- Komnas HAM mengungkap temuan koordinasi sistematis dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus di Jakarta.
- Penyelidikan menemukan 14 orang yang saling terhubung melakukan pemantauan di sekitar lokasi kejadian melalui analisis CCTV.
- Para pelaku diduga menggunakan identitas palsu dan alat komunikasi khusus untuk memitigasi pelacakan selama aksi terencana tersebut.
Suara.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) secara resmi mengungkap sejumlah temuan baru yang signifikan terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis HAM, Andrie Yunus.
Investigasi mendalam ini menunjukkan adanya pola koordinasi yang sistematis di balik serangan tersebut.
Temuan ini menjadi titik terang baru dalam upaya pengungkapan dalang dan pelaku lapangan yang terlibat dalam aksi kekerasan terhadap pembela hak asasi manusia di Indonesia.
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM RI, Saurlin P Siagian, menjelaskan bahwa temuan-temuan krusial ini tidak didapatkan secara instan.
Tim penyelidik telah melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan terhadap delapan pihak terkait.
Selain itu, penguatan bukti dilakukan melalui analisis mendalam terhadap rekaman kamera pengawas (CCTV) di berbagai titik serta pembedahan data komunikasi yang terekam di sekitar lokasi kejadian pada saat peristiwa berlangsung.
“Berdasarkan hasil analisis dan bukti-bukti berupa rekaman CCTV, hasil analisis seluler dari kepolisian, teknologi yang digunakan kepolisian untuk mengakses percakapan dari BTS (Base Transceiver Station) serta keterangan saksi, Komnas HAM menyimpulkan bahwa berdasarkan klaster analisis rekaman CCTV, setidak-tidaknya terdapat empat belas orang yang saling terhubung di sekitar kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), Jakarta Pusat,” katanya dalam konferensi pers perkembangan kasus Andrie Yunus di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Keterhubungan 14 orang tersebut diidentifikasi melalui klaster analisis rekaman CCTV yang dipadukan dengan data seluler.
Keberadaan mereka di sekitar kantor YLBHI, Jakarta Pusat, pada waktu yang berdekatan dengan kejadian memicu kecurigaan kuat mengenai adanya operasi yang terencana.
Data dari Base Transceiver Station (BTS) memperkuat indikasi bahwa komunikasi intensif terjadi di antara individu-individu tersebut saat memantau situasi di lapangan.
Selain 14 orang yang telah teridentifikasi saling terhubung tersebut, Komnas HAM juga mendeteksi keberadaan pihak lain yang mencurigakan.
Terdapat lebih dari lima orang tak dikenal yang terpantau berada di lokasi dengan aktivitas yang tidak wajar.
Penyelidikan juga mengarah pada dugaan adanya keterlibatan aktor-aktor lain yang tidak berada langsung di tempat kejadian perkara (TKP), namun berperan dalam mengatur atau memantau jalannya aksi dari jarak jauh.
Aspek lain yang menjadi sorotan tajam Komnas HAM adalah manipulasi identitas dalam komunikasi para terduga pelaku.
Ditemukan indikasi kuat penggunaan identitas palsu untuk registrasi nomor telepon seluler yang digunakan dalam operasi ini.
Nomor-nomor tersebut diketahui hanya aktif dalam waktu yang sangat singkat, yakni satu hingga dua hari sebelum penyiraman air keras dilakukan terhadap Andrie Yunus.
“Patut diduga juga para pelaku menggunakan identitas atas nama lain untuk meregistrasi nomor HP telepon selulernya, diantaranya menggunakan nama anak berusia lima tahun, ibu rumah tangga, dan lansia guna menutupi identitasnya,” kata Saurlin sebagaimana dilansir Antara.
Praktik penggunaan identitas milik anak-anak dan lansia ini dinilai sebagai upaya terstruktur untuk memutus rantai pelacakan oleh aparat penegak hukum.
Penggunaan identitas "pinjaman" ini menunjukkan bahwa para pelaku memiliki kesadaran tinggi akan teknologi pelacakan dan berusaha memitigasi risiko terdeteksi sejak tahap persiapan.
Temuan penyelidikan lebih lanjut juga berhasil memetakan pergerakan para pelaku.
Terdapat keterkaitan antara pergerakan individu-individu mencurigakan tersebut dengan sebuah lokasi spesifik yang diduga kuat menjadi titik kumpul atau titik awal aktivitas sebelum serangan dilancarkan.
Pola pergerakan ini terekam secara konsisten dalam rangkaian CCTV yang dianalisis oleh tim Komnas HAM.
Selain pemantauan pergerakan, para pelaku juga teridentifikasi membawa barang-barang yang mencurigakan.
Beberapa di antaranya terlihat membawa wadah plastik yang diduga berisi cairan kimia atau air keras, serta perangkat tertentu yang mendukung aksi mereka.
Bahkan, setelah penyiraman air keras terjadi, beberapa orang dalam kelompok tersebut diketahui masih melakukan pembuntutan atau mengikuti korban untuk memastikan dampak dari serangan tersebut.
Rangkaian fakta yang ditemukan oleh Komnas HAM ini memberikan gambaran mengenai adanya pola koordinasi yang sangat kuat dan rapi.
Skala keterlibatan personel dan penggunaan identitas palsu mengindikasikan bahwa ini bukanlah aksi kriminalitas biasa, melainkan serangan yang dipersiapkan dengan matang.
Oleh karena itu, Komnas HAM menekankan pentingnya pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, untuk menindaklanjuti bukti-bukti teknis yang telah ditemukan.
Pengungkapan secara menyeluruh terhadap kasus ini dianggap sangat mendesak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa seluruh pihak, mulai dari eksekutor lapangan hingga aktor intelektual di balik layar, dapat diidentifikasi secara terang benderang.
Langkah hukum yang tegas dan transparan diperlukan untuk memberikan keadilan bagi Andrie Yunus serta menjamin perlindungan bagi para aktivis HAM lainnya di Indonesia agar terhindar dari intimidasi dan kekerasan serupa di masa depan.