- Petani di Desa Panyingkiran, Majalengka, merasakan peningkatan kesejahteraan ekonomi akibat kenaikan harga jual gabah di masa pemerintahan Prabowo.
- Distribusi pupuk subsidi yang lebih mudah dan efisien berhasil menekan biaya operasional petani selama masa musim tanam berlangsung.
- Meskipun volume produksi padi cenderung stabil, lonjakan harga jual gabah meningkatkan margin keuntungan serta daya beli masyarakat desa.
Meskipun volume produksi padi per hektare cenderung tetap, namun margin keuntungan yang dibawa pulang oleh petani meningkat drastis karena efisiensi biaya tanam dan lonjakan harga jual gabah di pasar.
"Produksi padi hampir sama, stabil, dan rata, Pak. Tapi kalau penghasilan dari segi uang lebih banyak sekarang, karena ada peningkatan harga (gabah)," jelas Fachrudin.
Peningkatan pendapatan ini secara otomatis mengangkat daya beli masyarakat di pedesaan.
Meski saat ini dunia sedang dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global dan inflasi, para petani di Majalengka mengaku masih bisa merasakan perbaikan taraf hidup.
Fachrudin menilai jika kondisi geopolitik dunia lebih stabil, dampak kesejahteraan yang dirasakan petani bisa jauh lebih besar dari yang ada saat ini.
"Alhamdulillah lebih baik, Pak. Cuma mungkin karena ada geger perang atau gimana, sehingga ada kenaikan harga.
Kalau seandainya tidak ada perang itu pasti banyak petani yang membangun atau rehab rumah di kampung, dijamin tah," pungkasnya.