Rumitnya Hidup Warga Iran saat Perang: Ngumpet di Kamar Mandi Hingga Berburu Obat Anti Kecemasan

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 24 April 2026 | 09:30 WIB
Rumitnya Hidup Warga Iran saat Perang: Ngumpet di Kamar Mandi Hingga Berburu Obat Anti Kecemasan
Konflik bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran telah menciptakan paradoks emosional yang menghancurkan mentalitas penduduk sipil. (Skynews)
baca 10 detik
  • Warga Teheran mengalami trauma ganda akibat agresi militer asing dan tekanan rezim domestik.

  • Kelangkaan obat penenang dan lonjakan harga pangan memicu krisis kemanusiaan di ibu kota Iran.

  • Gencatan senjata dianggap sangat rapuh sementara kelompok disabilitas rentan kehilangan sumber bantuan dana.

Suara.com - Perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran telah menciptakan paradoks emosional yang menghancurkan mentalitas penduduk sipil.

Meskipun otoritas tertinggi telah tumbang, masyarakat kini menghadapi kecemasan ganda antara trauma ledakan dan ketidakpastian masa depan.

Dikutip dari Skynews, banyak warga kini berjuang bertahan hidup di tengah kelangkaan kebutuhan pokok dan obat-obatan medis yang harganya melonjak drastis.

Warga Iran memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei. [Khamenei News]
Warga Iran memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei. [Khamenei News]

Kondisi ini diperparah dengan suasana kota yang mencekam meskipun secara formal sedang berada dalam masa gencatan senjata.

Rasa benci terhadap pemerintah lokal kini bersinggungan dengan ketakutan akan hancurnya kedaulatan negara oleh kekuatan militer asing.

"Saya perlu menggunakan pil saya (tetapi) obat-obatan dan pil di Iran sangat, sangat mahal saat ini dan itu menunjukkan sebagian besar orang berpikir persis seperti saya."

Ilustrasi warga Iran rayakan Lebaran 2026 [BBC]
Ilustrasi warga Iran rayakan Lebaran 2026 [BBC]

"Anda tidak dapat menemukan fluoxetine, Asentra, citalopram, dan obat-obatan (anti-kecemasan) lainnya di apotek. Itulah sebabnya saya pikir kebanyakan orang berada dalam situasi saya."

Masyarakat Teheran terpaksa menyimpan ketakutan mereka secara mandiri karena kontrol informasi yang sangat ketat dari pemerintah.

Hukum setempat bahkan mengkategorikan pembicaraan mengenai dampak pengeboman sebagai tindakan kriminal yang bisa berujung pidana.

baca juga

Hal ini menciptakan tekanan psikologis luar biasa bagi jutaan orang yang menyaksikan kehancuran bangunan di sekitar mereka.

Kehancuran Simbol Kekuasaan dan Memori Kelam

"Dari balkon saya di Teheran, saya melihat mereka mengebom rumah (pemimpin tertinggi) Ali Khamenei. Saya, yah, senang ketika dia meninggal karena dia membunuh begitu banyak dari kita selama kepemimpinannya. Saya berharap dia melihat putra-putranya meninggal karena dia telah membunuh begitu banyak putra orang lain."

"Saya pikir mereka harus berhenti (pemboman) karena begitu banyak orang yang meninggal. Kami tidak ingin mereka menghancurkan lebih banyak tempat. Tapi kemudian mereka mengebom gedung pengadilan tempat mereka menangkap saya. Itu adalah tempat di mana mereka memberi tahu ibu saya, 'kami ingin mengeksekusi putri Anda'."

"Saya sedang mengemudi ketika mengetahui bahwa tempat itu telah dibom. Bangunan itu hancur total dan semua orang di dalamnya tewas. Saya berhenti di jalan raya dan menangis sangat keras karena semua kenangan saya sebagai orang berusia 25 tahun, sebagai orang berusia 30 tahun."

Perasaan lega atas hancurnya institusi yang menindas mereka bercampur aduk dengan duka mendalam atas kehilangan identitas kota.

Interaksi sosial di ruang publik kini dipenuhi oleh rasa curiga dan kebencian antar kelompok masyarakat yang berbeda pandangan.

