-
Amerika Serikat memperluas blokade maritim terhadap Iran hingga ke seluruh samudra di dunia.
-
Sebanyak 34 kapal telah dipaksa putar balik oleh militer AS demi menekan Iran.
-
Washington menuntut Iran menghentikan program nuklir secara terverifikasi sebelum mencabut status blokade maritim.
Suara.com - Amerika Serikat kini resmi memperluas jangkauan blokade maritim terhadap Iran hingga ke level global guna memutus total akses pelayaran negara tersebut.
Strategi ini melampaui pengawasan regional di Timur Tengah dengan menargetkan seluruh jalur laut internasional yang terhubung dengan dermaga Iran.
Dikutip dari Reuters, hingga Jumat pagi, kekuatan militer Washington tercatat telah memaksa sedikitnya 34 kapal untuk berbalik arah dari jalur tujuannya.
![Ilustrasi Tentara AS. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/03/26/17913-ilustrasi-tentara-as.jpg)
Langkah agresif ini menjadi sinyal kuat bahwa AS tidak akan membiarkan satu pun kapal lolos tanpa pemeriksaan ketat Angkatan Laut.
Fokus utama kebijakan ini adalah memastikan Teheran benar-benar menghentikan pengembangan teknologi senjata nuklirnya secara transparan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa pengawasan kini telah menjangkau titik-titik krusial pelayaran dunia tanpa terkecuali.
![Asap membubung di Teheran, Iran duga dari serangan rudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [X/Vahid Online]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/22/85690-asap-membubung-di-teheran-iran-duga-dari-serangan-rudal-israel-dan-amerika-serikat.jpg)
"Blokade kami semakin meluas dan menjadi global," ujarnya kepada wartawan di Washington.
Pemerintah AS memastikan tidak akan ada aktivitas pelayaran keluar dari Selat Hormuz yang luput dari pantauan radar militer mereka.
"Iran tahu bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk memilih dengan bijak di meja perundingan. Mereka hanya perlu meninggalkan ambisi senjata nuklir secara nyata dan terverifikasi," kata Hegseth.
Meskipun tekanan militer meningkat, Washington mengklaim tetap membuka pintu dialog yang direncanakan berlangsung di Pakistan dalam waktu dekat.
Komando Pusat AS kini menginstruksikan personelnya untuk mencegat kapal apa pun yang terafiliasi dengan Iran di Samudra Pasifik dan Hindia.
Tindakan ini menyasar kapal dari negara mana pun yang kedapatan melakukan transaksi logistik dengan pelabuhan-pelabuhan di wilayah Iran.
"Kami menegakkan blokade terhadap kapal dari semua negara yang berlayar ke atau dari wilayah Iran," ujar Caine.
Militer AS juga sedang melacak keberadaan kapal-kapal yang berada di luar zona blokade asli untuk segera dilakukan intersepsi jika terdeteksi melanggar.
Hegseth menambahkan bahwa pihaknya memiliki waktu yang sangat fleksibel untuk menunggu Iran menyerah pada tuntutan internasional.
Aktivitas di Selat Hormuz saat ini berada pada tingkat risiko tertinggi akibat kehadiran armada kapal cepat bersenjata milik Iran.
Washington memperingatkan Iran agar tidak melakukan sabotase jalur laut dengan memasang ranjau yang dapat memicu konflik terbuka.
Tindakan provokatif Iran dengan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi dianggap sebagai ancaman serius bagi keselamatan pelayaran sipil internasional.
Penerapan blokade ini sebenarnya telah dimulai sejak pertengahan April sebagai respons atas ketegangan diplomatik yang terus memanas.
Hingga kini, AS terus memperketat aturan main di laut internasional demi memaksa Teheran kembali ke kesepakatan damai yang kredibel.
Ketegangan ini bermula saat blokade laut resmi diberlakukan pada 13 April lalu setelah kegagalan serangkaian perundingan nuklir.
Situasi memburuk ketika Washington mendeteksi adanya indikasi penempatan ranjau laut oleh militer Iran di wilayah Selat Hormuz yang strategis.
Saat ini, dunia internasional tengah memantau potensi dialog lanjutan di Pakistan setelah upaya diplomasi pada pekan sebelumnya tidak membuahkan hasil.