Nutri-Level di Kemasan Makanan: Apa Saja yang Perlu Diketahui Sebelum Memilih?

Vania Rossa, Lilis Varwati

Jum'at, 17 April 2026 | 15:37 WIB
Nutri-Level di Kemasan Makanan: Apa Saja yang Perlu Diketahui Sebelum Memilih?
Ilustrasi Nutri-Level di Kemasan Makanan. (Suara.com)
baca 10 detik
  • Kemenkes dan BPOM meluncurkan label Nutri-Level pada kemasan makanan untuk mengedukasi masyarakat terkait kandungan gula, garam, dan lemak.
  • Kebijakan ini bertujuan menekan angka penyakit kronis seperti jantung dan stroke yang membebani sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia.
  • Penerapan label Nutri-Level saat ini masih bersifat sukarela dengan insentif kemudahan perizinan bagi industri yang bersedia mengadopsinya.

Suara.com - Pemerintah mulai memperkenalkan cara baru membaca kesehatan makanan dan minuman lewat label sederhana di bagian depan kemasan. Melalui kebijakan pencantuman Nutri-Level, masyarakat kini bisa langsung mengetahui kadar gula, garam, dan lemak (GGL) hanya dari kode huruf A sampai D dengan warna tertentu.

Kebijakan yang diumumkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan ini menjadi langkah awal mendorong pola konsumsi yang lebih sehat di tengah meningkatnya kasus penyakit kronis di Indonesia.

Label Sederhana untuk Lawan Penyakit Kronis

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar urusan label, melainkan bagian dari upaya menekan penyakit katastropik yang terus meningkat.

“Gula, garam, lemak ini adalah penyebab penyakit yang kematiannya tinggi dan juga biayanya tinggi,” ujar Budi.

Ia menjelaskan, konsumsi berlebihan GGL berkontribusi besar terhadap penyakit seperti jantung, stroke, hingga gagal ginjal. Penyakit-penyakit ini tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga membebani sistem pembiayaan kesehatan negara.

Lewat Nutri-Level, masyarakat diharapkan bisa lebih sadar saat memilih produk. Label ini membagi produk ke dalam empat kategori:

  • A (hijau tua): sangat sehat
  • B (hijau muda): sehat
  • C (kuning): perlu dikonsumsi bijak
  • D (merah): perlu dibatasi

Penilaian ini didasarkan pada kadar gula, garam, dan lemak dalam produk, sehingga konsumen tak perlu lagi membaca tabel gizi yang rumit.

“Ini sifatnya lebih ke edukasi masyarakat. Jadi masyarakat diarahkan bisa melihat kalau mau beli, mana yang lebih sehat,” kata Budi.

baca juga
Infografis Nutri-Level di Kemasan Makanan, (Suara.com/Rochmat)
Infografis Nutri-Level di Kemasan Makanan, (Suara.com/Rochmat)

Masih Sukarela, Industri Sempat Khawatir Soal Biaya

Meski sudah diperkenalkan, kebijakan ini belum bersifat wajib. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut, pemerintah masih memberi ruang transisi bagi pelaku industri.

“Kita belum sampai pada tahap mandatori, mengharuskan. Harus tahapannya adalah edukasi dulu,” ujarnya.

Proses penyusunan kebijakan ini pun tidak singkat. BPOM mengaku telah melakukan uji publik selama 1,5 tahun sebelum akhirnya merevisi aturan pelabelan gizi.

Menurut Taruna, lamanya proses bukan karena penolakan, melainkan kekhawatiran industri, terutama terkait biaya perubahan kemasan.

“Bukan penolakan sebetulnya, tapi kekhawatiran. Karena kan mengubah kemasan itu butuh biaya,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah memilih pendekatan bertahap dengan melibatkan pelaku usaha dan lembaga konsumen agar kebijakan bisa diterima semua pihak.

Dalam prosesnya, ia memastikan telah melibatkan organisasi gabungan pengusaha produsen makanan serta lembaga perlindungan konsumen. Menurutnya, lamanya penentuan hasil kebijakan itu lebih karena aspek kehati-hatian.

Insentif untuk Industri, Label Sehat Bisa Dongkrak Daya Saing

Di balik kebijakan ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menyiapkan sejumlah insentif bagi pelaku industri yang lebih dulu mencantumkan Nutri-Level pada produknya.

Taruna menyebut, pelaku usaha yang mengadopsi label ini berpotensi mendapatkan kemudahan dalam proses perizinan hingga nilai tambah di mata konsumen.

“Reward-nya pertama tentu perizinannya bisa lebih cepat. Reward yang lain tentu dia akan mendapat semacam stempel bahwa makanannya makanan yang lebih sehat,” ujarnya.

Menurut dia, label tersebut pada akhirnya bisa menjadi faktor pembeda di pasar, karena konsumen cenderung memilih produk yang dinilai lebih sehat.

“Endingnya kan orang lebih ingin memilih,” katanya.

Selain itu, BPOM juga membuka peluang pemberian berbagai insentif lain bagi industri yang berpartisipasi, termasuk kemudahan dalam proses pengajuan (apply) produk.

“Jadi ada beberapa kemudahan-kemudahan termasuk aspek apply yang dia lakukan untuk kita berikan insentif-insentif,” ucap Taruna.

Dan soal pencantuman Nutri-Level yang saat ini masih bersifat sukarela dan belum diwajibkan oleh pemerintah, menurut Taruna, pendekatan ini dipilih agar industri memiliki waktu beradaptasi sekaligus membangun kesadaran, sebelum kebijakan diterapkan secara lebih luas di masa mendatang.

Pada akhirnya, kehadiran Nutri-Level bukan sekadar soal label di kemasan, melainkan langkah awal membentuk kebiasaan baru dalam memilih makanan. Dengan informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami, konsumen punya kendali lebih besar atas apa yang mereka konsumsi setiap hari. Meski masih bersifat sukarela, kebijakan ini membuka jalan menuju ekosistem pangan yang lebih transparan, di mana pilihan yang lebih sehat tidak lagi terasa rumit, tetapi menjadi keputusan yang sadar dan terinformasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari

Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari

Your Say | Kamis, 16 April 2026 | 18:15 WIB

Arti Warna 4 Level Nutrisi Minuman Tinggi Gula, Garam, dan Lemak: Ini Cara Bacanya!

Arti Warna 4 Level Nutrisi Minuman Tinggi Gula, Garam, dan Lemak: Ini Cara Bacanya!

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 12:37 WIB

BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan

BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan

News | Rabu, 15 April 2026 | 09:04 WIB

Terkini

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bali | Sabtu, 12 September 2026 | 12:24 WIB

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:20 WIB

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 12:15 WIB

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Sulsel | Sabtu, 12 September 2026 | 12:04 WIB

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Health | Sabtu, 12 September 2026 | 12:02 WIB

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:00 WIB

×