- Mantan pejabat AS, Daniel Benaim, mengakui negaranya sangat jauh tertinggal dari tujuan awal perang karena gagal melucuti rudal dan menggulingkan rezim Iran.
- Tokoh senior Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menolak keras negosiasi ala Donald Trump yang dianggap sebagai sarana pemaksaan untuk menyerahkan kedaulatan negara.
- Pakar Harvard mengungkap bahwa agresi AS justru menguras biaya dua miliar dolar per hari, angka yang jauh lebih mencekik dibanding dampak kerugian blokade atas Iran.
Iran Menolak Tawaran Donald Trump
Merespons tekanan bertubi-tubi tersebut, pemerintah Iran secara resmi menyatakan penolakan mutlak untuk berunding dengan pihak Amerika Serikat selama arogansi intimidasi militer terus berlangsung.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan peringatan keras bahwa Teheran tidak akan pernah membiarkan martabat bangsanya diinjak-injak melalui mekanisme perundingan yang diskriminatif.
"Donald Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi 'meja penyerahan'," tegas Qalibaf melalui pernyataan resminya di media sosial X.
Tokoh senior tersebut bahkan mengancam bahwa militer Iran telah menyusun kekuatan dan bersiap untuk menunjukkan kartu-kartu baru di medan tempur dalam dua minggu terakhir.
Hambatan utama untuk melanjutkan proses diplomatik global ini juga dipicu oleh rentetan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan secara curang oleh kubu militer Amerika Serikat.
Beban Finansial AS Jauh Lebih Mencekik
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah memastikan bahwa negaranya selalu memperhitungkan seluruh aspek secara matang sebelum mengambil manuver mematikan di lapangan.
Di saat bangsa Persia menunjukkan sikap tak gentar, Donald Trump justru masih berhalusinasi dengan mengeklaim bahwa sanksi AS sukses merugikan ekonomi Teheran hingga 500 juta dolar per hari.
"Blokade, yang tidak akan kami cabut sampai ada kesepakatan," tulis Trump di platform Truth Social sembari melempar isyarat tuntutan pergantian rezim di Iran.
Namun, klaim kesuksesan sepihak Trump tersebut dibantah keras oleh Linda Bilmes, seorang pakar kebijakan publik ternama dari Kennedy School of Government Universitas Harvard.
Analisis Bilmes justru memperkirakan bahwa biaya operasional Amerika Serikat untuk mendanai peperangan ini menyentuh angka dua miliar dolar setiap harinya, jauh melampaui kerugian ekonomi yang ditanggung Iran.
Latar Belakang Konflik Panjang AS dan Iran
Ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat berakar kuat pada sengketa hak berdaulat atas program nuklir serta pergeseran hegemoni geopolitik di wilayah Asia Barat.
Hubungan diplomatik kedua negara runtuh seketika semenjak Washington secara sewenang-wenang menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015 dan kembali menerapkan sanksi ekonomi secara ilegal.