- Bareskrim mengungkap sindikat judi online lintas negara dengan 321 tersangka warga asing di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
- Sindikat mengoperasikan 75 situs menggunakan teknik substitusi karakter untuk menghindari sistem pemblokiran otomatis yang dilakukan oleh pemerintah.
- Penyidik perlu membongkar jaringan terstruktur ini karena mereka memanfaatkan teknologi canggih untuk terus beroperasi secara masif dan lintas negara.
Suara.com - Sindikat judi online (judol) berhasil diungkap Bareskrim di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat akhir pekan kemarin.
Mereka mengoperasikan 75 situs dari satu gedung, memanfaatkan teknologi canggih berlapis untuk menghindari pemblokiran dan mengelabui penegak hukum.
321 tersangka yang diamankan sebagian besar merupakan warga negara asing seperti Vietnam, Cina, dan Kamboja, mengindikasikan bahwa jaringan ini bukan sekadar operasi lokal, melainkan bagian dari ekosistem kejahatan siber lintas negara yang terstruktur.
Dari sudut pandang pakar keamanan siber Alfons Tanujaya, 75 situs yang dioperasikan sindikat itu bukanlah ukuran kesaktian mereka yang sesungguhnya.
"Sistem operasi di domain itu merupakan bagian dari jaringan operasi judi online, jadi 75 situs ini jangan dijadikan sebagai patokan," kata Alfons kepada Suara.com, Selasa (12/5/2026).

Situs untuk operasional judi bukan barang mewah menurut Alfons. Mereka sangat mudah mendapatkannya, bahkan dengan harga yang masih terjangkau.
"Kalau ada 75 situs, dia tinggal modal tujuh setengah juta (Rupiah). Jadi mau beli 1000 situs, bagi mereka juga nggak ada artinya gitu," kata dia.
Alfons juga mengurai cara sindikat ini meracik nama domain agar lolos dari sistem pemblokiran otomatis yang diterapkan pemerintah dengan pola sederhana.
"Mereka pakai otomatis untuk domain-domain misalnya judol atau gacor. Lalu supaya menghindari diblokir, gacor-nya G-A-C-0-R gitu lho. Judol J-U-D-0-1. Kira-kira seperti itu, mereka pakai karakter-karakter yang tidak umum," terangnya.
Taktik substitusi karakter seperti mengganti huruf "O" dengan angka "0" atau "I" dengan angka "1", bahkan merupakan teknik lama dalam dunia siber yang kini diadopsi sindikat judol untuk bertahan dari gempuran pemblokiran sistem.
Temuan di Hayam Wuruk pun memperjelas bahwa perang melawan judi online bukan sekadar soal menutup situs, melainkan membongkar jaringan operasi lintas negara yang terus bermutasi mengikuti celah teknologi yang tersedia.
Hal itu juga, yang menurut hemat Alfons, lebih tepat untuk didalami lebih jauh oleh penyidik Bareskrim hingga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) agar benang kusut perkara segera terurai.
"Yang penting adalah operasi mereka yang memang lintas negara ini. Jaringan di Hayam Wuruk ini kemungkinan besar, dilihat dari yang tertangkap, kemungkinan besar marketnya memang sesuai warga negara yang bersangkutan. Untuk berkomunikasi dengan konsumen, mereka membutuhkan orang yang bisa mengerti bahasanya," pungkas Alfons.