AS Dinilai Tak Realistis Soal Nuklir, Perdamaian dengan Iran Sulit Terwujud

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 21 April 2026 | 12:12 WIB
AS Dinilai Tak Realistis Soal Nuklir, Perdamaian dengan Iran Sulit Terwujud
Ilustrasi Kapal Perang AS [AFP]
baca 10 detik
  • Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium yang memicu kebuntuan diplomatik dalam konflik nuklir jangka panjang.
  • Iran bersikeras bahwa pengayaan uranium adalah hak sah untuk kepentingan damai sesuai keanggotaan dalam Non-Proliferation Treaty.
  • Pengamat menilai tuntutan Amerika Serikat yang tidak realistis menghambat perdamaian dan berpotensi mendorong Iran mengembangkan senjata nuklir.

Suara.com - Upaya perdamaian jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terancam belum akan terwujud dalam waktu dekat. Hal ini akibat tuntutan yang dianggap tidak realistis dadi AS terkait program nuklir Teheran.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono, menyatakan bahwa fokus AS selama ini ada pada kebijakan zero enrichment atau pengayaan uranium nol persen. Namun bagi Iran itu adalah jalan buntu bagi diplomasi.

"Semua perundingan perdamaian dimaksudkan oleh Amerika untuk mencapai tujuan yang oleh Amerika, (bahkan) sebelumnya dilakukan dengan militer, itu meminta Iran untuk berhenti mengayakan uranium dan menyerahkan uranium yang sudah diperkayanya ke Amerika. Itu hal yang bagi Iran tidak mungkin dilakukan," ungkap Muhadi, saat dihubungi Suara.com, Selasa (21/4/2026).

Persoalan nuklir ini menjadi inti dari konflik panjang kedua negara. Iran bersikeras bahwa sebagai anggota Non-Proliferation Treaty (NPT) atau Non-Proliferasi Nuklir, mereka memiliki hak sah untuk mengembangkan teknologi nuklir.

Tujuannya untuk kepentingan damai, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Jika Iran tidak boleh sama sekali melakukan pengayaan maka sama dengan penghentian total teknologi nuklir yang ada.

"Kita butuh melakukan pengayaan supaya uranium itu bisa dipakai gitu lho karena uranium itu tidak ada di alam. Jadi material itu harus dikayakan dulu baru kemudian bisa digunakan," ujarnya.

Persoalan teknis yang kemudian muncul, kata Muhadi, yakni ketika kadar pengayaan untuk pembangkit tenaga listrik itu mencapai 60 persen. Pasalnya dengan tambahan sedikit saja, kadar pengayaan itu bisa digunakan untuk senjata nuklir.

Menurutnya AS perlu secara jelas menekankan apa yang diinginkan terhadap Iran.

Ia menyebut Teheran masih bisa mempertimbangkan jika Washington menginginkan zero nuclear weapons. Namun jika zero enrichment yang dikehendaki AS, maka upaya perdamaian akan menemui jalan buntu.

baca juga

"Kalau yang diinginkan itu zero enrichment lupakan itu perdamaian, Iran tidak akan mau," tegasnya.

Tuntutan AS agar Iran tidak melakukan pengayaan selama 20 tahun dianggap Muhadi sebagai upaya untuk menghambat kemajuan teknologi Iran. Padahal, Iran sempat memberikan penawaran kompromi dengan membatasi pengayaan selama tiga tahun, namun ditolak oleh pihak Washington.

Kondisi ini diperparah dengan sikap AS yang sebelumnya mundur dari kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah mekanisme multilateral yang sebenarnya berfungsi mengawasi aktivitas nuklir Iran.

"Ketika Iran kemudian tidak boleh melakukan pengayaan sama sekali berarti itu membunuh Iran," imbuhnya.

Lebih lanjut, Muhadi menyoroti adanya standar ganda yang dipraktikkan oleh AS dalam isu nuklir. Saat AS dinilai sangat keras menekan Iran, namun di sisi lain cenderung menutup mata terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Israel yang bahkan tidak tergabung dalam NPT.

Tekanan yang terus-menerus ini justru dikhawatirkan akan mendorong Iran untuk menjadikan nuklir sebagai instrumen pertahanan wajib, bukan lagi pilihan.

"Kalau situasinya seperti ini bagi Iran nuklir bukan lagi sebuah pilihan itu adalah kewajiban keharusan... Nah kalau dia sudah berpikir begitu lebih rumit lagi," ucapnya.

Gencatan senjata, tambah Muhadi, memang masih berpotensi untuk diperpanjang. Namun untuk menghasilkan perdamaian jangka panjang itu hal yang berbeda.

"Gencatan senjata mungkin akan diperpanjang karena itu memenuhi kepentingan kedua belah pihak tetapi seberapa jauh gencatan senjata meskipun diperpanjang itu akan menghasilkan perdamaian itu yang masih tanda tanya besar," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

China Kecam AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Peringatkan Risikonya

China Kecam AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Peringatkan Risikonya

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:11 WIB

The Strokes Telanjangi Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran

The Strokes Telanjangi Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:41 WIB

Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini

Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:31 WIB

Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir 22 April, Begini Analisis Pakar Hubungan Internasional

Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir 22 April, Begini Analisis Pakar Hubungan Internasional

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:27 WIB

11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang

11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:27 WIB

Pengamat Sebut Amerika Serikat 'Kalah' di Perang Iran: Kas Negara Boncos, Tujuan Tak Tercapai

Pengamat Sebut Amerika Serikat 'Kalah' di Perang Iran: Kas Negara Boncos, Tujuan Tak Tercapai

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:16 WIB

Menghitung Efek Domino Perang Iran: Keuangan Rumah Tangga, Harga BBM hingga Cicilan KPR

Menghitung Efek Domino Perang Iran: Keuangan Rumah Tangga, Harga BBM hingga Cicilan KPR

News | Selasa, 21 April 2026 | 11:08 WIB

Terkini

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:52 WIB

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47 WIB

Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri

Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:45 WIB

JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah

JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:45 WIB

Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot

Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:42 WIB

BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek

BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek

Jakarta | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:41 WIB

Ketika Sensasi Berburu Hadiah Instan Jadi Daya Tarik Baru Konsumen

Ketika Sensasi Berburu Hadiah Instan Jadi Daya Tarik Baru Konsumen

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39 WIB

Sasar Hotel Hingga Kosan, Pemkab Bogor Wajibkan Pemilik Laporkan Indikasi Penyimpangan Seksual

Sasar Hotel Hingga Kosan, Pemkab Bogor Wajibkan Pemilik Laporkan Indikasi Penyimpangan Seksual

Bogor | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:36 WIB

BBRI Jadi Pilihan JPMorgan, Valuasi Murah dan Dividen Atraktif

BBRI Jadi Pilihan JPMorgan, Valuasi Murah dan Dividen Atraktif

Malang | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:35 WIB

JPMorgan: BBRI Layak Overweight, Kualitas Aset Terus Membaik

JPMorgan: BBRI Layak Overweight, Kualitas Aset Terus Membaik

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:31 WIB

×