pernyataan Feri mengenai kebohongan program swasembada pangan pemerintah.
- Pelapor menilai pernyataan Feri memicu keresahan dan berpotensi memicu perpecahan antara petani serta pedagang di seluruh Indonesia.
“Kebetulan saya berada di Jakarta dan saya berkonsultasi dengan kawan-kawan, kita kan binaan dari Tani Merdeka Indonesia. Saya pikir kita perlu memberikan satu gerakan ya untuk bisa meredam semua ini. Kami berharap memang saudara Feri Amsari bisa membuktikan apa yang dia nyatakan," tuturnya.
Dedi juga mengaku siap menjadi saksi korban dalam laporan tersebut. Secara tegas, ia menyatakan keberatan atas pernyataan Feri yang dinilai meresahkan.
"Nah, kalau seandainya memang kita swasembada, apa persoalan yang memang menjadi narasi yang dibangun oleh seorang Feri Amsari? Apakah ingin memberikan suatu kegaduhan atau apa gitu?” ucapnya.
“Dan kalau memang data dia punya data dan didebatable, ya silakan. Nah ini kita minta untuk bisa dibuktikan. Ya minimal beliau minta maaflah sama masyarakat petani Indonesia," imbuh Dedi.
Sementara itu, hingga saat ini Feri Amsari belum bisa memberikan keterangan terkait laporan terhadap dirinya. Saat dihubungi, Feri mengaku sedang melakukan kegiatan diskusi.
"Masih diskusi," singkat Feri lewat pesan WhatsApp.
Feri Amsari sebelumnya menilai bahwa narasi swasembada pangan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan ilusi.
Ia mengatakan bahwa jika Indonesia bisa swasembada pangan, pemerintah harus memberikan data soal impor beras yang sebelumnya mencapai 5,4 juta ton tiba-tiba menjadi nol pada tahun 2026.
Secara logika ekonomi dan pertanian, swasembada bisa dicapai bila ada penambahan luas sawah secara signifikan.
- Mengapa Prabowo Membeli Minyak Rusia?
Baca Juga
“Kalau publik berprasangka baik Indonesia (bisa) swasembada pangan, pemerintah harus menjawab data terlebih dahulu. Kenapa tahun 2004-2005 Indonesia masih impor beras 5,4 juta ton, tiba-tiba pada 2026 jadi nol (tidak impor)?” kata Feri dalam acara “Sebelum Pengamat Ditertibkan” di Jakarta, Selasa (31/3/2026).