-
Investigasi besar-besaran mengungkap 67.000 toko kue hantu ilegal yang beroperasi di platform digital.
-
Pemerintah China menjatuhkan denda rekor 3,6 miliar yuan akibat pelanggaran keamanan pangan masif.
-
Skandal ini mengungkap praktik perang harga brutal yang merugikan produsen dan konsumen sekaligus.
Suara.com - Satu aduan konsumen mengenai pesanan kue ulang tahun yang mengecewakan di Beijing menjadi pintu masuk pembongkaran skandal besar.
Otoritas pasar China menemukan ribuan vendor makanan "hantu" yang beroperasi secara ilegal di berbagai platform pengiriman daring lewat ojek online.
Dikutip dasri CNN, praktik culas ini melibatkan penggunaan izin usaha palsu dan ketiadaan toko fisik yang nyata di lapangan.
![Ilustrasi kue ulang tahun. [ChatGPT]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/30/20786-kue-ulang-tahun.jpg)
Pemerintah Beijing merespons temuan ini dengan menggelar investigasi nasional secara besar-besaran selama sepuluh bulan terakhir.
Hasilnya sangat mengejutkan karena terdapat jaringan pasok bayangan yang mengeksploitasi sistem pemesanan demi keuntungan sepihak.
Dalam sistem ini, merchant utama menerima pesanan mahal namun melemparnya kembali ke platform perantara untuk dilelang.
Pemenang lelang biasanya adalah produsen dengan harga terendah sehingga standar keamanan pangan seringkali diabaikan sepenuhnya.
Xinhua melaporkan ada lebih dari 67.000 vendor fiktif yang telah menjual jutaan kue kepada masyarakat tanpa pengawasan.
Besaran denda yang dijatuhkan mencapai 3,6 miliar yuan atau sekitar Rp7,8 triliun sebagai sanksi terberat sejak 2015.
“Ini sama sekali bukan pelanggaran kecil, melainkan bentuk aktivitas ilegal baru—yang telah terindustrialisasi dan berskala besar,” kata Han Bing, pejabat Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar, kepada Xinhua.
Drama Perlawanan Terhadap Petugas Investigasi
Proses hukum ini diwarnai aksi dramatis seperti upaya penghancuran bukti dengan cara menelan catatan kertas.
Pihak keamanan di salah satu perusahaan besar bahkan sempat menyerang petugas penegak hukum secara fisik saat penggeledahan.
Terdapat pula insiden eksekutif yang berpura-pura pingsan demi menghindari interogasi meskipun tim medis menyatakan mereka sehat.
Sikap tidak kooperatif ini menyebabkan raksasa e-commerce seperti PDD dijatuhi denda tunggal paling besar mencapai 1,5 miliar yuan.
Perang harga ekstrem atau yang dikenal sebagai istilah 'involution' dianggap sebagai akar dari kehancuran margin industri makanan.
Harian Ekonomi milik pemerintah menyebutkan bahwa persaingan tidak sehat memaksa pengusaha mengorbankan kualitas demi volume penjualan.
Analis S&P Global Ratings, Flora Chang, menilai intervensi pemerintah mulai menunjukkan hasil dalam meredam kompetisi yang merusak.
Ia menyatakan bahwa denda besar ini memberikan jalan bagi platform untuk beralih fokus pada persaingan kualitas produk.
Meskipun demikian, jalan menuju pemulihan profitabilitas yang sehat di sektor pengiriman makanan masih memerlukan waktu lama.
Beberapa raksasa teknologi seperti Alibaba dan Meituan kini telah menyatakan komitmen untuk memperbaiki tata kelola kepatuhan mereka.
Krisis ini berawal dari fenomena neijuan di China, di mana persaingan bisnis menjadi sangat brutal hingga memaksa perusahaan melakukan efisiensi yang tidak masuk akal.
Di sektor kuliner, hal ini memicu munculnya makelar pesanan yang memotong komisi sangat besar sehingga baker asli hanya menerima sisa keuntungan yang sangat kecil.
Pemerintah China kini memperketat pengawasan digital untuk memastikan keamanan pangan tidak dikorbankan demi mengejar harga murah di aplikasi belanja.