"Saya melihat ke langit dengan cara yang berbeda, dan saya hanya melihat orang-orang, dan mereka tertawa dan berjalan satu sama lain. Bagi saya, tawa ini berarti, 'Saya masih hidup' dan 'Saya masih di sini'."

"Teheran sangat mengerikan selama 40 hari itu. Mereka mengebom di mana-mana tetapi kami tidak bisa membicarakan perang atau pengeboman di Teheran. Kami harus menyimpannya di dalam. Pemerintah Iran menjadikannya sebagai (pelanggaran) pidana."

"Kebanyakan orang sangat khawatir tentang masa depan. Jika Anda ingin buktinya, pergilah ke mal besar, hipermarket, toko-toko di kota. Orang-orang berbelanja barang-barang penting, seperti beras."

"Tidak ada yang lebih penting bagi sebuah keluarga selain beras, dan mereka melakukannya karena mereka pikir itu akan terjadi lagi."

Ketakutan akan kembalinya pesawat pengebom memicu aksi borong bahan pangan sebagai persiapan menghadapi situasi darurat yang lebih panjang.

Masyarakat tidak lagi mempercayai narasi kemenangan yang disiarkan oleh media-media milik pemerintah di tengah pemutusan akses internet.

Nasib Kelompok Rentan yang Terlupakan

"Mereka tidak memiliki perasaan tentang perang, tetapi karena suara-suara, ledakan-ledakan, mereka tidak bisa mengendalikan diri. Mereka tidak bisa buang air kecil. Mereka hanya berteriak, mereka bersembunyi, (dan) mereka telah melukai diri mereka sendiri."

"Mereka memiliki masalah yang sangat serius, masalah uang, karena sebagian besar orang yang membantu telah melarikan diri dari Teheran. Segalanya sangat mahal dan orang-orang berpikir bahwa keluarga mereka harus didahulukan, dan orang lain menyusul kemudian."

Fasilitas rehabilitasi bagi anak-anak dan orang dewasa dengan disabilitas kini berada di ambang kolaps karena terhentinya aliran donasi.

Para dermawan yang biasanya menyokong kehidupan mereka kini lebih memilih menyelamatkan diri atau fokus pada kebutuhan domestik sendiri.

Kondisi ini menciptakan lapisan penderitaan baru bagi mereka yang tidak memiliki suara dalam percaturan politik internasional.

Konflik ini memuncak setelah koalisi militer pimpinan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye serangan udara selama 40 hari di wilayah Iran.

Operasi tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei serta sejumlah pejabat teras, namun meninggalkan luka mendalam bagi 10 juta penduduk Teheran.

Saat ini, gencatan senjata selama dua minggu yang diprakarsai Presiden Trump sedang berlangsung, meskipun situasi di lapangan tetap tegang dan tidak pasti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tragis! Bayi Kembar Jadi Korban Kekejaman Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina

Tragis! Bayi Kembar Jadi Korban Kekejaman Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina

News | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB

Mengenal Amal Khalil, Jurnalis Pemberani yang Dibunuh Israel di Lebanon

Mengenal Amal Khalil, Jurnalis Pemberani yang Dibunuh Israel di Lebanon

News | Jum'at, 24 April 2026 | 08:18 WIB

Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina

Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina

News | Jum'at, 24 April 2026 | 07:57 WIB

Terkini

Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo

Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo

Your Say | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:15 WIB

4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik

4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik

Tekno | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:05 WIB

Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen

Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen

Surakarta | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:03 WIB

Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun

Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:02 WIB

BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo

BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:00 WIB

Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan

Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:56 WIB

Konten Video Pendek dan Live Streaming Bikin Bisnis UMKM Melejit hingga 135%

Konten Video Pendek dan Live Streaming Bikin Bisnis UMKM Melejit hingga 135%

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:52 WIB

BNI Jelaskan Inisiatif Orang Tua Percepat Aktivasi PIP

BNI Jelaskan Inisiatif Orang Tua Percepat Aktivasi PIP

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:51 WIB

Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga

Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga

Your Say | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:40 WIB

Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel

Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel

Sumsel | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:38 WIB

×