-
Praka Rico Pramudia gugur akibat luka serius dari serangan tank Merkava milik militer Israel.
-
Indonesia mendesak PBB melakukan investigasi transparan dan menuntut pertanggungjawaban atas serangan di Lebanon.
-
Almarhum merupakan prajurit TNI AD yang berdedikasi tinggi dalam menjalankan misi perdamaian dunia.
Suara.com - Tragedi kemanusiaan melanda pasukan perdamaian dunia setelah prajurit TNI Praka Rico Pramudia dinyatakan gugur di Lebanon.
Luka fatal akibat serangan senjata berat militer Israel menjadi penyebab utama meninggalnya personel pasukan perdamaian ini.
Pemerintah Indonesia bereaksi keras dengan menuntut pengusutan tuntas atas insiden berdarah yang menimpa warga negaranya tersebut.
![Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) menghadiri penghormatan kepada jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) setibanya di VIP Room Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). [ANTARA FOTO/Fauzan/mrh/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/05/17639-pelepasan-jenazah-tiga-prajurit-tni-gugur-di-lebanon-pasukan-unifil-prabowo-subianto.jpg)
Kematian Rico menambah daftar panjang risiko tinggi yang dihadapi prajurit dalam misi stabilisasi di wilayah konflik.
Dukungan internasional kini mengalir untuk menghormati pengabdian terakhir sang prajurit bagi perdamaian di tanah Lebanon.
Serangan mendadak menggunakan alat utama sistem persenjataan berat tersebut menghancurkan perlindungan di markas Adchit Al Qusayr.
Praka Rico sempat menjalani perawatan medis intensif selama hampir satu bulan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

"UNIFIL menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga dan teman-teman Kopral Pramudia serta Tentara Nasional Indonesia dan Pemerintah serta rakyat Republik Indonesia atas kehilangan yang tragis dan tak tergantikan ini," kata UNIFIL dalam pernyataan di X, Jumat (24/4/2026).
Pihak PBB mengakui dedikasi almarhum dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan yang terus bergejolak.
Kini fokus utama adalah memastikan kepulangan jenazah sang pahlawan ke pelukan keluarga di tanah air.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia segera mengambil langkah diplomatik tegas untuk merespons insiden serangan tank ini.
Pemerintah secara resmi meminta PBB melakukan tindakan nyata untuk membuktikan adanya pelanggaran dalam serangan tersebut.
"Indonesia terus mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini," tulis Kemlu.
Upaya koordinasi pemulangan jenazah terus dilakukan dengan pihak otoritas terkait agar proses berjalan dengan lancar.
Publik menanti kejelasan hasil investigasi untuk mengetahui secara pasti kronologi serangan proyektil tank Merkava itu.
Almarhum dikenal sebagai sosok religius yang sering membagikan pesan kebaikan melalui kanal media sosial pribadinya.
Prajurit berusia 31 tahun ini meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih berusia balita.
Kasih sayang Rico terhadap keluarga terlihat dari penghormatan mendalam yang selalu ia berikan kepada orang tuanya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi rekan sejawat di kesatuan TNI Angkatan Darat maupun lingkungan Persit.
Peristiwa mematikan ini bermula pada akhir Maret 2026 ketika proyektil peluru utama menghantam titik pertahanan pasukan.
"Berbagai langkah medis terbaik telah ditempuh, namun akibat luka berat yang dialami, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan," tulis Kementerian Luar Negeri RI dalam rilisnya.
Tim medis di Beirut telah berupaya maksimal menyelamatkan Rico dari luka parah akibat ledakan kaliber 120 mm.
Namun perjuangan fisik sang prajurit berakhir pada hari ke-26 masa perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Kini nama Praka Rico Pramudia akan terus dikenang sebagai martir perdamaian Indonesia di kancah internasional.
Insiden yang menimpa Praka Rico Pramudia terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
Markas UNIFIL yang seharusnya menjadi zona aman justru terkena dampak langsung dari aktivitas militer IDF Israel menggunakan tank Merkava.
Kejadian ini memicu protes diplomatik karena menyasar personel perdamaian PBB yang sedang bertugas menjaga stabilitas regional.