Dari sisi metodologi, Profesor Nathan Mayne, menjelaskan bahwa pendekatan dalam penelitian ini mengadaptasi teknik pemodelan yang biasa digunakan untuk memahami atmosfer planet lain. Teknik tersebut diaplikasikan untuk menangkap fenomena cuaca ekstrem di Bumi, baik dalam kondisi standar maupun skenario ekstrem seperti konflik nuklir.
"Mulai dari badai debu di seluruh planet Mars, hingga angin berkecepatan kilometer per detik di atmosfer planet raksasa gas yang sangat panas, adaptasi kita menghasilkan peningkatan dalam cara kita menangkap fenomena iklim dan cuaca untuk Bumi itu sendiri, baik dalam situasi 'normal' maupun, dalam kasus ini, situasi ekstrem," jelasnya.