- Kecelakaan KRL dan kereta jarak jauh terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April malam.
- Sebanyak 14 korban meninggal dunia telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi.
- Tim medis RS Polri melakukan identifikasi forensik secara akurat untuk mencocokkan data korban dengan pihak keluarga.
Suara.com - Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, saat ini tengah bekerja intensif melakukan proses identifikasi terhadap korban kecelakaan maut yang melibatkan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line dengan kereta api jarak jauh.
Insiden tragis tersebut terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4) malam, dan menyisakan duka mendalam bagi dunia transportasi tanah air.
Hingga Selasa (28/4) pagi, pihak rumah sakit telah menerima kiriman kantong jenazah dari lokasi kejadian untuk diproses lebih lanjut oleh tim kedokteran forensik.
Fokus utama petugas saat ini adalah memastikan seluruh identitas korban dapat terverifikasi dengan akurat sebelum dikembalikan kepada pihak keluarga yang menunggu.
"Betul, ada 10 kantong jenazah yang kami terima di RS Polri," kata Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol. Prima Heru Yulihartono sebagaimana dilansir Antara.
Seluruh jenazah yang tiba kini berada di ruang instalasi forensik untuk menjalani serangkaian prosedur pemeriksaan medis.
Proses identifikasi ini melibatkan tim ahli guna mencocokkan berbagai data fisik yang ditemukan pada tubuh korban.
Langkah ini diambil untuk menghindari terjadinya kesalahan prosedur dalam penyerahan jenazah kepada ahli waris nantinya.
"Kantong-kantong jenazah yang kami terima sedang diidentifikasi," ujar Prima.
Berdasarkan laporan kronologi kedatangan, kantong-kantong jenazah tersebut mulai dievakuasi dari tempat kejadian perkara (TKP) dan tiba di RS Polri Kramat Jati pada Selasa dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB.
Sejak saat itu, tim medis dan petugas forensik langsung melakukan penanganan awal sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) penanganan korban kecelakaan massal.
Meskipun petugas telah bekerja sejak dini hari, proses identifikasi belum sepenuhnya rampung hingga berita ini diturunkan.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) masih terus bekerja keras melakukan pencocokan data primer dan sekunder.
Hal ini mencakup pemeriksaan data sebelum kematian (ante mortem) yang dikumpulkan dari keluarga serta data setelah kematian (post mortem) yang didapatkan dari pemeriksaan fisik jenazah.
Brigjen Pol. Prima Heru Yulihartono belum memberikan rincian lebih mendalam mengenai identitas masing-masing korban maupun jumlah pasti jenazah yang sudah berhasil dikenali secara individu.
Mengingat kondisi di lapangan dan kompleksitas pemeriksaan medis, seluruh proses identifikasi ini memang memerlukan ketelitian tinggi dan waktu yang tidak sebentar.
Pihak manajemen RS Polri Kramat Jati juga telah membuka posko informasi bagi keluarga korban.
Mereka mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya dalam insiden di Stasiun Bekasi Timur tersebut untuk segera melapor dan membawa data-data pendukung seperti kartu identitas, rekam medis gigi, atau dokumen lain yang dapat membantu proses identifikasi.
Keluarga diminta untuk tetap tenang dan menunggu hasil identifikasi resmi dari tim DVI guna memastikan akurasi data.
Di sisi lain, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperbarui data terkait jumlah total korban dalam kecelakaan hebat ini.
Berdasarkan informasi terbaru, jumlah korban meninggal dunia akibat tabrakan antara kereta Commuter Line dan kereta jarak jauh tersebut dilaporkan mengalami peningkatan dari laporan awal.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia.
Peningkatan jumlah korban tewas ini menjadi perhatian serius bagi otoritas transportasi dan kepolisian.
Seluruh korban meninggal dunia dalam insiden ini telah dievakuasi dan dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut sesuai dengan prosedur hukum dan medis yang berlaku.
Selain korban jiwa, kecelakaan ini juga mengakibatkan puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun luka berat.
Berdasarkan data terkini, tercatat sebanyak 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan dan rumah sakit terdekat di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Tim gabungan dari KNKT, kepolisian, dan internal PT KAI masih terus melakukan penyelidikan di lokasi kejadian untuk mengetahui penyebab pasti tabrakan antara KRL dan kereta jarak jauh tersebut.
Evakuasi sarana kereta yang terdampak juga terus dilakukan guna menormalisasi kembali jalur perkeretaapian di lintas Bekasi yang sempat terganggu akibat insiden ini.